
Hari ini Dariush dalam suasana hati yang sangat bagus. Dia segera menyelesaikan pekerjaan agar sore sebelum jam pulang kantor bisa langsung ke perusahaan sang kekasih. Tentu saja untuk memberikan kejutan lamaran sederhana pada Alceena.
Semua pekerjaan terasa mudah diatasi karena memang suasana hati sangat mempengaruhi kinerja. Dariush berkemas untuk meninggalkan kantor terlebih dahulu, sebelum jam pulang karyawan selesai.
Pria itu terus bersenandung selama perjalanan. Tak sabar ingin segera memiliki ikatan suami istri dengan wanita yang sangat dia dambakan sejak dahulu.
Dariush berhenti dan memarkirkan mobil di depan pintu lobby. Dia memasukkan kotak cincin yang baru tadi dibeli, ke dalam saku. Lalu keluar dari kendaraan tersebut seraya membenarkan jas.
Langkah kaki Dariush terhentak penuh wibawa, dia berhenti di depan resepsionis. “Apakah Alceena ada?” Karena tak mengabari sang kekasih terlebih dahulu, ia harus memastikan keberadaan wanitanya.
“Sebentar, Tuan.” Resepsionis terlihat bertanya melalui sambungan telepon. Dan tak lama kemudian kembali memberitahukan informasi pada Dariush. “Nona Alceena ada di ruangannya, Tuan. Mari saya antar.”
“Tidak perlu, aku ke atas sendiri saja,” tolak Dariush.
Resepsionis itu mengangguk dan mempersilahkan Dariush yang tentu saja dia kenal sebagai pebisnis sukses di Eropa.
Sepanjang perjalanan menuju lantai teratas gedung perkantoran itu, dada Dariush terasa berdebar. Pasalnya, ini akan menjadi hari penting dan bersejarah dalam hidupnya.
Sesampainya di depan ruangan Alceena, Dariush langsung membuka pintu begitu saja. Dan mata menangkap sosok cantik yang sedang menonton cuplikan film dari project yang tengah digarap. Terlalu serius, sampai dia tak sadar kalau ada orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
“Wajahnya kalau sedang serius ternyata galak juga,” gumam Dariush. Merasa kehadirannya tak diperhatikan, ia tiba-tiba melingkarkan tangan dari arah belakang Alceena, mendaratkan kepala di bahu wanita itu.
Alceena terkejut saat itu juga, reflek menengok ke arah kepala Dariush. “Kau kenapa ke sini tak mengabariku dulu?” Dia menjeda video yang dikirimkan oleh salah satu karyawannya.
“Memangnya tak boleh main ke perusahaan calon istriku sendiri?” tanya Dariush seraya mencolek dagu Alceena.
Ucapan Dariush membuat alis Alceena naik sebelah. Dia tak merasa menjadi calon istri. “Kita sepasang kekasih,” tuturnya meluruskan tentang hubungan keduanya.
“Iya, tapi sebentar lagi akan menjadi istriku,” balas Dariush sangat percaya diri. Dia berdiri tegak dan menarik kursi kerja Alceena untuk dibawa ke tengah ruangan, supaya lebih luas saat dirinya berjongkok melamar wanita berperut buncit tersebut.
“Siapa yang mengatakan seperti itu? Kita saja belum ada rencana untuk menikah,” ucap Alceena yang pasrah saat merasakan tubuh serta kursi yang dia duduki berjalan dan berpindah posisi.
“Itu sebelum kau menyatakan cinta padaku. Setelah aku tahu jika kita saling cinta, maka sudah ku putuskan untuk membawamu ke jenjang pernikahan yang lebih serius dari sepasang kekasih.” Dariush menghentikan kursi Alceena tepat di tengah ruangan. Pria itu berpindah menjadi di hadapan si ibu hamil, dan berjongkok dengan salah satu lutut menyentuh lantai, sedangkan sebelahnya di tekuk.
Dariush merogoh saku, mengambil kotak perhiasan. Tangannya membuka benda kecil tersebut, memperlihatkan isinya ke hadapan Alceena. Cincin dengan berlian berwarna graff pink. “Adaire Alceena Pattinson, dengan segala sifat usil dan jahilku, maukah kau menjadi pendamping hidupku untuk selamanya?”
...*****...
...Cath, buruan dateng ke perusahaan Alceena! Rusak moment bersejarah mereka, ayo jadi pelakor saja. *bisikan setan mulai datang*...