
“Hi, Dariush.” Justru Cathleen yang berinisiatif untuk menyapa pria yang baru saja menutup pintu. Dia sedikit canggung karena sudah lama tidak pendekatan dengan lawan jenis.
Dariush hanya mengulas senyum kaku, dia tidak tertarik untuk membalas sedikit pun menggunakan suara. Sebab, percuma saja karena Alceena tetap tak terlihat cemburu.
“Dariush!” Delavar berseru untuk memperingatkan kembarannya agar segera pergi.
“Iya!” Sebelum mengayunkan kaki, Dariush menyempatkan untuk menatap dingin ke arah Alceena. Dan barulah dia berjalan beriringan dengan Delavar yang sama-sama menggendong bayi.
Alceena melotot saat melihat punggung Dariush kian menjauh. ‘Pria itu tak cocok menjadi acuh seperti itu!’ Dia menggerutu dalam hati seraya mencengkeram tangan Cathleen dan genggaman kopernya.
“Ceena! Kau menyakitiku!” Cathleen menggoyangkan tangannya yang merasakan tertusuk kuku.
“Sorry, anak Tuan Dominique itu sombong sekali, membuatku kesal.” Alceena segera mengendurkan genggaman.
“Untuk apa kau kesal? Bukankah memang seperti itu semua anak-anak keluarga Dominique?” timpal Cathleen. Keduanya pun kembali berjalan di belakang Dariush dan Delavar yang ada di depan dengan jarak kurang lebih empat meter.
“Tentu saja karena kau menyapa Dariush tapi tak ditanggapi sedikit pun olehnya,” jelas Alceena dengan nada bicara yang terdengar geram.
“Kenapa justru kau yang kesal? Aku saja tak masalah, setidaknya dia masih membalas dengan senyuman,” sanggah Cathleen.
Alceena hanya menghela napas. Sudahlah, percuma juga memberi tahu orang yang jatuh cinta, pasti tak akan didengarkan juga.
Mereka pun sampai di basement. Alceena dan Cathleen harus melewati Dariush dan Delavar yang sedang berdiri di samping mobil rolls royce.
Dariush tetap tak melirik Alceena. Sesungguhnya dia sedang berusaha sekeras mungkin untuk menjadi pria dingin di hadapan wanita pujaannya. Dariush langsung masuk begitu saja di bangku belakang karena membawa bayi. Dan kendaraan keluarga Dominique pun langsung melesat begitu saja.
“Dasar keluarga sombong,” cibir Alceena sangat lirih. Bibirnya komat-kamit merutuki anak-anak keluarga Dominique.
“Tidak,” kilah Alceena seraya memencet tombol untuk membuka pintu mobilnya.
Kedua wanita itu pun sama-sama masuk ke dalam kendaraan dan segera pergi meninggalkan rumah sakit.
Duduk Alceena masih sengaja melebar, karena saat ini lebih nyaman jika tak terlalu dirapatkan. Mungkin efek pertama kali alat reproduksinya dimasuki oleh alat-alat kedokteran.
“Tadi Dariush terlihat keren sekali, apa lagi saat menggendong bayi. Sudah cocok menjadi Daddy.” Tiba-tiba Cathleen berbicara dengan memuji pria incarannya.
Alceena mencebikkan bibir. “Dia lebih cocok jadi babysitter.” Tapi lain dengannya yang menghina Dariush.
“Kau itu jangan menghina Dariush terus. Takutnya jika kau terlalu membencinya, bisa-bisa jadi cinta. Dan aku tak ingin itu terjadi, nanti bersaing denganmu,” tegur Cathleen.
“Lalu, aku harus bagaimana? Memang seperti ini keadaannya, aku sangat membencinya.”
“Kalau tak suka, sewajarnya saja. Tidak perlu dibesar-besarkan dengan membenci semua hal tentang Dariush. Toh jika aku berhasil mendapatkan hatinya, dia akan menjadi iparmu.”
Alceena menginjak pedal gas saat lampu rambu lalu lintas berwarna merah. “Ya, ya, ya, aku akan mencoba berhenti membencinya.”
“Nah, tidak perlu berlebihan. Sesuatu yang berlebihan akan berakhir tidak baik.”
Alceena memilih diam daripada menanggapi Cathleen. Dia melajukan kendaraan lagi dengan kecepatan biasa saja dengan hati yang tiba-tiba sedikit berkecamuk karena tak ada perlakuan usil dari Dariush lagi yang mewarnai harinya.
...*****...
...Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...