Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 26


Helikopter yang membawa Lorie mendarat di rooftop salah satu rumah sakit swasta Kota Venice. Ia langsung di bawa ke ruang gawat darurat untuk pemeriksaan intensif.


Denyut jantung, suhu tubuh, tekanan darah, semuanya dalam kondisi yang sangat buruk. Suhu tubuhnya tidak juga turun meski sudah diberi satu dosis lagi obat pereda panas dan anti radang. Dokter langsung melakukan CT scan seluruh tubuh dan MRI, termasuk organ dalam untuk mendeteksi kerusakan pada organ vital.


“Ada pembengkakan pada paru-paru, memar di pankreas dan jaringan otak, luka di lambung, retak dua ruas tulang rusuk kiri dan tulang kering sebelah kanan. Selain itu, ada luka fisik berupa lebam, luka bakar, dan luka sobek di sekujur tubuhnya. Kapten Lorie harus segera dioperasi, Tuan,” ujar wanita berseragam semi militer yang tadi membawa Lorie dari markas Rafael. Dia baru saja menerima laporan hasil *rontgen*.



Alex menghela napas dalam-dalam dan menyugar rambut dengan frustasi. Tampak di layar, tubuh Lorie yang terbaring di atas brankar dan didorong menuju ruang operasi. Dua orang dokter bedah mengikuti dari belakang.



“*Apa dia dapat bertahan, Linda*?” tanya Alex.



“Itu tergantung kondisi Kapten Lorie, Tuan. Dengan luka dan cedera organ sebanyak ini, kemungkinannya hanya 50 persen, tapi kami akan melakukan yang terbaik.”



“*Lakukan apa pun yang diperlukan untuk membuatnya kembali sadar*.”



“Baik. Saya akan mengabari Anda begitu operasi selesai dilakukan.”



“*Oke. Pergilah*.”


Alex mematikan sambungan video call dan menghela napas lagi. Ia lalu menekan nomor Billy dan menunggu panggilan tersambung. Sahabatnya itu langsung berangkat ke Venice untuk menangani kasus penculikan Lorie. Untunglah dia memiliki ide untuk membalas perbuatan Rafael dengan menyandera putrinya sehingga mereka bisa membebaskan Lorie, meski sedikit terlambat. Entah apa yang terjadi jika pasukannya tiba satu jam lebih lama, mungkin ia akan kehilangan salah satu orang kepercayaannya.


“Halo, Alex.”


Suara Billy yang bergaung dari speaker ponsel membuyarkan lamunan Alex.


“Billy, di mana kamu?”


“Oh, sedang bersenang-senang dengan para bedebah ini.”


“Lorie berpesan agar mereka tidak boleh mati, jadi aku hanya bersenang-senang sedikit ... membalas apa yang sudah mereka lakukan kepada saudariku.”


“Hum. Kurung mereka di markas. Blokir semua akses, atur agar tidak ada yang curiga karena pemimpin Drun Industry menghilang. Ambil alih perusahaan mereka, biarkan istri dan anaknya tinggal di rumah penampungan.”


“Itu cukup sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Kamu tenang saja, aku akan mengurusnya.”


“Aku serahkan kepadamu.” Alex terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Lorie sedang di ruang operasi, pergilah menengoknya kalau ada waktu. Kalau kondisinya sudah stabil, segera bawa kembali ke Brooklyn.”


“Baik. Jangan cemas, dokter akan merawatnya dengan baik. Begitu kondisinya lebih baik, aku akan membawanya pulang.”


“Oke. Jaga dirimu.”


“Um.”


Alex memutuskan sambungan telepon dan terpekur di atas kursi kerjanya. Sekarang ia merasa sedikit menyesal karena telah meminta Lorie untuk mengurus kerja sama dengan Drun Industry. Seharusnya ia menunggu hingga Billy bisa pergi ke sana, atau setidaknya mengirim pasukan bayangan untuk mendampingi Lorie. Ia terlalu menganggap remeh lawan, akibatnya jadi seperti ini. Jika terjadis sesuatu kepada Lorie, entah apakah ia bisa memaafkan dirinya sendiri atau tidak.


Sementara itu, di salah satu gudang terbengkalai yang berada di perbatasan pusat kota dan wilayah administrasi lain, raungan dan teriakan kesakitan yang lolos dari mulut Rafael dan anak buahnya teredam oleh tumpukan barang-barang bekas di ruang bawah tanah.


Karena putrinya yang masih berada di tangan Billy, Rafael menurut dengan patuh ketika diseret ke tempat itu. Luka di ************ dan kedua tempurung lututnya hanya diobati seadanya, mencegah agar ia tidak kehabisan darah dan mati dengan mudah. Billy melakukannya persis seperti pesan Lorie.


“Aku sudah melepaskan temanmu dan menuruti semua perkataanmu, Keparat. Sekarang bebaskan putriku,” geram Rafael seraya menahan rasa sakit yang sangat.


Billy melangkah maju dan menginjak tempurung lutut Rafael yang hanya diperban asal-asalan, membuat pria itu hampir terkencing di celana.


“Aku hanya berjanji untuk tidak membunuh putrimu, masalah bagaimana aku akan membereskannya, kamu tidak perlu khawatir,” ucap Billy dengan enteng.


“Keparat! Sialan! Aku akan membunuhmu kalau sampai berani menyentuhnya!”


“Heh ....” Billy terkekeh pelan. Ia menginjak lutut Rafael semakin keras dan berkata, “Lihat, kualifikasi apa yang kamu miliki untuk mengancamku?”


“Ba-ji-ngan ....”


“Seharusnya kamu berpikir ribuan kali sebelum memulai perang dan melukai Lorie.”


Billy melayangkan satu tamparan hingga kepala Rafael tersentak ke belakang. Darah segar mengucur dari hidungnya, tapi ia mengetatkan rahang dan menahan teriakan yang akan lolos dari mulutnya. Tiba-tiba ia merasa sedikit menyesal karena tidak mengindahkan ucapan Lorie sebelumnya.


***