
Namun, tidak semua orang menatap ke arah Alceena yang penampilannya berubah serarus delapan puluh derajat. Salah satu pria yang tidak peduli dengan kedatangan mantan primadona yang mulai tersisihkan itu adalah Gerald.
Si manusia berhati dingin yang sejak tadi tak menikmati pesta, justru memilih untuk menggunakan kaca mata hitam lagi, dan memejamkan mata. Bahkan Cathleen yang duduk di sampingnya pun diabaikan.
Gerald terjebak di dalam gedung yang tak bisa diterobos keluar dan mau tak mau harus mengikuti sampai acara selesai. Pria itu tak nyaman berada di sana. Terlalu berisik dan banyak orang. “Benar-benar memuakkan!” umpatnya diakhiri dengan bibir yang menghembuskan napas kasar.
Tak ada ponsel, air pods, atau gadget apa pun yang bisa membantunya menghilangkan rasa suntuk itu. Setelah pesta ini, dia akan mendiamkan Geraldine yang sudah berani menjebak dan membawa ke tempat yang tidak disukai dengan seenak jidat. Wajahnya tak bisa dibohongi kalau saat ini tengah menahan amarah dalam hati. Nampak jelas dari rahang yang mengeras.
Sedangkan Cathleen, sejak dia melihat sang kembaran diantara banyaknya orang di sana, mata otomatis melihat ke arah Alceena yang tetap menjadi pusat perhatian walaupun sudah tampil acak-acakan. “Memang kalau sudah dasarnya cantik dan seksi, mau berpenampilan apa pun, tetap saja banyak yang melirik,” keluhnya seraya menghela napas pelan.
Padahal Cathleen tak tahu jika saat ini kembarannya sedang ditatap dengan sangat aneh oleh orang-orang, bukan sorot memuja. “Apalah dayaku yang harus dirubah penampilannya terlebih dahulu, baru ada yang menganggap diriku ada, bukan sekedar bayangan Alceena ataupun butiran debu,” imbuhnya kemudian.
Cathleen lalu melirik ke arah Gerald. Penasaran juga dengan orang di sampingnya, apakah sedang memperhatikan Alceena juga atau tidak. Dan ternyata, pria tersebut masih dalam posisi menengadahkan kepala.
“Gerald?” panggil Cathleen seraya menoel lengan kekar menggunakan telunjuk kanan.
“Hm?” Gerald hanya menjawab dengan suara berupa gumaman tak jelas. Dia malas diajak interaksi oleh orang. Bahkan tak menoleh sedikit pun.
“Apa lehermu tak pegal jika terus mendongak?” tanya Cathleen dengan sedikit rasa perhatian.
“Tidak.” Tapi Gerald memang pelit sekali berbicara.
Cathleen mencebikkan bibir karena pria itu sungguh dingin. Walaupun mereka teman satu angkatan di universitas, tapi dia tak begitu mengenal bagaimana sifat Gerald, yang diketahui hanyalah pria itu sejak saat kuliah sudah memiliki kekasih. Tapi ada sesuatu yang membuatnya sangat penasaran. Pasalnya, Gerald bukanlah spesies berbatang panjang yang tergolong dalam pemuja seorang primadona atau Alceena.
“Boleh aku tanya sesuatu?” Cathleen meminta izin dengan sangat lembut.
“Tidak.”
“Ck! Apa tak ada jawaban selain tidak? Sejak tadi kau membalas pertanyaan hanya menggunakan satu kata itu terus,” gerutu Cathleen. Dia memang senang sekali melihat pria dingin. Tapi jika menghadapi seperti Gerald pun membuatnya kesal.
“Tidak ada.”
Cathleen sampai mengelus dada agar lebih sabar menghadapi Gerald. Perlahan hembusan napas pun dikeluarkan, menyandarkan punggung di kursi agar lebih santai. “Aku ingin tahu pendapatmu, apakah Alceena cantik?” Walaupun dilarang bertanya, tapi rasa penasarannya tetap harus dituntaskan.
“Lalu, apa kau menyukainya?”
“Tidak.”
“Kenapa?” Cathleen sedikit menengok agar terfokus pada Gerald, ingin melihat wajah pria itu serius atau tidak saat menjawab. Dan ternyata tak ada unsur kebohongan yang terlukis diantara pahatan tampan tersebut.
“Karena dia adalah wanita yang disukai oleh Dariush.” Akhirnya ada juga jawaban yang tak singkat dari mulut Gerald.
“Memangnya kenapa? Bukankah persaingan cinta antar saudara sudah biasa? Lagi pula, kau dan Dariush juga sepupu.”
“Memperebutkan satu orang? Apa lagi berebut dengan keluarga sendiri? Seperti tak ada wanita lain saja.” Gerald menarik sebelah sudut bibir sinis. “Dariush sangat mencintai wanita itu, dia akan melakukan segala cara demi mendapatkan apa yang diinginkan,” beritahunya kemudian.
“Kau lihat saja ke daerah sekeliling Alceena, pasti akan ada Dariush,” tambah Gerald kemudian.
Dan benar, saat Cathleen mencoba menyapu pandangan, memang ada Dariush yang sejak tadi mengamati kembarannya, walaupun Alceena justru asyik menyantap hidangan pesta. “Dari mana kau tahu hal itu?”
“Ck! Kau itu banyak tanya sekali! Membuatku pusing!” Gerald yang sudah tersadar jika tadi sempat kelepasan berbicara terlalu banyak dengan Cathleen pun langsung membalas menggunakan nada ketus yang tak enak di dengar.
“Namanya juga penasaran, wajar saja kalau aku bertanya,” balas Cathleen diakhiri dengan cebikan bibir karena sebal.
“Memuakkan!” ucap Gerald dengan sangat angkuh. Dia memang lebih suka menyendiri, tangannya pun memutar besi untuk menjalankan kursi roda. Pria itu tak lupa jika kaki masih berfungsi sempurna, memang sengaja agar orang berpikir dirinya sakit, supaya tak ada yang mau mencoba mendekati.
“Kau seperti wanita yang mau datang bulan! Jutek sekali!” ejek Cathleen dengan sedikit berteriak karena Gerald sudah mulai menjauh.
...*****...
...Gimana Cath? Udah paham belom sama maksud ucapannya Gerald? Artinya emang gaada celah buat kamu masuk ke dalam hidup Dariush! Udah mundur aja, cari noh batangan panjang yang lain, di pesta itu kan banyak. Jangan ngeyel deh kalo dibilangin! Tar aku kirim ke Pluto loh biar idup sendirian di sono kalo susah dikasih tau. Soalnya aku males melihara tokoh yang gamau dengerin apa kata aku....
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...