My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 123


Alceena meraih kedua lengan Selena dan menuntun sang kakak agar tak merendahkan tubuh. “Berdirilah, percuma saja kau bersimpuh di depanku. Tak akan merubah keputusan yang sudah ku buat.”


Namun Selena tetap menolak. Dia bersikukuh pada posisinya sampai hati Alceena melunak dan mau memberikan maaf pada ayah dari janin dalam kandungannya. “Tidak, Ceena. Aku akan terus memohon padamu sampai kau mengurungkan niat untuk menggugat Brandon.”


Semua orang yang ada di ruang keluarga itu menatap ke arah Alceena. Mereka menunggu respon dari wanita yang sedang mengandung anak kembar tersebut.


Wajah anggota keluarga di mansion Pattinson itu terlihat penasaran. Apakah Alceena mau melepaskan Brandon begitu saja demi keponakan di dalam kandungan Selena? Atau tetap menjadi seseorang yang tegas dan keras hati?


“Bahkan jika kau memintaku sampai jutaan kali pun tak menggoyahkan tekadku, Selena. Berhentilah membuang waktumu.” Alceena menggeserkan kaki lebih ke samping agar kakaknya tak lagi berada tepat di depan kakinya.


Selena mengangkat pandangan mata, menatap Mamanya dengan wajah mengiba. “Ma, bantu aku. Anakku butuh orang tuanya. Aku tahu bagaimana tak enak menjadi anak dari seorang narapidana, dan tak ingin masa kecilku terulang lagi pada keturunanku,” pintanya seraya mengelus perut.


Mama Gwen menghela napas, dia menengadahkan kepala karena berada dalam situasi yang sulit. Dihadapkan pada kedua anaknya yang memiliki sifat berbeda. Alceena teguh ingin menuntut, sedangkan Selena memohon untuk dibantu meruntuhkan keteguhan salah satu anaknya tersebut.


Wanita yang sudah melahirkan empat orang anak itu menghela napas berat. Ini adalah pilihan yang sulit karena akan terkesan memihak pada salah satu anaknya.


Mama Gwen tak ingin terlihat pilih kasih. Tapi, mengingat masa lalu Selena yang begitu menyedihkan, membuatnya berpikir dua kali agar tak terulang lagi pada cucunya.


Alceena meniup udara dengan kasar. Mencoba memahami kenapa Mamanya memberikan nasihat. “Ma, bukannya aku tak memaafkan Brandon. Tapi, tak semua kesalahan manusia bisa selesai dengan kata maaf. Jika bisa berakhir dengan satu kata sakti itu, maka dunia ini akan dihuni oleh manusia tak berotak.” Dia tetap menolak, sekalipun orang tuanya yang meminta.


“Ceena, apa yang membuatmu sulit untuk memberikan maaf pada Brandon?” tanya Mama Gwen dengan sangat lembut. Memang dia adalah orang yang mudah tersentuh hatinya.


“Karena kesalahannya memberikan dampak buruk padaku. Aku ingin memberinya pelajaran hidup agar tak sembarangan saat bertindak,” jelas Alceena dengan suara tegasnya.


“Tolong berhenti memintaku memaafkan pecundang itu! Aku tak ingin berdebat dan bertengkar dengan keluargaku sendiri. Pahami posisiku sebagai korban dari kebodohan dan keegoisan Brandon.” Alceena tak ingin disudutkan dan seolah-olah dia adalah antagonis dalam keluarganya. Matanya menatap satu persatu orang yang duduk bersama di ruangan tersebut.


“Kenapa koruptor, penculik, pemerkosa, pembunuh, bandar obat terlarang, dan kejahatan lainnya tak pernah lolos dari hukum hanya dengan kata maaf? Karena keadilan perlu diberikan pada mereka yang salah agar bisa memperbaiki diri. Jika mereka bisa bebas begitu saja, berapa banyak orang yang akan dirugikan? Bukan hanya itu, pasti akan banyak yang meniru dan membenarkan sebuah tindakan yang salah tersebut kalau hukum tidak ditegakkan. Penjahat tentu akan semakin bertambah.” Alceena mencoba memberikan penjelasan agar semua anggota keluarganya paham dengan maksud serta tujuannya menggugat Brandon Brooks.


...*****...


...Kasih paham Ceen, biar pada terbuka itu pikirannya. Kayanya cuma Mamamu yang gampang banget maafin orang tuh, sampe dimanfaatin sama mertua dan selingkuhan mantan suaminya wkwkwk...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...