
Alceena tentu saja sangat lega. Sumber kenikmatan yang sudah membuatnya candu ternyata masih bisa tegak sempurna. Dan raut wajah seksi penuh rasa syukur tersebut bisa disaksikan secara jelas oleh Dariush.
Tentu saja Dariush menjadi terkikik melihat tingkah sang istri yang menggemaskan. “Jadi kau lebih mengkhawatirkan itu daripada tangan dan perutku yang sakit?” tanyanya seraya tak melepaskan tangan Alceena yang dia arahkan untuk tetap bersemayam pada bagian pangkal paha.
“Jelas aku khawatir dengan kesehatanmu, tapi yang satu ini juga sangat penting,” jawab Alceena. Dia pasrah saja saat tangan terus diarahkan untuk mengusap bagian tubuh yang tadi dia cek.
Dariush melepaskan tangan kanan dari tangan sang istri untuk berpindah memporak porandakan rambut. “Kau harus bertanggung jawab karena sudah membuatku tegang, tubuhku sedang tak baik-baik saja untuk bercinta denganmu. Jadi, kau yang harus mengembalikan ke posisi semula.”
Perlahan Alceena berdiri, mengulurkan tangan ke depan Dariush. “Ayo, akan ku tidurkan dengan caraku.”
Senyum Dariush terbit sangat sempurna. Dia sudah merindukan penyatuan dengan Alceena. “Kau yang memimpin, oke? Aku rela kau tunggangi seperti kuda,” kelakarnya seraya tangan kanan menerima uluran tangan sang istri.
“Ada cara yang jitu untuk menjinakkan lagi, tidak akan menyakiti lukamu.” Alceena menuntun Dariush menuju kamar mandi.
Pikiran Dariush sudah membayangkan akan diajak bermain di dalam bath up. Imajinasi sangat liar mulai menjalar di seluruh otak mesumnya.
Dariush hendak masuk ke dalam bath up, tapi Alceena justru berhenti di dekat shower.
“Kenapa kau ke sana?” tanya Alceena dengan wajah bingung.
“Bercinta denganmu di bath up, memangnya cara apa lagi yang bisa kau lakukan untuk mengembalikan milikku seperti semula?”
Alceena mengambil shower, lalu menghidupkan air dingin. “Tangan dan perutmu saja masih seperti itu, aku tak mau bercinta yang berakhir menyakitimu. Setidaknya aku tahu kalau kau tetap normal, itu sudah cukup.” Dia mengarahkan kucuran air itu ke bagian tubuh Dariush yang tegak berdiri.
Dariush langsung membulatkan mata, mulut menganga, dan wajahnya terkejut saat itu juga. “Kau menidurkan dengan cara menyiramku dengan air dingin?”
Alceena menganggukkan kepala, wajahnya tidak menunjukkan rasa bersalah, justru nampak tengil. Sepertinya sudah mulai tertular sifat jahil sang suami. “Yang penting milikmu mengkerut lagi.” Juluran lidah dia tunjukkan pada Dariush.
“Tega sekali kau denganku,” keluh Dariush. Kepalanya menunduk menyaksikan bagian pangkal pahanya mulai mengkerut. Wajah tampan itu langsung muram.
Wajah Dariush terus ditekuk, pria itu muram karena dihancurkan oleh ekspektasi bercinta yang terlalu tinggi. “Gagal mendesah.”
Dariush tidak memaksa Alceena untuk memuaskan hasratnya. Tahu juga kondisi sang istri yang perutnya sudah buncit, pasti kesulitan dan mudah lelah kalau harus bercinta dengan dirinya yang sedang memiliki keterbatasan.
Ya sudahlah, cukup dimandikan dari ujung kepala sampai kaki pun tak masalah. Masih bersyukur memiliki istri yang mau merawat dirinya saat sakit.
Setelah memandikan Dariush, mengeringkan tubuh pria itu, dan membalut menggunakan celana santai tapi atasan tetap kemeja karena lebih mudah melepas dan memakaikan, Alceena meminta sang suami untuk merebahkan tubuh di ranjang.
“Tunggu sebentar, aku ambilkan kompresan untuk memar perutmu,” izin Alceena seraya mengusap rambut Dariush yang sudah wangi.
“Jangan lama-lama, nanti aku rindu,” goda Dariush diiringi kedipan sebelah mata genit.
Alceena reflek mencubit pipi suami karena gemas. Lalu ia meninggalkan Dariush seorang diri.
Tidak berselang lama, wanita berperut buncit itu masuk lagi ke dalam kamar. “Bagaimana? Apa kau sudah rindu denganku?”
“Sangat rindu, ditinggal lima menit berasa seperti lima tahun,” kelakar Dariush. Dia meraih tangan Alceena dan meninggalkan kecupan.
Alceena terkekeh dengan jawaban sang suami yang selalu bisa saja membuat dirinya tersenyum. “Aku kompres, ya?” izinnya dijawab anggukan kepala.
Tangan Alceena membuka kancing kemeja Dariush, sebelum menempelkan kompresan, dia membungkukkan badan untuk meninggalkan kecupan sekilas di perut suami tapi tidak pada bagian yang memar. “Cepat sembuh agar kita bisa segera bulan madu.” Setelah berucap seperti itu, barulah dia mengompres Dariush dan berpindah posisi untuk ikut merebahkan tubuh di samping suami.
...*****...
...Ingin rasanya ku tendang kalian berdua dari muka bumi ini!!! Yang atu sakit dan atunya bunting gede pun masih bisa aja mesra-mesraan. Kan kampret!...