My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 116


Jangan ditanya hukuman apa yang diberikan oleh Dariush pada Alceena. Tentu saja penyatuan tubuh yang menghasilkan bunyi khas percintaan, mendesah penuh kenikmatan, dan memenuhi ruangan luas itu dengan suara erotis serta gelora hasrat yang menggebu.


Walaupun hanya bercinta satu ronde saja, tapi sudah membuat Alceena kelelahan. Itulah sebabnya Dariush tak pernah berani bermain lebih lama dan berulang kali.


Setelah bercinta, keduanya terbang ke alam mimpi bersama. Saling berpelukan dan membiarkan kulit menempel tanpa jarak.


Nyenyak sekali rasanya saat terlelap bersama. Hingga tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pagi hari. Tapi keduanya masih enggan membuka mata.


Namun, suara ponsel yang terdengar berdering dan bergetar di atas nakas, membuat Dariush otomatis mengulurkan tangan untuk mengambil benda tersebut.


Dengan kesadaran yang masih seperempat, Dariush mengangkat panggilan di benda pipih yang pintar itu. “Halo?” Dia menyapa dengan suara serak dan berbeda dari suaranya yang biasa.


“Ini siapa? Kenapa bukan suara Alceena yang mengangkat?” tanya si penelepon itu dengan nada yang terdengar bingung tapi dilontarkan melalui sedikit bentakan.


Mendengar balasan tersebut, Dariush langsung membuka matanya lebar-lebar dan menjauhkan ponsel untuk melihat nama penelepon. “Ternyata ini milik Alceena.” Dia menonaktifkan microphone agar suara tak bisa didengar oleh orang yang menghubungi wanitanya.


Dariush mengusap lengan Alceena dengan lembut untuk membangunkan wanitanya. “Sayang, Madhiaz meneleponmu.” Suara itu mengalun dengan lirih di telinga anak kedua Tuan Pattinson.


“Hm?” Alceena menjadi terganggu tidurnya yang nyenyak. Dia mengucek mata dan mengerjap untuk memfokuskan pandangan. Langsung wajah Dariush yang memenuhi korneanya. “Mana ponselku?”


Dariush memberikan benda yang berada di genggaman tangannya.


“Ya, Madhiaz?” sapa Alceena.


“Halo? Hei! Kau siapa? Kenapa diam saja saat ku tanya?!” Namun justru dibalas dengan omelan oleh Madhiaz.


“Ini aku, Alceena.”


“Sialan! Kau bisu atau tuli?”


Alceena sampai membulatkan mata saat tanggapannya direspon hal yang lain oleh Madhiaz. “Kenapa dia aneh sekali?” gumamnya bingung.


Alceena menjauhkan gawai tersebut untuk mengecek apakah ada yang aneh dengan barang berharganya itu. “Astaga ... ternyata microphonenya kau matikan. Pantas saja Madhiaz mengomel karena tak mendengar suaraku.”


Alceena kembali menempelkan ponsel di telinganya. “Ya, Madhiaz?”


“Ceena, kau sedang bersama siapa? Apa kau baik-baik saja?”


“Aku bersama seseorang. Tenang saja, aku aman.”


“Syukurlah, apa itu kekasih barumu?”


“Bisa dikatakan seperti itu. Ada apa meneleponku pagi sekali?”


“Aku bersama Cathleen, Selena, dan Aldrich sudah sampai di bandara. Kau masih ingin menginap di luar atau pulang ke mansion? Aku harus mencari alasan agar Mama dan Papa tak khawatir jika kau tak kembali bersama dengan kami.”


Alceena tentu saja sudah mengirimkan pesan pada Madhiaz sebelum meninggalkan Munich. Dia meminta kakaknya itu untuk memberi tahu jika sudah sampai Helsinki agar bisa menyusul.


“Aku akan segera pulang,” jawab Alceena.


“Ya, kau memang harus pulang karena kita akan menyelesaikan masalah Selena dan Brandon segera.” Tiba-tiba suara Cathleen menyahut.


“Hm, memang lebih baik harus kita selesaikan secepatnya.” Dan panggilan pun diputus oleh Alceena. Dia segera berpindah duduk. “Aku harus pulang, saudaraku sudah sampai Helsinki dan ada urusan yang perlu aku bicarakan dengan keluargaku juga.”


“Aku antar, oke?” tawar Dariush.


“Boleh, tapi kau harus memakai mobil yang kacanya gelap.”


...*****...


...Waduhh gimana tuh nasib Selena, kasian amat nasibnya...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiah bestie...