
Jet pribadi keluarga Dominique yang ditumpangi oleh Dariush baru saja mendarat dengan selamat di Schiphol Airport, Amsterdam, Belanda. Pria berpakaian serba rapi itu segera menghidupkan ponsel seraya turun dari burung besi tersebut.
Dariush mengirimkan pesan pada Alceena. Memberitahukan bahwa dia baru saja sampai di bandara tujuan, dan sudah masuk ke dalam mobil menuju perusahaan yang akan menjadi koleganya.
Anak Tuan Dominique yang kedua itu memasukkan lagi smartphone ke dalam saku jas dan tidak mengecek lagi apakah mendapatkan balasan atau tidak. Sebab, sepuluh menit lagi sudah ditunggu oleh CEO perusahaan yang akan dia tuju.
Sementara itu, Alceena yang mendapatkan pesan dari sang kekasih pun buru-buru membuka dan membaca isinya. Dia langsung menatap ke arah Papa Danzel. “Dariush baru sampai di Amsterdam,” beritahunya.
“Katakan padanya, jika ingin menikah denganmu, ku tunggu di Badan Kependudukan. Dua jam tiga puluh menit harus sudah sampai di sana. Lebih dari itu, aku akan berubah pikiran,” ucap Tuan Pattinson. Dia hanya ingin Alceena tidak gagal menikah lagi, dan mendapatkan pria yang tepat, sehingga memberikan persyaratan yang sangat berat.
“What?” Lagi-lagi Alceena memekik. “Itu terlalu mepet, Pa! Perjalanan Amsterdam ke Helsinki saja membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Belum lagi perjalanan menuju ke Badan Kependudukan.” Dia mencoba mengajukan protes karena tidak mungkin menikah dalam waktu yang sangat singkat.
“Bisa, aku sudah memikirkan perhitungan waktu perjalanannya sampai di Badan Kependudukan. Dua jam tiga puluh menit adalah waktu yang pas. Asalkan dia mengendarai sepeda motor dari bandara, bukan mobil.”
Alceena sampai menggelengkan kepala karena ide orang tuanya cukup gila. Tapi dia mencoba menyampaikan persyaratan terakhir dari Papa Danzel pada Dariush, melalui panggilan telepon.
Dariush baru saja menginjakkan kaki di ruang rapat perusahaan calon koleganya. Tapi, dia merasakan ponsel bergetar pun memberikan isyarat tangan agar tidak memulai perbincangan tentang kerja sama dua perusahaan. “Maaf, aku harus mengangkat telepon terlebih dahulu,” ucapnya seraya izin keluar.
Saat ini Dariush memprioritaskan Alceena karena wanita itu sedang hamil besar. Siapa tahu ada sesuatu yang memang sangat penting. “Ya, Sayang. Ada apa?”
“Bisakah kau kembali ke Helsinki sekarang juga?” pinta Alceena dengan suara yang terdengar mengandung harap-harap cemas.
“Papaku setuju jika kita menikah. Tapi, dia ingin dilakukan hari ini juga, dan ditunggu dua jam tiga puluh menit lagi sampai di Badan Kependudukan. Lebih dari itu, dia akan berubah pikiran.”
Mendengar penjelasan Alceena, membuat Dariush tidak pikir panjang lagi untuk menjawab. “Aku berangkat ke sana sekarang juga!”
Jawaban itu membuat Alceena bisa bernapas lega. “Ku tunggu, Sayang. Hari ini pasti akan menjadi moment bersejarah kita.” Dia meninggalkan sebuah kecupan jauh.
Panggilan pun segera diputus. Jika Alceena segera berangkat ke Badan Kependudukan bersama orang tuanya, Dariush kembali ke ruang rapat untuk membatalkan kerja sama tersebut.
“Maaf, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan pertemuan hari ini. Sebab, ada hal yang jauh lebih penting.” Dariush membungkukkan badan sekilas sebagai bentuk rasa penyesalannya.
Dariush tidak memperdulikan bagaimana reaksi orang yang akan menjadi koleganya. Dia langsung mengajak sang sekretaris untuk ikut pulang.
Sepanjang perjalanan, Dariush terus melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Waktu sudah terpakai lima menit.
...*****...
...Beginilah kalo yang nulis ikutan iri sama tokoh buatannya sendiri, ada aja cobaan yang diberikan karena gak rela Dariush dimiliki oleh si singa tarzan...