
Dariush buru-buru ke rooftop untuk memastikan kondisi wanitanya baik-baik saja. Sebab, saat dia melihat dari rekaman CCTV, Alceena terlihat tak seperti biasanya.
Anak Tuan Dominique yang kedua sudah memijakkan kaki di bagian gedung hotel yang paling atas. Kornea matanya dapat menangkap jelas sosok wanita yang tengah berdiri di ujung dekat pembatas.
Pria itu bisa mendengar jika Alceena sedang mengumpat. Tahu betul kalau wanitanya seperti sedang marah. Tergambar dari rahang yang mengeras dan bibir tak mengulas senyum.
“Memang dasar pecundang!”
“Sialan!”
“Picik!”
“Brandon Brooks, ku pastikan kau membayar lunas karena ulahmu!”
“Argh ... bisa-bisanya aku pernah menyayangi manusia berotak kotor seperti dia!”
“Mati saja kau!”
Semua kata-kata kasar itu terlontar dari bibir Alceena. Dia berteriak sangat keras karena sejak tadi sudah memendam emosi yang tak bisa diluapkan pada keluarganya. Bahkan dirinya sampai terengah-engah karena mengeluarkan banyak tenaga untuk mengumpati dalang dibalik rumor dirinya mandul.
Dariush tidak langsung mendekati Alceena. Dia mengamati terlebih dahulu, menilai situasi yang sedang dihadapi.
“Argh ...!” Alceena menjambak rambut pirangnya sekuat mungkin. Terakhir kali dia meluapkan emosi pada Aldrich, membuat kakaknya sakit hati dan berakhir keluar dari mansion. Kini dirinya mulai belajar dari pengalaman. Memilih menumpahkan segala ucapan kasar pada udara.
“Selena bodoh! Bisa-bisanya menutupi kesalahan Brandon! Argh ... dasar pasangan tak tahu diri semua!”
“Memangnya apa salahku pada kalian sampai menghancurkan reputasiku?!”
Alceena tetap tak bisa diam. Hatinya belum puas mengumpat. Dia juga belum menemukan Brandon untuk dimintai kejelasan. Sengaja ingin meluapkan emosi terlebih dahulu agar bisa menghadapi mantan calon suaminya dengan elegant.
Dariush mulai merasakan jika emosi Alceena tak terkendali karena beberapa kali menyakiti diri sendiri dengan menarik rambut pun tak bisa tinggal diam.
Segera kaki Dariush mengayun mendekati wanitanya. Langsung merengkuh Alceena dari belakang, dan menyandarkan kepala di bahu.
“Tenang, Sayang. Ingat, kau sedang hamil. Marah boleh, berlebihan jangan.” Dariush berbisik di telinga Alceena seraya mengelus perut yang terisi anak-anaknya.
Alceena menengok ke samping, di mana kepala sang pria sedang menambah beban pundaknya. “Aku tidak marah, hanya kesal saja.” Dia menyanggah, tak mau dituduh marah.
“Sama saja.” Dariush membalikkan tubuh Alceena dan memeluk wanita itu dengan penuh kasih sayang. “Apa yang membuat wanitaku sampai berkata kasar sendirian?” Suara yang mengandung pertanyaan tersebut mengalun lembut.
Alceena membalas melingkarkan tangan di tubuh Dariush. Kedatangan pria itu mampu meredam emosinya yang sejak tadi sangat menggebu. Dia membenamkan kepala di dada bidang yang ada dipelukannya, dan menikmati aroma tubuh yang sangat wangi serta membuat jiwanya nyaman.
“Aku sudah mengetahui siapa orang yang menyebarkan rumor. Brandon Brooks. Tapi aku belum mengetahui motif jelas dari bibirnya secara langsung. Dan sebelum mencari keberadaan si pecundang itu, aku ingin meluapkan emosi agar tak bar-bar saat menghadapi dia.”
“Masalah Brandon, kita pikir belakangan. Sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu dan anak-anak. Jangan sampai kau mendapatkan kepuasan membalas perbuatannya, tapi membuatmu kehilangan janin yang didapat dengan penuh perjuangan.”
Dariush menggendong Alceena untuk dia bawa kembali ke kamar. Wanita itu sudah terlihat lelah setelah mengeluarkan banyak tenaga untuk berteriak. Tentu saja dirinya tak ingin sampai terjadi keguguran di saat usia kehamilan wanitanya masih sangat rentan.
...*****...
...Walah, Ceena mulai jinak sama Dariush sekarang wkwkwk si Presiden Jomblo dah kaya pawang...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...