My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 36


Dua minggu berlalu, selama itu Dariush sebisa mungkin tak menampakkan diri di hadapan Alceena. Rasanya dia tersiksa oleh rindu yang teramat besar karena tak mengusili dan membuat wanitanya marah-marah.


“Argh ....” Tiba-tiba Dariush meraung seraya mengacak-acak rambut.


Mambuat anggota keluarga Dominique yang saat ini sedang berkumpul di mansion utama pun menatap ke arah Dariush.


“Kau itu kenapa?” tanya Danesh yang melihat kembarannya nampak aneh.


“Pusing kepalaku melihat kalian semua memiliki pasangan dan bermesraan di depan mataku,” jawab Dariush berdecak sebal, karena sedari tadi pemandangan di depan hanya keluarganya yang tak pengertian dengan kejombloannya.


Bukannya iba dengan nasib Dariush, justru mereka menertawakan pria itu.


“Katanya sudah menebar bibit di rahim Alceena, bawalah wanitamu ke sini agar kau tak terlihat mengenaskan saat kumpul bersama keluarga,” celetuk Daddy Davis seraya merangkul bahu istrinya.


Delavar terkikik sendirian. “Memang benar dia sudah menebar pasukan, tapi cairannya saja, merem meleknya belum.” Ejekan pun terlontar dari bibirnya. Jika dahulu Dariush sering menggodanya, kini keadaan mulai berbalik.


“Huh ....” Dariush mengela napas panjang seraya memijat pelipis. “Kalian membuatku pusing saja.” Dia berdiri, melepaskan pantat dari sofa. “Sudahlah, aku mau pergi saja, healing.”


Dariush yang hendak melangkah meninggalkan ruang keluarga, mendadak tangannya di cegah oleh Deavenny. “Kau mau healing ke mana?”


“Mencari Alceena, healingku cukup mengusili dia saja,” jawab Dariush seraya mencoba melepaskan tangan Deavenny.


“Katanya ingin pura-pura acuh dengan Alceena sampai dia yang berinisiatif sendiri datang padamu, mana buktinya? Baru juga berapa minggu, sudah gatal saja kau ingin bertemu,” celetuk Delavar bermaksud mengingatkan agar Dariush tak lupa dengan skenario awal.


“Mungkin Dariush lupa dengan perannya saat ini.” Mommy Diora ikut menimbrung pembicaraan.


“Aku tak cocok menjadi pria dingin dengan Alceena,” sanggah Dariush. Lebih tepatnya dia tak tahan dengan rindunya.


“Kadang yang dikejar justru akan menjauh, lebih baik kau berhenti sejenak. Apa tak lelah selama bertahun-tahun mengharapkan wanita yang sama tapi tak ada hasil sampai sekarang?” Danesh mencoba menasehati Dariush.


Delavar tiba-tiba berdiri, mendekati Dariush dan memegang pundak kembarannya. “Duduk saja yang nyaman, kau harus kuat dengan sandiwaramu.” Dia mendorong Dariush hingga terjerembab ke sofa.


Namun, Dariush kembali berdiri. “Aku hanya ingin mengamatinya dari jauh, tidak lebih.”


“Susah sudah menasehati orang yang sedang jatuh cinta, biarkan saja dia pergi,” tutur Deavenny.


Dariush menyentakkan alis ke atas, menyetujui ucapan Deavenny. “Setidaknya aku bisa melihat wajahnya, walaupun tak dapat menyentuhnya.” Kaki pun mengayun meninggalkan ruang keluarga di mansion Dominique.


Dariush segera masuk ke dalam mobil. Menghidupkan mesin dan melihat ponselnya terlebih dahulu. Dia ingin mencari tahu titik keberadaan Alceena dari GPS yang diam-diam dia pasang di kendaraan pribadi milik wanitanya.


“Oke, rumah sakit lagi.” Dariush pun melesatkan kendaraan menuju Hakanimen Grand Luxury Hospital. Dan segera masuk ke dalam untuk bertanya dengan bagian pendaftaran.


“Apakah ada orang bernama Adaire Alceena Pattinson yang datang ke sini?” tanya Dariush seraya menyodorkan selembar uang seratus euro.


“Tunggu sebentar, saya cek terlebih dahulu.” Wanita yang bertugas di tempat pendaftaran pun melihat layar komputer. “Ada, Tuan.” Sembari memberikan informasi, dia mengambil uang yang diberikan oleh Dariush.


“Apa keperluannya datang ke sini?”


“Bertemu Dokter Hillary untuk melihat hasil inseminasinya berhasil atau tidak, Tuan.”


...*****...


...Semoga gagal inseminasinya wkwkwk biar pusing dah tuh kepala Dariush karna pasukannya gugur di medan pertempuran...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiah ya bestie...