My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 186


Setelah berbaikan, Dariush dan Alceena menghabiskan waktu di Swiss Alps selama tiga hari. Anggap saja liburan dalam waktu singkat itu adalah baby moon sebelum kurang lebih tiga bulan lagi menanti kelahiran anak-anak dari rahim Alceena.


Selama kurun waktu tersebut, sepasang kekasih yang belum memiliki ikatan pernikahan itu bertambah lengket bagaikan permen karet yang menempel di sandal dan sulit dipisahkan. Baik Dariush dan Alceena, mereka sudah kembali ke Zurich, tempat penginapan yang disewa oleh wanita pemilik perusahaan yang bergerak di bidang hiburan tersebut.


Namun, Dariush bulan ini sedang sibuk-sibuknya. Bahkan ke Swiss pun dia nekat pergi walaupun tak mengajukan cuti. Sehingga tak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaan yang berada di Helsinki. Pria itu mencoba membujuk dan mengajak sang kekasih agar mau pulang ke Helsinki.


Jujur, Dariush tak tenang kalau berada jauh dari Alceena. Wanitanya suka berbuat hal yang aneh-aneh dan diluar nalar. Bahkan pujaan hatinya itu berbeda seratus delapan puluh derajat dari saat menganggap musuh.


Kalau dahulu si rambut singa mantan primadona itu sering cuek dan mengabaikan Dariush, kini justru selalu mencari-cari perhatian dengan berbagai macam cara. Dariush tentu senang karena doa akhirnya terkabul juga untuk membuat Alceena bertekuk lutut sampai tak mau jauh, walaupun sedikit menyita waktunya. Tapi, dia menganggap itu adalah konsekuensi yang memang harus ditanggung karena harapannya saat itu ingin membuat Alceena lengket, hingga sekarang justru sangat mendempel sampai tak mau lepas.


Bujuk rayu Dariush untuk mengajak Alceena pulang ke Helsinki akhirnya berhasil juga. Si ibu hamil itu memilih mengalah dan meninggalkan pekerjaannya di Swiss. Anak Tuan Pattinson yang kedua itu sadar diri jika tak tahan berlama-lama jauh dari sang kekasih, dan Dariush juga tak bisa menemaninya di Switzerland terus.


“Hei, kenapa kau yang packing? Aku ‘kan sudah katakan untuk menunggu selesai dari toilet, nanti aku yang akan mengemasi semua barang bawaan.” Dari arah belakang, Dariush memeluk Alceena yang sedang asyik memasukkan barang-barang ke dalam koper.


“Memangnya kenapa? Sekali-sekali aku melakukan sendiri, tidak dilayani terus olehmu,” balas Alceena seraya mengusap punggung tangan sang kekasih.


“Bagaimana tak cinta kalau setiap hari kita mesra seperti ini terus. Bahkan hampir tak pernah aku tahu kalau kau mendekati wanita lain,” balas Alceena diiringi menutup koper yang sudah selesai packing.


Walaupun sudah selesai berkemas, Dariush tetap tak melepaskan pelukan. Justru mengajak Alceena untuk berjalan ke arah sofa, menarik wanita itu bersama dengan tubuhnya hingga terduduk di atas pangkuannya. “Boleh aku tanya sesuatu?”


“Apa?”


“Kenapa saat kau tahu hamil anakku, justru melanjutkan kehamilanmu itu dan tak berniat menggugurkannya? Bukankah kau sangat membenciku?” tanya Dariush yang penasaran.


Alceena berubah posisi menjadi miring agar bisa menatap Dariush. Sembari menjawab, dia mengusap rahang tegas pria itu. “Karena aborsi berbahaya jika bukan karena kondisi mendesak, bisa saja suatu saat nanti akan membuatku sulit hamil jika melakukan hal tersebut. Belum lagi risiko lainnya yang bisa meregang nyawaku. Dan aborsi juga sama dengan membunuh darah dagingku sendiri. Jadi, lebih baik aku menerima takdirku ini. Lagi pula, secara perlahan aku menyadari perasaanmu yang serius dan tidak pernah mempermainkan aku. Membuatku perlahan membuka hati untuk mulai membalas cintamu.”


...*****...


...Fix, kita mundur berjamaah. Udah gaada celah lagi buat masuk jadi pelakor...