Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Akhir Dari Segalanya


Sejak kejadian satu minggu yang lalu di rumah kediaman Malvin dan Lydia kini, pasangan suami istri itu terlihat semakin lengket layaknya perangko. Seperti pagi ini di saat Tara ingin pergi kuliah, Gio malah tidak mau ditinggalkan sendiri di dalam kamar.


"Libur satu hari saja, karena aku masih mau nambah lagi," celetuk Gio sambil memeluk pinggang sang istri.


"Badanku rasanya mau remuk Gio, dan bisa-bisanya kamu minta untuk nambah lagi," kata Tara yang saat ini membelakangi tubuh sang suami. "Kamu juga mau berangkat kerja, sana mandi duluan." Sekarang Tara malah menyuruh Gio untuk mandi duluan. "Sana Gio," rengek Tara sebab tangan laki-laki itu kini mulai meraba da da wanita itu.


Gio bukannya mendengar sang istri. Tapi tangan laki-laki itu malah semakin nakal, me ra ba sana meraba sini. "Panggil aku Sayang, jika tidak maka aku akan memberikanmu hukuman," bisik Gio sambil meniup telinga sang istri. "Sayang, apa kamu mendengarku?" Gio sekarang malah menaruh dagunya di pundak sang istri. "Sayang, apa kamu mendengarku?"


"Iya Sayang, ini 'kan, yang mau kamu dengar?" Tara menuruti apa yang Gio katakan. "Sekarang Sayang Gio, minggir dulu karena aku mau mandi, dan setelah itu aku mau berangkat kuliah."


Gio menggigit kecil daun telinga sang istri sambil berkata, "Ya sudah, sana nanti aku mandi belakangan saja."


"Jangan ikut, kalau kamu ikut bisa-bisa jam mandiku jadi bertambah 2 jam, dan itu bisa membuatku terlambat kuliah." Tara lalu terlihat bangun dari tidurnya. Namun, detik berikutnya Gio malah menggendong tubuh Tara.


"Asupan bergizi di pagi ini," seloroh Gio sambil terkekeh-kekeh. Dan dengan cepat membawa Tara masuk ke dalam kamar mandi. "Biar kamu kuliah semakin bersemangat," sambung Gio yang kemudian menendang pintu kamar mandi, meskipun Tara terus saja meminta untuk dilepaskan.


"Gio lepaskan aku, jangan begini."


"Hanya sebentar," timpal Gio yang lalu menutup pintu kamar mandi itu.


***


Sore menjelang di pantai.


Sebuah bola bergelinding jatuh di bawah kaki Gio, membuat laki-laki itu langsung saja membuka kacamatanya. Karena laki-laki itu merasa kalau saat ini seorang anak kecil menarik-narik celana Gio.


"Om, om ... tolong kembalikan bola Rio," ucap anak kecil itu. Sambil mendongak menatap Gio. "Om kembalikan bola Rio," kata anak kecil yang kira-kira berumuran lima tahun itu.


Rio, anak kecil itu dengan gigi yang ompong tersenyum ke arah Tara. "Terima kasih tante, cantik." Setelah mengatakan itu anak yang berusia 5 tahun itu langsung pergi begitu saja dari sana.


"Hati-hati dek, jangan lari-larian, nanti bisa jatuh!" seru Tara yang malah membayangkan kalau ia dan Gio jika mempunyai anak pasti kebahagiaan mereka akan terasa lengkap.


"Kamu mau punya anak?" pertanyaan Gio berhasil membuat senyum yang tadi terlukis di bibir tipis Tara langsung sirna. "Sayang, apa kamu mau punya anak?" Gio mengulangi pertanyaannya sekali lagi.


Tara menggeleng. "Gio, bukankah kita sudah berjanji untuk tidak membahas masalah anak lagi, lalu kenapa sekarang kamu malah membahasnya?" Kini giliran Tara yang bertanya pada sang suami.


"Aku cuma mau minta maaf Tara, kalau aku tidak bisa memberikanmu keturunan." Gio menunduk sendu setelah ia mengatakan itu. "Maafkan aku Tara," ucap Gio lirih.


"Hei, apa-apaan kamu Gio, kita bisa hidup tanpa anak. Dan jangan pernah pikirkan hal itu. Oke, aku tulus mencintai dan menyayangimu. Jadi stop katakan itu semua." Tara yang mengerti perasaan sang suami seperti apa saat ini. Merasa kalau ia harus sering-sering mengingatkan sang suami tentang masalah ini. "Kita akan mengadopsi anak Gio, dalam waktu yang dekat ini. Apa kamu setuju?"


"Apa kamu tidak keberatan, meskipun itu bukan darah daging kita?" Gio malah bertanya balik pada sang istri.


Tara mengangguk. "Aku sama sekali tidak keberatan Gio, yang penting kita bisa merasakan menjadi orang tua," jawab Tara sambil memeluk sang suami.


Gio membalas pelukan Tara sambil berkata, "Terima kasih, karena kamu sudah bersedia menerima kekuranganku ini." Gio terlihat mengecup pucuk kepala sang istri.


Dan inilah akhir dari kisah cinta Tara dan Gio. Dimana pasangan suami istri itu saling menerima kekurangan satu sama lain. Dan inilah yang disebut dengan hubungan suami istri yang sesungguhnya bisa melengkapi kekurangan pasangannya satu sama lain. Bukan malah meninggalkan hanya sebuah kekurangan itu.


...****************...


TAMAT


Terima kasih buat para pembaca tanpa kalian Author ini bukanlah siapa-siapa. Sampai jumpa di novel yang selanjutnya. Tetap pantengin terus ya karya Author Ayuza.