
“Oh iya, ngomong-ngomong, bayi siapa yang kau kandung? Aku belum mendengar kau menikah atau berpacaran dengan pria lagi setelah kejadian acara pernikahanmu. Jika orang itu tak mau bertanggung jawab denganmu, aku akan menggantikan dia sebagai Daddy dari bayimu,” ucap pria lainnya lagi.
“Hamil anak siapa bukan urusan kalian, yang penting aku tak merugikan siapa pun! Dan aku tak butuh pengganti sebagai Daddy anakku!” Alceena meletakkan gelas di atas meja setelah berucap tegas. “Permisi.” Dia memilih meninggalkan sekumpulan pria penjilat itu.
Lebih baik Alceena mencari kembarannya saja daripada dipusingkan dengan banyaknya pria yang mulai mendekatinya lagi setelah rumor dipatahkan.
“Kenapa wajahmu kesal?” tanya Cathleen saat melihat Alceena sudah berdiri di sampingnya.
“Malas dengan para pria penjilat itu. Mulai banyak yang mendekatiku lagi,” jawab Alceena ditutup dengan decakan.
“Bukankah itu yang kau inginkan? Rumor hilang, pasti banyak pria yang akan mendekatimu lagi.”
“Tidak, aku hanya ingin membersihkan nama baikku saja,” sanggah Alceena meluruskan pemikiran Cathleen yang salah.
Tak ada pembicaraan lagi diantara saudara kembar itu.
“Apa di sini tak ada kursi? Lelah sekali aku berdiri.” Alceena menggoyangkan kakinya yang pegal.
“Namanya juga standing party,” jelas Cathleen. “Kau mau ku carikan kursi?” tawarnya kemudian.
Alceena menggelengkan kepala. “Tidak, aku masih kuat berdiri,” tolaknya.
“Baiklah.” Cathleen pun kembali mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ballroom tersebut. Mencari seseorang yang sangat ingin dia lihat. “Apa keluarga Dominique tak hadir di acara ini?”
“Hadir, tadi aku sempat melihat tiga anak Tuan Dominique,” jawab Alceena yang ikut melihat ke seluruh penjuru ruangan berukuran besar itu. Dia juga ingin melihat Dariush walaupun dalam kejauhan.
Danesh, Delavar, dan Dariush baru saja masuk dengan digandeng pasangan masing-masing.
Danesh bersama Felly jalan di depan, Delavar dan Amartha menyusul di belakang, terakhir ada Dariush dan digandeng oleh seorang wanita cantik dan seksi yang sengaja disewa untuk memanasi Alceena.
Alceena yang melihat kehadiran Dariush bersama seorang wanita pun memegang dadanya yang terasa berdebar. Ada perasaan takut tak bisa menatap pria itu lagi walaupun dari kejauhan saat sudah dimiliki oleh orang lain. “Apakah ini yang dimaksud oleh Danesh?” gumamnya dengan suara lirih.
Namun, lain hal dengan Cathleen yang langsung menekuk wajah. Tangannya menyenggol Alceena. “Ceena, ternyata Dariush sudah memiliki wanita lain.”
Alceena mencoba mengulas senyum yang terasa hambar. Dia tak ingin menunjukkan bahwa saat ini sedang merasa tidak senang melihat Dariush bersama wanita lain. “Namanya juga keluarga Dominique, mudah saja bagi mereka untuk mendapatkan pasangan.”
Cathleen merangkul lengan Alceena. “Ternyata tak ada dari kita yang mendapatkan Dariush. Dia memilih wanita lain. Apakah ini yang dinamakan keadilan dari Tuhan agar kita tak bertengkar karena pria?”
Bahu Alceena mengedik. “Mungkin.”
Acara malam itu pun dimulai juga setelah semua tamu undangan hadir di dalam ballroom. Alceena dan Dariush berdiri di meja setinggi dada orang dewasa. Jarak keduanya tak terlalu jauh.
Keduanya saling bertemu pandang. Namun, Dariush sebisa mungkin tetap menjalankan rencananya untuk membuat Alceena cemburu. Dia merengkuh pinggul wanita yang disewa, berpura-pura mengabaikan Alceena yang terus menatapnya. Dariush justru membuat suasana seakan-akan sedang fokus dengan kembarannya yang menggandeng pasangan masing-masing.
Alceena berdesis saat perutnya tiba-tiba merasakan sakit. Memegang bagian tubuhnya yang sedang tak bersahabat. “Cath, aku kembali ke kamar dulu,” pamitnya yang tak kuat terus berdiri, ditambah pemandangan di depan matanya tak mengenakkan.
...*****...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan kirim hadiah bestie...