
Dariush segera menghubungi nomor Daddy Davis setelah ponsel dihidupkan. Walaupun dia sudah pasti akan mendapatkan omelan karena pergi mendadak tanpa mengajukan cuti terlebih dahulu, tapi biarlah, nanti juga orang tuanya akan menyusul dan menjemput paksa kalau memang sudah dalam kondisi mendesak.
Anak Tuan Dominique yang kedua itu menunggu panggilan diangkat, tapi tak kunjung mendengar suara apa pun kecuali nada sambung. Sampai Dariush harus mengulangi lagi tiga kali. Barulah ada seseorang yang menyahut.
“Apa?”
Dariush langsung mendengar suara yang sangat dia kenal. “Kenapa kau yang mengangkat? Daddy mana?” Ternyata suara Delavar, bukan Tuan penguasa bisnis di Eropa.
“Toilet,” beri tahu Delavar yang saat ini sedang istirahat jeda rapat capaian dan progres seluruh anak perusahaan Triple D Corp yang mencapai lebih dari lima puluh dan tersebar diberbagai negara wilayah Eropa. Sampai sudah hampir satu minggu pun belum selesai, wajar saja karena dalam satu hari tak mungkin cukup mengevaluasi kinerja semua lini usaha yang dimiliki.
“Oh, coba kau susul Daddy, aku butuh bantuannya,” pinta Dariush.
“Untuk apa? Meminta saran gaya yang cocok untuk dilakukan dengan wanita hamil?” tebak Delavar secara asal.
“Ck! Pikiranmu ranjang terus!”
“Memangnya apa lagi yang akan dilakukan oleh sepasang pria dan wanita yang saling cinta?”
“Cinta, cinta! Tebakanmu salah! Gara-gara aku mengikuti idemu untuk mengungkap pendonor inseminasi Alceena, sekarang justru dia mendiamkan aku. Bukannya membuat hubungan semakin dekat, justru tambah jauh.” Dariush mengomeli kembarannya, kalau saja Delavar ada di dekatnya, pasti sudah mendapatkan geplakan. “Dasar sesat!” umpatnya kemudian.
Dan Delavar membalas dengan suara tawa renyah, seolah dia terhibur kalau Dariush sedang kewalahan. “Sepertinya kau terkena karma karena pergi begitu saja saat rapat, dan belum mendapatkan izin dari Daddy.” Dia justru semakin mengejek.
Membuat Dariush berdecak. “Bukannya membantu, kau malah tertawa di atas penderitaanku. Awas saja, ku ganggu saat ingin bercinta dengan istrimu,” ancamnya. “Siap-siap menjadi pelayanku selama enam bulan, karena kau sudah salah menebak,” imbuhnya mengingatkan.
“Memangnya kau masih mau mendengar ideku lagi?” goda Delavar dengan suara yang masih terdengar sedikit cekikikan.
“Hei bocah tengil, kenapa kau menelepon menggunakan ponselku?” Pucuk dicinta ulam pun tiba, Daddy Davis yang sejak tadi ditunggu oleh Dariush pun akhirnya datang dan langsung mengambil alih smartphone yang dibawa oleh Delavar.
“Anakmu sedang patah hati,” ungkap Delavar.
Daddy Davis menempelkan layar ke daun telinganya. “Kau patah hati sungguhan atau pura-pura agar tak ku marahi karena pergi mendadak?” Suara tegas pria berusia lebih dari enam puluh tahun itu langsung bertanya pada Dariush.
“Sungguhan, Dad. Sekarang aku butuh bantuanmu, mengomelnya nanti saja kalau aku pulang ke Helsinki, sudah ku utus wakil direktur untuk menggantikan rapat juga.”
Daddy Davis sampai berdecak dan bergeleng kepala menghadapi tingkah anak-anaknya saat menyangkut percintaan yang semuanya tak beres. Mulai Danesh yang menghamili dua wanita, Delavar yang menyukai wanita depresi akibat dihamili orang tak dikenal, Deavenny yang mencintai sepupu dekat, dan sekarang Dariush pun juga tak beres. Sepertinya hanya percintaan Tuan Dominique saja yang mulus dan sesuai rencana walaupun dilakukan dengan cara yang licik. “Bantuan apa yang kau inginkan?”
Dariush pun menceritakan semua kejadian yang dia alami sampai detik terakhir dirinya masih di diamkan. “Aku ingin meminta saranmu, apa yang harus aku lakukan agar Alceena memaafkan?”
“Mudah, biasanya wanita akan khawatir saat melihat pasangannya terluka atau dalam kondisi yang tidak baik. Coba saja kau terjun dari puncak Alpen atau minum racun.”
“Daddy mengharapkan aku mati?” protes Dariush.
“Ck! Ya tidak sungguhan, kecuali kau sudah bosan hidup. ‘Kan bisa bersandiwara kesakitan atau keracunan, atau apalah yang menghkawatirkan.”
...*****...
...Jangan sandiwara Dariush, inget, kamu itu gabisa acting. Pasti gabisa menjiwai. Mendingan beneran aja biar totalitas, minum racun atau tenggelam atau terjun dari puncak Alpen. Biar Alceena mewek-mewek sekalian HAHAHA agar impas tak ada yang bisa memilikimu....