My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 152


Kalau Cathleen dan Alceena sudah berangkat menuju lokasi pesta lajang, lain hal dengan Gerald yang baru saja bangun tidur. Pria itu terlihat keluar kamar karena merasa haus.


“Makan dulu, Ge, aku sudah membelikan makanan untukmu,” ajak Geraldine yang pagi-pagi sekali datang ke apartemen kembarannya setelah semalam menyusun rencana bersama Tuan Dominique.


Gerald tak peduli dengan kembarannya yang tiba-tiba ada di dalam tempat tinggalnya. Bahkan tak menanyakan apakah Geraldine semalam tidur di sini atau pulang. Sungguh pria itu lebih acuh daripada Daddy George.


“Aku belum lapar,” tolak Gerald. Dia melewati meja makan dan tak tertarik sedikit pun dengan hidangan yang dibawa oleh Geraldine. Justru pria itu mengambil gelas dan diisi dengan air kran.


“Kau tak menghargaiku. Jauh-jauh aku membeli makanan untuk memperhatikanmu yang tinggal sendirian dan jarang merawat diri,” omel Geraldine.


Gerald membasuh wajah di wastafel, membiarkan kulitnya basah, dia membalikkan tubuh hingga pandangan jatuh pada kembarannya. “Aku tak pernah memintamu untuk melakukan itu semua.”


Kaki Gerald mengayun meninggalkan dapur dan masuk ke dalam ruangan khusus untuk tempatnya menghilangkan suntuk. Pria itu kembali menghidupkan komputer, bersiap hendak bermain game.


Geraldine yang diacuhkan pun berdecak. “Bagaimana dia bisa move on dan dapat wanita, jika kelakuannya semenyebalkan ini,” gerutunya.


Wanita berumur dua puluh lima tahun itu berhenti berkomat-kamit saat mendapatkan panggilan. “Ya, Uncle?”


Daddy Davis yang menelepon. “Lama sekali, sudah berhasil belum?” Dia menanyakan situasi rencana licik yang sedang dilakukan oleh keponakannya.


“Gerald tak mau makan, sekarang justru masuk lagi ke ruang game. Pintunya terdengar dikunci, aku harus bagaimana?”


“Pecahkan piring, kau bersandiwara saja seolah-olah mengamuk karena Gerald menolak makan.”


“Oh, oke, aku akan coba lakukan. Jika berhasil, nanti ku telepon lagi.” Geraldine hendak mematikan panggilan tersebut.


Tapi, Daddy Davis memberikan perintah terlebih dahulu, sebelum benar-benar terputus. “Jangan lama-lama, aku sudah seperti kakek-kakek yang tak bisa berjalan saja jika menunggumu di atas kursi roda.”


“Iya.” Geraldine mematikan panggilan, menelungkupkan layar ponsel ke atas meja.


Wanita dengan nama lengkap Geraldine Gabriella Giorgio itu melancarkan saran gila yang diberikan oleh sang paman.


“Gerald ...!” teriak Geraldine seraya membanting satu piring kaca hingga menimbulkan bunyi.


Pyar!


Pyar!


“Argh ...!” Geraldine merintih setelah membanting alat makan berupa kaca. “Keluar kau Gerald! Benar-benar sialan!”


Orang yang sejak tadi dipanggil pun menghela napas kasar. Mengurungkan niat untuk membuka salah satu aplikasi game karena teriakan dari luar ruangan itu sungguh mengganggu kenyamanannya. Kaki Gerald mengayun menuju pintu dan memilih keluar.


Mata pria itu langsung melihat area dapur yang berantakan. “Kau gila, ya?!” sentak Gerald dengan mata nyalang menatap pada kembarannya.


“Kau yang membuatku gila menghadapi sifat dinginmu itu!” Geraldine menunjuk saudaranya menggunakan serpihan kaca yang lumayan besar. Matanya terlihat membulat, menunjukkan bahwa saat ini sedang emosi.


“Pulang sana! Kalau kau di sini hanya menganggu ketenanganku!” Gerald menunjuk arah pintu.


Rencana Daddy Davis bukannya berhasil, justru si manusia berhati dingin itu mengusir kembaran sendiri.


“Heh! Aku ini saudaramu! Tidak sepantasnya kau memperlakukanku seperti orang asing!” Geraldine tak mau kalah, dia ikut marah-marah.


Gerald mengeluarkan napas kasar, urusan bisa panjang jika dia dan sang kembaran bertengkar. “Lalu, apa maumu?”


“Aku hanya ingin kau menghargaiku, duduk dan makan hidangan yang sudah susah payah aku beli dari luar!” pinta Geraldine dengan suara tegas.


...*****...


...Kira-kira dong kalo berantem wey, jadi berasa aku yang marah-marah...


...Aku dah kasih visual Cathleen otw pesta lajang ya, ada di instagram story aku @heynukha...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...