
Alceena mulai ketagihan memakai kaos dan dalaman milik Dariush. Kini tubuh seksinya sudah tertutup dua helaian pakaian sang pria. Tak lupa juga masker dan topi.
Dariush dan Alceena keluar dari kamar tanpa ada yang mengetahui kedekatannya. Mereka sekarang sudah ahli untuk jalan bersama secara diam-diam.
Dariush membawa wanitanya ke sebuah restoran yang ada di Kota Munich. Tempat di mana sekretarisnya menjadwalkan pertemuan dengan Brandon Brooks.
Sepanjang perjalanan, Dariush tak melepaskan genggaman tangannnya. Dia juga terus memperhatikan mimik wajah Alceena. “Kenapa kau terlihat tegang sekali? Relax, Sayang. Hadapi dengan cantik.” Pria itu berbisik seraya mengusap paha mulus wanitanya agar tak kaku. Walaupun dirinya tahu betul jika saat ini sang pujaan hati sedang menahan amarah.
Alceena menghela napas, menyandarkan kepala di bahu kokoh Dariush. “Aku hanya kesal saja, dan tak habis pikir dengan kelakuan si Pecundang itu,” balasnya seraya memeluk dan mengelus lengan yang sangat nyaman.
“Ingat, kau tak boleh emosi. Biarkan aku yang menggantikan amarahmu. Jika kau ingin memukulnya, katakan saja. Aku yang akan melakukan untukmu.” Dariush menasehati sembari memberikan penawaran yang tak boleh ditolak.
“Bagaimana? Kalau kau sepakat, maka ku lanjutkan perjalanan menemui Brandon. Jika tidak, kita kembali lagi ke hotel,” tanya Dariush meminta persetujuan.
Namun, Alceena hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala. Bukan dia tak bisa mengeluarkan kata-kata dari bibir. Tapi, tangan Dariush sangat nakal. Menyusup masuk ke dalam kain yang menutupi kelembutannya, dan membuatnya mendesah di dalam mobil akibat ulah jemari yang maju mundur di sana.
Alceena menggigit bibir bawah saat mengingat di dalam kendaraan roda empat itu bukan hanya ada dirinya dan Dariush saja. Sekuat tenaga tak mengeluarkan suara erotis penuh kenikmatan.
“Dariu—uh—sh.” Alceena memanggil diiringi mendesah. Pikirannya ingin menarik tangan sang pria untuk berhenti membuatnya menggelinjang. Tapi nyatanya hasrat sudah terbakar.
“Ya, Sayang? Enak, bukan?” Suara Dariush mengalun lirih di telinga Alceena. Namun justru membuat wanita itu semakin merasa geli.
“Bisa hentikan tanganmu? Ada supir di depan,” pinta Alceena.
“Tidak, Tuan.” Supir tersebut menjawab dengan lantang dan pandangan tetap ke depan. Dia memang diharuskan untuk mengabaikan jika majikannya berbuat sesuatu yang senonoh di dalam sana. Toh bayaran juga setimpal dengan apa yang dirinya lakukan.
“Dengar, dia tak melihat atau mendengar apa pun. Jadi, tak perlu malu.” Dariush mempercepat ritme tangannya. Dia suka melihat ekspresi Alceena yang tengah merasakan nikmat.
“Kau, curang.” Alceena menjambak rambut Dariush kala hasrat mulai tak terkendali. Dan dia mendapatkan titik puncak pertama.
Dariush baru menarik tangannya saat Alceena lemas. Dia sengaja membuat wanitanya seperti itu agar sang pujaan hati tak memasang wajah kaku seperti tadi.
“Lain kali kita bisa mencoba bercinta di dalam sini,” bisik Dariush memberikan penawaran yang berakhir mendapatkan cubitan kecil di bibir.
“Kau gila, tidak waras. Ada tempat yang lebih normal, kau justru mengajak di lokasi yang bisa dilihat banyak orang,” omel Alceena seraya mencubit kecil paha Dariush. Pasti nanti akan meninggalkan bekas.
“Yang menantang justru lebih seru,” kilah Dariush. Dia membawa Alceena ke dalam dekapannya agar berhenti mencubit.
...*****...
...Dariush edan wkwkwk dasar anaknya Davis...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...