My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 97


Tangan kekar anak kedua Tuan Dominique menekuk lutut sang wanita dan membuka lebar kedua paha Alceena, hingga mata bisa menangkap jelas bagian tubuh yang akan menjadi inti permainan pagi ini.


Dariush beralih memegang alat vital yang menyatu dengan daerah pangkal pahanya. Bagian tubuh itu sudah berubah ukuran, membesar, mengeras, dan memanjang. Tak seperti saat disembunyikan di balik sarang berupa kain.


Sebelum menyatukan kedua alat vital yang bisa untuk proses reproduksi, pria itu menggesekkan ujung yang tumpul tersebut, tepat di bibir area sensitif yang sudah lama dia harapkan bisa segera memberikan kenikmatan yang sesungguhnya.


“Bagaimana rasanya, Sayang?” tanya Dariush seraya menatap wajah Alceena yang nampak tak sabaran.


“E—enak, tapi kau terlalu lama memasukkannya, nanti hasrat bercintaku hilang lagi,” jawab Alceena. Karena Dariush seperti mempermainkannya dengan memberikan sensasi yang semakin membakar gairah dan membuatnya tambah basah tapi tak kunjung dibenamkan. Tangannya pun terulur menyentuh pantat sang pria. Dia sudah siap untuk mendapatkan penyatuan.


Alceena mendorong maju pinggul Dariush hingga dirinya bisa merasakan jika ada sesuatu yang mulai memasuki bagian inti alat reproduksinya. Saat itu juga Alceena memejamkan mata karena merasakan sebuah sensasi baru.


Dariush tak menyangka jika Alceena agresif juga, memiliki inisiatif sendiri saat menginginkan untuk bercinta. Dia mulai memaju mundurkan pinggul, secara perlahan namun pasti. Tangan pun tak lupa memberikan remasan di bagian dua buah yang ada di dada.


“Bukankah ini kali pertama milikmu dimasuki oleh benda yang panjang dan kokoh?” Sembari bercinta, Dariush mengajak Alceena untuk berbicara. Memastikan jika sang wanita nyaman dengan apa yang dia lakukan.


Kepala Alceena menggeleng. “Ih—ini ada—ah—lah kali kedua—ah ....” Jawaban bercampur suara mendesah lolos dari bibir Alceena. Bagaimana tidak seperti itu kalau dirinya tengah merasakan sebuah kenikmatan yang membuat sekujur tubuh mendadak mati rasa. Hanya sensasi yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata, kecuali dirasakan secara langsung saat bercinta.


Dariush menggigit bibir bawah saat merasakan surga dunia yang akhirnya dia dapatkan. Jangan ditanya bagaimana mata kedua orang itu, sudah pasti merem melek hingga mendesah nikmat.


“Siapa yang pertama?” Lagi-lagi Dariush masih bisa berkomunikasi, padahal pinggulnya terus bekerja memompa tubuh sang wanita. Dia pikir akan menjadi yang pertama bercinta dengan Alceena, ternyata ada yang lebih dahulu mengambil keranuman pujaan hatinya. Tapi hal itu tak menyurutkan hasrat bercinta Dariush. Pria itu tetap maju tak gentar, yang penting bisa mendesah bersama.


“Speculum vaginal, tapi rasanya tak senikmat milikmu.” Setelah menjawab, Alceena menarik kepala Dariush agar mendekat dengan wajahnya. “Kiss me.” Dia meminta, tapi sebelum dilakukan oleh sang pria, sudah menyosor terlebih dahulu.


Keduanya becumbu sangat panas. Alceena sampai mencakar punggung Dariush karena terlalu nikmat, apa lagi saat sang pria membenamkan lebih dalam lagi.


Dariush menyudahi ciumannya, mulai merasa bosan dengan gaya yang biasa saja. “Kita bermain di tepi ranjang, oke? Aku takut menindih perutmu.”


Setelah dijawab anggukan oleh Alceena, untuk sesaat pria itu melepaskan alat reproduksinya. Membopong tubuh sang wanita untuk menuju daerah tepi.


“Siapa speculum vaginal? Aku tak pernah tahu jika kau didekati oleh pria bernama itu.” Disela kenikmatannya, Dariush tetap tak lupa ingin tahu siapa yang sudah berhasil merenggut kesucian wanitanya untuk pertama kali.


Karena sedikit kecewa dirinya merasa gagal menjauhkan pria yang hendak menyetubuhi Alceena, sampai dia menjadi yang kedua, Dariush tak terasa menaikkan ritmenya. Tidak terlalu cepat, namun juga tak selambat tadi.


“Ih—itu bukan orang, ta—ah—pi alat kedokteran yang—ah digunakan uh—untuk membuka milikku sa—ah—at proses inseminasi.” Alceena tak bisa menahan sensasi itu, dia mendesah dengan lantang.


“Jadi, aku orang pertama?” Pertanyaan itu keluar diiringi suara khas yang dihasilkan dari pertemuan dua alat reproduksi yang saling beradu.


Alceena menggigit bibir bawah seraya menganggukkan kepala. “Ya—ah alat itu yang sudah mengambil virginku—uh ... aku ingin keluar.”


Dariush tentu saja lega, ternyata dirinya tak gagal menjaga Alceena. “Keluarkan bersama-sama, Sayang.”


Ruangan itu sudah tak keruan lagi, sprei berantakan, pakaian berserakan di lantai, suara erotis menggema di dalam sana. Namun, justru itu yang membuat percintaan mereka terasa nyata.


Dariush menggenggam kedua tangan Alceena saat dia berhenti memaju mundurkan pinggul. Sebab, cairan miliknya mulai menyembur dan dia biarkan menghangatkan rahim sang wanita agar menemani anak-anaknya di dalam sana.


Setelah dirasa alat reproduksinya kembali mengecil, Dariush menarik dari dalam sarang. Mengusap kening Alceena untuk menghilangkan peluh. “Terima kasih, Sayang. Tubuhmu sangat nikmat.” Dia meninggalkan sebuah kecupan di kening sebagai tanda cinta.


“Kau cukup memuaskan, dan aku menyukai itu,” balas Alceena seraya berpindah posisi menjadi duduk. Dia memeluk Dariush yang kini berada di sampingnya.


...*****...


...Tuh THR dari aku wkwkwk berhasil maju mundur mendesah hahahaha...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...