
Alceena menolak saat ditawari untuk tinggal di mansion keluarga Dominique. Bukannya dia tak nyaman, di sana semua terasa hangat. Tapi, tak enak hati dengan seluruh penghuni tempat itu karena belum bisa memberikan kepastian hubungan pada Dariush.
Alceena tak ingin dinilai hanya memanfaatkan saja oleh keluarga Dominique, kalau datang saat butuh. Sehingga dia meminta untuk diantarkan mencari apartemen.
Pria itu tak membawa Alceena untuk mencari apartemen setelah makan, lebih tepatnya hanya menyaksikan sang wanita melahap berbagai macam hidangan di sebuah restoran terkenal. Dia langsung membawa pujaan hatinya ke sebuah penthouse, salah satu aset miliknya.
Hari sudah sore menjelang malam. Tapi langit masih terlihat terang. Dariush membukakan pintu untuk Alceena masuk. Dengan merangkul pinggul wanitanya, pria itu menuntun agar mengayunkan kaki bersamaan.
“Daripada bingung mencari tempat tinggal, gunakan saja penthouseku. Jarang ku tiduri karena aku tak suka hidup sendirian,” ucap Dariush seraya memperlihatkan kamar utama yang sangat luas. “Kau bisa tidur di sini. Ada barang-barangku di walk in closet, tapi masih banyak space kosong untuk kau gunakan.”
Alceena menurut saja saat diajak mengelilingi penthouse yang sangat besar itu. Bahkan tertata rapi dan memiliki semua perlengkapan layaknya rumah mewah. Warnanya juga dia suka, abu-abu berpadu hitam yang terlihat elegan.
“Jika tak suka tinggal sendiri, kenapa kau membeli ini?” tanya Alceena dengan alis yang terangkat sebelah karena bingung. “Apa terlalu kaya membuatmu sampai bingung caranya menghabiskan uang?” tebaknya secara asal.
Dariush terkekeh mendengar ucapan Alceena. Dia melepaskan tangan dari koper untuk menghampiri wanitanya yang sedang melihat seisi penthouse.
Tiba-tiba Dariush langsung mengacak-acak rambut Alceena dari belakang. Lalu merendahkan kepala hingga tersandar di pundak Alceena. Dia ikut melihat pemandangan di luar dari jendela. “Penthouse ini adalah salah satu aset, bisa ku tinggali jika sudah memiliki pasangan,” jelasnya seraya melingkarkan tangan untuk merengkuh pinggul kesukaannya.
“Jadi, sudah berapa banyak wanita yang kau ajak ke sini?” tanya Alceena sangat penasaran.
“Satu, baru kau saja.”
Alceena tanpa sadar mengulas senyum dan mengusap punggung tangan Dariush yang menempel di tubuhnya.
Kepala Alceena sedikit menengok ke kiri hingga matanya bisa melihat wajah Dariush. “Apa?”
Dariush tidak langsung menjawab dengan suara. Dia justru menggenggam tangan Alceena. “Ikut aku.” Pria itu membawa sang belahan jiwa ke balkon.
Dariush memposisikan Alceena untuk menghadap ke balkon di unit samping. “Kau lihat penthouse di sebelah?”
Alceena mengangguk. “Iya, memangnya kenapa dengan unit di sebelah?”
“Itu milik Delavar. Dia dan istrinya tinggal di sana. Karena aku jadi satu-satunya anak yang belum menikah di keluarga Dominique, maka memutuskan untuk membeli ini agar bisa mengganggu kembaranku saat ingin bercinta,” jelas Dariush dengan tertawa kala mengingat wajah Delavar yang kesal setiap kali diganggu olehnya.
Lima jari Alceena mengusap wajah Dariush dari atas ke bawah. “Jahil sekali.”
Dariush membalikkan tubuh Alceena hingga keduanya berhadapan dengan jarak yang sangat tipis. “Aku terlalu bosan karena tak ada yang menemani bercanda lagi saat hari biasa.”
Alceena berdecak dan bergeleng kepala merutuki keisengan prianya. “Keturunan pebisnis terkaya di Eropa kalau sedang tak ada kerjaan ternyata kelakuannya ada-ada saja, diluar nalar,” ejeknya seraya mencubit gemas kedua pipi Dariush.
...*****...
...Kamu gatau aja Ceena, mereka hampir memutuskan pensiun jadi orang kaya gara-gara lampu gudang mati tapi gaada yang tau wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...