
Alceena sudah selesai membersihkan tubuh. Dia hanya melilitkan handuk kecil yang menutupi sebatas dada dan pantat saja. Segera keluar dari kamar mandi dan langsung mendapatkan tatapan dari Dariush.
Dariush menaikkan sebelah alis, selalu terpana dengan tubuh molek wanita pujaannya. “Kau ingin menggodaku?” Dia bertanya seraya berdiri, mengayunkan kaki kian mendekati Alceena.
“Tidak, untuk apa menggodamu, kurang kerjaan sekali,” jawab Alceena. Dia memegang erat handuk agar tak merosot ke bawah.
Dariush yang sudah berdiri di hadapan Alceena pun langsung menyentuh pantat wanita itu, semakin merapatkan tubuh hingga tak ada jarak sedikit pun. Tangan menyapu rambut yang menutup tengkuk, dengan sengaja menyentuhkan jemari dengan kulit. “Lalu, kenapa kau tak menutup tubuh dengan pakaianmu yang tadi? Justru melilit menggunakan handuk yang pastinya tak memakai dalaman?” Suara itu lirih berbisik di telinga Alceena.
Alceena mendorong kepala Dariush agar memberikan jarak. Dia sampai tahan napas karena merasa geli dengan hembusan angin yang keluar dari hidung dan bibir keturunan Dominique itu. “Pakaianku yang tadi tak sengaja jatuh dan sekarang basah. Lalu, aku juga lupa membawa kunci kamar.” Dia menceritakan dengan jujur apa yang dialami. “Boleh aku minta tolong sesuatu?” pintanya kemudian diiringi cengiran.
Masih dalam jarak yang sangat intens, Dariush juga tak melepaskan tangan yang bersemayan di pantat, dia justru memberikan usapan pada pipi sang wanita dengan sangat lembut. “Apa yang kau inginkan?”
“Tolong mintakan kunci ke resepsionis.” Dengan berani, Alceena mengunci sorot mata Dariush. Keduanya bersitatap, dan dada juga sama-sama merasakan debaran.
Dariush menyungginggkan senyum licik. Meremas pantat kencang sang wanita. “Tidak gratis, kau harus menciumku.” Pria itu mencoba bernegosiasi demi simbiosis mutualisme.
Alceena langsung menoyor kepala Dariush. “Kau sudah kembali seperti dulu lagi, cabul dan mesum.”
“Cabul pun hanya denganmu saja.” Kedipan genit tercetak jelas di wajah tampan Dariush. Perlahan tangan kekarnya berpindah menggenggam Alceena. “Pakai bajuku saja, sepulang dari rumah sakit baru ku mintakan kunci kamarmu.” Dia menuntun sang wanita untuk duduk di kursi yang mana meja sudah tersedia makanan. “Sekarang kau isi perut dulu,” titahnya kemudian.
“Yang penting cukup kau pakai.” Dariush tidak ikut duduk di sana, dia sedikit membungkukkan badan agar wajah bisa berhadapan dengan Alceena. “Aku mandi dulu, Sayang. Saat aku selesai, kau harus sudah menghabiskan makanannya.” Anak Tuan Dominique melabuhkan kecupan di kening. Barulah dia pergi menuju kamar mandi.
Alceena sampai tak bisa berkata apa-apa. Hanya bergeleng kepala dengan kelakuan Dariush yang manis, perhatian, tapi juga cabulnya tak tertinggal.
“Padahal Tuan Dominique terlihat dingin dan tegas, kenapa Dariush bisa cabul seperti itu?” gumam Alceena. Tidak ada yang bisa menjawab itu, dia pun melahap hidangan yang tersaji di meja. Semuanya dihabiskan tanpa tersisa.
Selesai mandi, Dariush keluar dari kamar mandi dan langsung melihat lima piring di hadapan Alceena telah kosong. Dia tak disisakan makanan sedikit pun. Tak masalah, justru Dariush senang.
Dariush tak langsung menghampiri Alceena, dia mengambil kaos hitam dan dalaman miliknya. Barulah mendekati sang wanita. Memberikan usapan di puncak kepala seraya menyodorkan pakaian yang dia bawa ke hadapan Alceena. “Pakai saja ini, pas untukmu.”
...*****...
...Ceena ... aku juga gatau kenapa Dariush bisa cabul sama kamu wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dah hadiahnya bestie...