
Dokter sudah mengecek tekanan darah Alceena juga. Namun, tidak mendapatkan kejanggalan atau keanehan dalam kondisi kesehatan pasiennya.
“Jadi, bagaimana kondisi dia dan anaknya, Dok?” Dariush justru yang lebih penasaran dan tak sabar ingin segera mengetahui kalau wanitanya beserta janin di dalam sana masih baik-baik saja.
“Tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh, semuanya normal, Tuan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” jelas dokter tersebut.
“Tapi, kenapa bisa dia merasakan kram di perut jika tak terjadi apa pun?” Dariush masih tidak bisa menerima jawaban petugas medis itu.
Dokter mengulas senyumnya. “Jika ada kondisi yang darurat, pasti akan ditandai dengan gejala-gejala dari tubuh yang mulai tak normal. Seperti detak jantung semakin cepat atau melemah, tekanan darah naik ataupun turun, atau bisa kram yang tak berkesudahan. Namun, dari hasil pemeriksaan saya, semuanya normal, Tuan.” Dia masih berusaha menjelaskan lebih detail pada Dariush agar bisa mencerna setiap ucapannya. “Jika ingin memastikan lebih akurat lagi, besok Anda bisa datang lagi ke sini untuk memeriksakan kandungan dengan dokter obgyn. Kalau untuk saat ini, kondisi pasien tidak terlalu mendesak untuk dilakukan penanganan.”
“Panggilkan dokter obgyn sekarang saja, tak sabar aku ingin mengetahui kondisinya,” pinta Dariush dengan memaksa.
Alceena segera meraih tangan Dariush. Memberikan usapan lembut di permukaan kulit. “Sudahlah, dokter mengatakan aku baik-baik saja, pasti hanya butuh istirahat. Kau tak perlu memperbesar masalah sepele seperti ini. Lebih baik kita pulang.”
“Tidak bisa seperti itu, Ceena. Kau sempat kram, pasti ada sesuatu yang salah dengan perutmu,” tolak Dariush.
Kepala Alceena bahkan menggeleng menghadapi kelakuan Dariush yang ternyata keras kepala juga. “Aku yang hamil, kenapa justru kau yang lebih khawatir.” Dia tahu jika Dariush mencintainya, tapi tak menyangka saja kalau pria itu sampai peduli dengan janin dalam kandungannya.
Seketika itu Dariush terdiam. ‘Karena anak yang kau kandung adalah anakku, bagaimana bisa aku tak khawatir dengan darah dagingku sendiri.’ Dia justru bergumam dalam hati karena tak bisa mengungkap rahasia tersebut.
Alceena menumpukkan telapaknya dengan tangan Dariush yang masih bersemayam di pipi, mengusap lembut seraya bibir mengulas senyum. “Iya, bagaimana aku bisa pergi kalau ke sini saja tak membawa apa pun kecuali pakaian.”
“Kau manis jika penurut seperti ini,” puji Dariush. Tangannya mencubit gemas hidung Alceena sebelum meninggalkan UGD.
Alceena menatap punggung Dariush yang berangsur menjauh. “Sepertinya aku memang sedang dikutuk karena terlalu membencinya, dan berimbas pada anakku yang menginginkan dekat dengan Dariush.”
Tangan Alceena pun mengelus perut yang masih belum terlalu membuncit. “Nak, apa kau tak suka jika Mommy membenci musuhku sampai selalu menyiksa setiap hari dan akan sembuh saat bersama Dariush?” Dia berbicara seolah sedang berkomunikasi dengan anaknya. “Sepertinya begitu. Baiklah, aku tak boleh membenci siapapun lagi, agar tak tersiksa seperti ini.” Tak ada yang menanggapi pertanyaannya, Alceena pun menjawab sendiri.
Tak berselang lama, Dariush kembali lagi menemui Alceena. Cukup senang hatinya bisa merawat wanita yang sedang mengandung anaknya. Ditambah tak ada adu mulut seperti biasanya ketika mereka bertemu.
...*****...
...Nah gitu dong, adem yang liat kalo akur wkwkwk...
...Baru dua bulan udah bikin susah emak bapaknya aja lu tong, gimana kalo makin gede wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...