My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 219 S2


...Sorry banget guys, baru sempet update si pasangan bucin. Bulan ini aku sibuk euyy lagi siapin mau trip ke 3 kota. Akhir bulan Juli ini aku mau ke Surabaya (22 siang - 23 sore), Malang (23 malem - 26 pagi), Lombok (27-31). Jadi aku harus koordinasi ini itu sama temen buat booking segala macem. Ya intinya aku lagi sok sibuk aja bestie hehehehe jadinya update ini agak tersendat. Ku usahain bulan depan rajin lagi....


...*****...


Sudah tujuh hari Dariush di rumah sakit. Sanak saudara setiap hari pun menjenguk secara bergantian supaya tak mengganggu proses penyembuhan pasien kalau datang secara bersamaan.


Dariush merasa bosan sekali hanya diam saja di atas ranjang pasien. Istrinya juga masih tidur sangat lelap, iparnya sedang fokus dengan MacBook karena tengah bekerja.


“Argh ... tak enak sekali kalau sedang sakit!” Dariush mengeluh diakhiri dengan decakan kesal pada diri sendiri.


“Maka cepat sembuh jika kau mau enak,” sahut Madhiaz tanpa mengalihkan pandangan dari layar MacBook yang ada di pangkuan.


“Aku juga maunya seperti itu. Menyebalkan sekali, pengantin baru tapi menghabiskan malam di rumah sakit, tidak melakukan apa pun pula. Sangat membosankan,” keluh Dariush seraya melirik ke arah sang istri. Alceena tetap terlelap nyenyak sekali seperti belum istirahat selama berhari-hari, bahkan sampai tak terganggu dengan suaranya yang sejak tadi menggerutu tiada henti.


“Memangnya apa yang ingin kau lakukan? Mencetak anak?” tanya Madhiaz. Kini kedua bola mata itu menatap ke arah sang ipar yang masih terbujur tak berdaya.


“Tentu saja, apa lagi yang akan diperbuat sepasang pengantin baru? Bermain ludo? Lebih baik berkuda dengan istriku.” Dariush sampai membalas dengan sinis pertanyaan iparnya. Dia seperti seorang yang belum pernah merasakan indah dan nikmatnya bercinta saja.


“Ck, ck, ck, kau lihat perut Alceena.” Madhiaz menunjuk wanita yang tertidur miring, dan kebetulan menghadap ke arah Dariush, artinya ke arahnya juga. “Di sana sudah ada anakmu, untuk apa kau mencetak anak lagi? Tidak akan jadi.”


“Menjenguk anakku, kasian sekali mereka, sudah lama tak disapa langsung oleh Daddynya,” kilah Dariush seraya mengusap perut sang istri.


Madhiaz sampai tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya gelengan kepala saja yang mampu dia tunjukkan sebagai pertanda kalau tak habis pikir dengan sang ipar yang teramat gila akan cinta. Dia memilih untuk kembali bekerja saja sembari menunggu keluarganya ataupun keluarga Dominique datang untuk bergantian menjaga Dariush.


Suasana kembali sunyi, Dariush tidak senang seperti itu. Menonton film di televisi pun menjadi tak seru dan membosankan.


Tiba-tiba senyum simpul tercetak di wajah jahil Dariush, melirik ke arah wajah Alceena yang polos tak memakai make up sedikit pun. “Kau sudah tidur lima jam,” gumamnya. Dia sampai menghitung waktu terlelap sang istri karena tak memiliki kegiatan lain kecuali menggerutu.


Namanya juga Dariush, mau sehat ataupun sakit, tetap saja sifat jahilnya tidak luntur sedikit pun. Walaupun tangannya luka dan mendapatkan jahitan di lengan, dia tetap tengil dengan memasukkan jemari ke balik dress ibu hamil yang tengah terlelap.


“Tak bisa bercinta, hanya mengusap pun tak apa.” Dariush seolah melupakan sakit di tangan demi menjahili sang istri. Dia mengusap sesuatu yang tersembunyi di balik kain Alceena.


Alceena melenguh karena di dalam tidurnya merasakan gelenyar yang membuat geli. “Engh ....” Dia mengerjapkan mata dan langsung disambut oleh senyum jahil Dariush.


“Akhirnya kau bangun juga,” ucap Dariush tanpa menghentikan jemari nakal yang tengah mengusap daerah kelembutan.


Alceena pikir hanya mimpi karena dia sedang menginginkan bercinta, ternyata memang ada yang membuatnya kegelian. “Sayang, hentikan tanganmu, malu dilihat Madhiaz.” Tangannya berusaha untuk mengeluarkan jemari sang suami.


“Biarkan saja, salah dia menjadi orang ketiga di sini.” Dariush menyudahi aksi yang berhasil membangunkan sang istri. “Aku bosan sekali hanya terbaring di sini.” Akhirnya bisa mengeluh dan didengar oleh Alceena juga.


“Lalu, kau mau apa?” tawar Alceena seraya menatap penuh cinta.


“Cium aku, sudah tiga hari tak dicium olehmu,” pinta Dariush dengan cengiran khas saat dirinya menginginkan sesuatu.


“Baiklah.” Dariush sudah banyak berkorban banyak untuknya, maka Alceena akan berusaha untuk memenuhi semua yang diingkan oleh suami tercintanya.


“Madhiaz, jangan melihat ke arah sini, aku ingin mencium suamiku.” Alceena memberikan peringatan pada kembarannya yang sabar sekali menunggu di dalam sana.


“Lakukan saja sesuka hati kalian, aku tak akan melihat.” Madhiaz tentu bukan tipe pengganggu kesenangan orang. Cuek saja pria itu dan fokus dengan pekerjaannya sendiri.


Perlahan, Alceena sedikit menaikkan posisi tubuh dengan bertumpu tangan sebagai penompang. Dia menyatukan bibir dengan Dariush dan keduanya saling beradu lidah.


“Daddy dan anaknya sama saja, tidak tahu tempat dan situasi kalau bercumbu.” Tuan Giorgio yang tak lain adalah paman Dariush sekaligus sahabat Daddy Davis pun tiba-tiba masuk.


...*****...


...Astagaaa George, pas muda sama dah tua kok ya kerjaanmu masuk ke ruang rawat dan ganggu orang lagi enak aja...


...*****...



...Guys, aku mau promosi salah satu web series yang diadaptasi dari novel aku berjudul Hidden Rich Man. Tayang di aplikasi genflix. Semalem udah tayang episode 1 dan 2, nanti malem tayang episode 3 dan 4, besok tayang episode 5 dan 6. Nonton yuk bestie aku, tayang setiap pukul 19:00 WIB. Cuma sampe episode 6 aja kok, gak panjang....


...Simak dan baca gambar di bawah ini ya bestie buat cara nontonnya. Selama 2 tahun bisa kalian tonton terus di genflix kok....


















Mudah dan murah kan buat nonton web seriesnya? Udah paham sama caranya? Yuk bantu dukung web series Hidden Rich Man dengan cara nonton melalui aplikasi genflix. Makasih semua yang udah mau selalu dukung aku.


Jangan lupa di unreg ya kalau mau berhenti langganan, biar gak kepotong terus pulsanya. Cara unreg bisa cari di google dengan kata kunci “cara unreg langganan genflix pada kartu ......” disesuaiin profider kalian apa.