My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 222 S2


Setelah mengetahui hasil keseluruhan dari kesehatan pasca kecelakaan, Dariush memohon pada Daddy Davis untuk diizinkan rawat jalan saja. Sudah tiga hari ini dia tak bertemu sang istri karena Alceena memang sengaja dijauhkan terlebih dahulu sampai kondisinya ada kejelasan. Ternyata tak ada cidera yang serius, memar di perut juga tak sampai merusak organ dalam. Hanya tangan kiri saja yang tak bisa leluasa bergerak.


“Oke, kita pulang sekarang.” Akhirnya Daddy Davis mau juga menuruti permintaan Dariush.


“Yes ....” Dariush tentu saja langsung gembira. Dia bosan sekali berada di rumah sakit. Walaupun masuk ke dalam kelas kalangan atas yang fasilitas kamar seperti hotel, tapi tetap saja tak nyaman.


Daddy Davis mengemasi barang bawaan Dariush. Pria yang satu tangan sedang di gips itu hanya mengamati pergerakan sang orang tua saja.


“Dad, kapan kau sakit? Nanti aku akan ganti merawatmu,” celetuk Dariush.


Langsung mendapatkan pelototan dari Daddy Davis. “Maksudmu? Kau menginginkan aku sakit? Kurang ajar sekali jadi anak!” Dariush diomeli oleh pria berwajah tegas itu.


“Tidak, Dad, aku akan membalas budi semua kasih sayang yang sudah kau berikan padaku sampai sekarang.” Dariush meluruskan ucapannya sebelum mendapat geplakan.


“Memangnya kau pikir Daddy ini siapa sampai kau mau balas budi? Kalau mau merawat ya jangan sampai menunggu sakit, cukup kalian selalu menengok dan menemaniku di masa tua,” balas Daddy Davis seraya menarik ritsleting koper.


“Permintaan yang sangat mudah dipenuhi.” Dengan tangan kanan, Dariush menarik pegangan koper, dia yang membawa barang-barang. Kasian juga Daddy Davis melakukan semua saat ditinggal kembarannya mengurus pekerjaan ke luar negeri.


Dua pria beda generasi itu masuk ke dalam mobil, langsung menuju ke mansion Dominique di mana Alceena berada.


“Tolong koperku!” titah Dariush pada salah satu pelayan yang menyambut dirinya setelah turun dari mobil.


“Baik, Tuan.”


Namun, tiba-tiba wajah Alceena berubah mengerut pada bagian kening, kaki juga perlahan terayun mendekati Dariush. “Tanganmu kenapa?” tanyanya seraya menunjuk bagian tubuh yang dimaksud.


“Kurang ciuman,” kelakar Dariush diiringi kekehan kecil seraya mengacak-acak rambut sang istri.


Bibir Alceena semakin manyun saja saat ditanya serius tapi dibalas dengan bercanda. “Aku serius, Sayang, jawab yang jujur!” omelnya. Dia berdiri di samping kanan Dariush dan merengkuh pinggul suami kecintaannya.


“Hanya patah tulang dan jari retak saja, tidak perlu khawatir karena masih ada tangan kanan yang siap membuatmu kegelian,” jelas Dariush. Tangan kanan yang tak sakit pun digunakan untuk mengusap lembut surai pirang milik sang istri yang acak-acakan. Entah mengapa dirinya memang suka kalau Alceena seperti rambut singa dibandingkan rapi layaknya seorang primadona.


“Ck, ck, ck, bayar kontrakan kalau mau bermesraan di sini.” Daddy Davis yang melihat sang anak langsung lengket sekali dengan menantunya pun mengeluarkan sebuah sindirian yang condong ke arah menggoda.


“Bilang saja iri, Dad.” Dariush menjulurkan lidah mengejek orang tuanya yang menatap ke arahnya.


Daddy Davis menaikkan sebelah sudut bibir. “Aku sudah puas bermesraan dengan Mommymu sampai membuahkan empat anak, kau satu saja belum keluar juga.”


Dariush mengajak Alceena duduk di sofa yang berhadapan dengan Daddy Davis. Dia semakin memamerkan kemesraan di depan orang tuanya dengan tidur berbantal paha istri. “Bilang saja sudah tak sabar ingin menggendong cucu dari aku.” Setelah berucap, dia mengelus perut buncit Alceena dan mencium penuh kerinduan.


...*****...


... Rindu tengok anakmu? Emangnya anumu gak ikutan patah juga? Coba dicek dulu, siapa tau gak bisa bangun lagi wkwkwk *mode cemburu*...