
Madhiaz dan Alceena sudah tak mendengarkan pembicaraan antara Selena dan Aldrich lagi. Rekamanan masih berlanjut, tapi berupa suara tamparan dan Selena yang ingin memberikan penjelasan tapi selalu ditolak.
Mata anak pertama dan kedua Tuan Pattinson pun langsung menatap ke arah Cathleen dengan wajah menyelidik. “Kau menampar Selena?” tanya mereka bersamaan.
Kepala Cathleen mengangguk pelan. “Tadi aku sempat terbawa emosi, dan sekarang menyesal karena sudah bermain tangan padanya,” jawabnya dengan wajah yang terlihat muram.
Madhiaz menghela napas berat seraya memijat pelipis. “Kau harus minta maaf dengan Selena, Cath. Walaupun dia salah, tapi tak seharusnya kau menamparnya. Aku tahu jika terkadang sifatmu masih kekanakan, tapi tidak sepantasnya juga kau menolak saat dia akan menjelaskan kronologi yang sebenarnya.” Sebagai kakak, dia mencoba menasehati Cathleen.
“Tapi, dari perbincangan Selena dan Aldrich sudah menjurus ke sana. Apa kau tak mendengar ucapan Aldrich yang terakhir? Dari situ aku menyimpulkan jika memang Selena adalah pelakunya,” jelas Cathleen. Dia memutar kembali rekaman, hanya pada bagian terakhir Aldrich berbicara.
“Belum tentu juga, Cath. Kau sering sekali salah menafsirkan perlakuan atau ucapan orang lain. Takutnya, jika kau salah menyimpulkan apa yang didengar, akan menjadi fitnah.” Madhiaz lagi-lagi menasehati adiknya. Dia tak ingin gegabah dalam mengambil kesimpulan. Masih tak percaya juga jika Selena berani melakukan hal buruk pada Alceena.
Cathleen menundukkan kepala. Tadi dia sudah menggebu-gebu emosinya. “Aku salah?” tanyanya dengan suara yang terdengar sedih.
Alceena yang sedari tadi menyangga kepala menggunakan tangan kanan karena mendadak pusing pun berpindah posisi, duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Cathleen. Tangan terulur untuk mengelus punggung kembarannya dengan halus. “Tidak, Cath. Terima kasih karena kau sudah membantu menyelidiki masalahku,” tuturnya mengalun lembut.
Walaupun sesungguhnya Alceena tidak bisa langsung menyimpulkan sama dengan pemikiran Cathleen, karena mengingat sifat Selena yang baik dengannya. Tapi dia tetap menghargai usaha kembarannya.
Madhiaz yang melihat kelakuan dua kembarannya pun bergeleng kepala. “Kau jangan membenarkan sesuatu yang salah, Ceena. Jika kau seperti itu, Cathleen tak akan pernah bisa berubah lebih dewasa, berpikir luas, dan tidak langsung menyimpulkan sesuatu secara cepat tanpa menimbang hal-hal lain.” Bahkan Alceena pun ikut terkena omelannya karena membela Cathleen.
Alceena yang melihat adiknya bersedih pun membawa kepala Cathleen ke dalam dekapannya. “Dia yang paling muda diantara kita, Madhiaz. Jangan terlalu keras dengannya.”
Madhiaz sampai menjambak rambutnya sendiri karena frustasi. “Umur kita sama, hanya berbeda beberapa menit saja. Sifat yang membuatnya terlihat kekanakan,” sanggahnya.
“Jika dia kekanakan, pasti sejak dahulu tak akan pernah mengalah padaku. Nyatanya, Cathleen selalu memilih merelakan pria yang mendekatinya untukku dan tak memperbesar masalah.” Alceena masih membela adik kembarnya.
Decakan keluar dari bibir Madhiaz seraya kepala menggeleng. “Tak habis pikir aku dengan pemikiran wanita. Jelas saja Cathleen harus merelakan pria yang dahulu mendekatinya untuk menjadi kekasihmu, karena mereka hanya memanfaatkannya saja agar bisa dekat denganmu.”
“Sorry, aku hanya tak suka kalau kau membenarkan sesuatu yang salah,” ucap Madhiaz. Dia pun memilih diam, daripada semakin panjang urusannya.
Cathleen justru kini merasa bersalah. Itikad baiknya ternyata dianggap tak benar, dan sampai membuat kedua saudaranya bertengkar. “Sudah, maaf. Aku memang salah karena terlalu terbawa emosi dan tak mau mendengar penjelasan dari Selena.” Dia menghapus jejak basah di pipi dan segera berdiri.
Alceena mencekal pergelangan tangan Cathleen saat melihat kembarannya hendak pergi. “Kau mau ke mana?”
“Mencari Selena, aku akan minta maaf karena sudah menamparnya,” jawab Cathleen. Dia mengakui kesalahannya yang terlalu gegabah dan bereaksi secara berlebihan.
Alceena memberikan isyarat menggunakan kepala agar Madhiaz berdiri juga.
“Kita cari Selena bersama dan dengarkan penjelasannya,” ucap Madhiaz.
Cathleen pun berjalan di tengah, dirangkul oleh Madhiaz dan Alceena. Ketiganya akan mencari Selena di kamar wanita itu terlebih dahulu.
...*****...
...Kasian amat Cathleen diomelin Madhiaz. Hiks ... Cath, apa nasibmu seperti Deavenny? Kalau dia rada oon, kamu anak terakhir juga agak cepat menyimpulkan sesuatu? Anak terakhir dapet sisa-sisa kali ya. Kasian dah si Cath, sini aku peluk Cath....
...Author mau jadi sohibnya Cathleen aja, kalian jangan ngebully dia. Biar aku yang ngebully. Hahahaha...
...Namanya juga keluarga Pattinson, pasti sifatnya beda sama keluarga Dominique....
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...