
Dariush yang melihat Alceena hendak keluar dari rumah sakit pun dengan sengaja berdiam diri di teras depan pintu keluar yang ada di dekat lobby. Posisinya membelakangi arah orang yang lalu lalang dari dalam, sehingga hanya bisa melihat punggung kekarnya saja.
Dariush melirik sekilas ke belakang, melihat Alceena yang jalan sedang tak fokus karena sembari merogoh tas seperti mencari sesuatu. Mendadak otak usilnya bekerja. Dia sengaja berpindah posisi searah dengan jalannya Alceena. Berpura-pura menelepon seseorang, padahal tak ada yang dia hubungi.
Dug!
“Aw!” pekik Alceena yang menabrak punggung kekar orang di depannya. “Maaf, aku tak sengaja,” ucapnya seraya sedikit membungkukkan badan, menandakan dia mengaku bersalah karena jalan tak fokus.
Dariush masih memegang ponsel yang menyentuh di telinga. Membalikkan tubuh dan menatap dingin ke arah Alceena. Tak ada sepatah kata pun yang terlontar, hanya lirikan mata tajam yang dia tunjukkan. Padahal, dalam hatinya sedang bersorak gembira karena bisa melihat wanita pujaannya lagi.
“Ck! Kau lagi, pasti se—” Alceena yang hendak menuduh bahwa Dariush sengaja membuatnya agar menabrak pun berhenti tak jadi mengomel. Dia ingat pesan dokter agar tak emosi. Dan berakhir dengan menghela napas supaya lebih sabar.
Dariush berbalik badan, tidak menanggapi Alceena. “Iya, aku akan segera ke sana.” Dia berucap seolah-olah sedang berbicara dengan orang yang ditelepon.
Dariush mengayunkan kaki begitu saja tanpa memperdulikan Alceena yang saat ini sedang menatapnya dengan wajah kesal. Pria itu sedang mengulas senyum tipis. “Ayolah anakku, mulai bekerja membantuku untuk menakhlukkan Mommymu. Buat dia datang menghampiriku,” mulutnya komat kamit mengumamkan doa.
Sedangkan Alceena, dia mengepalkan tangan saat Dariush masih saja dingin dengannya. Kakinya terayun menuju mobil yang terparkir di luar gedung. “Biasanya dia sudah memegang pinggulku secara tiba-tiba, sekarang rasanya aneh saat bertemu Dariush tapi dia diam saja,” ucapnya sangat lirih.
Alceena berdiri di samping kendaraannya, menatap di mana mobil Dariush terparkir. “Jika kau menghampiriku sekarang, aku akan pertimbangkan untuk tak membencimu, mungkin kita bisa berteman.”
Tapi sayang, itu hanyalah harapannya saja. Nyatanya, Dariush sudah masuk ke dalam mobil dan mulai mengeluarkan dari area parkir.
Alceena menghela napas kasar. Dia mengurungkan niat untuk membuka mobil. Tanpa diduga, tubuh seksinya berdiri di tengah jalan, menghadang kendaraan Dariush agar berhenti.
Dariush turun dari mobil, masih memasang wajah dingin agar mendalami sandiwara. “Minggir, kau menghalangi jalanku! Apa kau sudah bosan hidup sampai berdiri di tengah jalan seperti itu?” Nada bicaranya terdengar sinis.
Alceena berpindah posisi menjadi di hadapan Dariush. “Aku ingin menebeng.”
Alis Dariush terangkat sebelah. “Memangnya kenapa mobilmu?” tanyanya seraya menunjuk kendaraan berwarna abu-abu mengkilap milik Alceena.
“Kunciku hilang, entah terjatuh di mana,” kilah Alceena secara asal.
Jika sedang tak bersandiwara, Dariush rasanya ingin tertawa dan menarik tubuh Alceena ke dalam dekapannya. “Lalu, yang ada di tanganmu itu apa?” celetuknya menunjuk benda yang dipegang oleh wanitanya.
‘Alceena, kau bodoh sekali mencari alasan,’ gumamnya dalam hati merutuki diri sendiri.
“Bensinku habis, aku lupa mengisinya.” Alceena mencoba berkilah lagi.
“Bukankah mobilmu keluaran terbaru dan tak memakai bahan bakar minyak? Dia hanya butuh kau isi daya listriknya, pasti pekerja di mansionmu sudah mengisi sebelum dipakai oleh majikannya.”
...*****...
...Udahlah Ceena, tinggal bilang aku kangen tengilmu aja susah banget wkwkwk...
...Jangan lupa like, komen, vote, dan kirim hadiah ya bestie...