My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 161


Dariush sampai mengejar Alceena hingga ke penthouse karena kekasihnya tak mau berhenti sebentar untuk mendengarkan apa yang hendak dia katakan. Wanita itu justru terus berjalan dan menghiraukan dirinya. Dan anak Tuan Dominique yang kedua itu sudah tahu kalau pujaan hatinya pasti sedang merajuk. Biasanya, wanita jika sudah seperti itu ingin dibujuk.


“Sayang, berangkat ke Switzerland diundur dulu saja, ya? Aku sungguh tak bisa menemanimu kalau sekarang,” ucap Dariush seraya mengambil kembali pakaian Alceena yang tengah ditata ke dalam koper, dia letakkan setiap kain ke almari yang ada di walk in closet.


Namun, Alceena terus mengambil setiap potong kain yang dikembalikan oleh kekasihnya. Dia tetap mempacking yang harus dibawa. “Tidak bisa, tiket sudah aku beli, dan shooting juga telah dimulai sejak satu minggu yang lalu.” Dia menolak secara tegas dan memasang wajah super jutek.


Dariush menghembuskan napas kasar. Setiap pasangan memang ditakdirkan dengan sifat yang berbeda-beda. Alceena yang keras kepala, untung saja dicintai oleh seorang Dariush yang bisa sabar menghadapi wanita itu. Tangan anak Tuan Dominique menyingkirkan koper dari atas meja agar sang kekasih tak melanjutkan packing.


Lalu pria itu duduk di meja, menarik Alceena hingga masuk ke dalam dekapan hangatnya. “Sayang, dengarkan penjelasanku. Aku memintamu untuk mengundur keberangkatan karena dalam bulan ini banyak sekali meeting penting yang tak bisa ku tinggalkan. Andai ada keluargaku bisa menggantikan untuk rapat, pasti aku akan ikut denganmu ke Switzerland.”


Dariush mencoba mengusap pipi wanita yang masih saja cemberut sampai sekarang. “Tapi, dalam bulan ini, Triple D Corp dan semua anak perusahaannya sedang sangat sibuk. Otomatis keluargaku tak ada yang luang juga.”


Alceena menyingkirkan tangan Dariush dari wajahnya. “Aku tidak mengharuskanmu untuk ikut, toh berani berangkat dan tinggal di Switzerland sendiri juga.” Dia mencoba keluar dari rengkuhan sang kekasih. “Aku ini wanita mandiri, bisa melakukan semua sendiri,” imbuhnya kemudian dengan nada sangat ditekan.


Dariush memijat pelipisnya yang mulai bingung harus menghadapi Alceena bagaimana.


“Tak apa jika kau tidak bisa menemaniku. Jangan dipaksakan.” Tiba-tiba Alceena bersuara dengan nada bicara yang tersirat sebuah sindiran. Dia menutup dan mengunci koper agar tak direcoki oleh Dariush lagi.


“Di mulut bilang tak apa, tapi sebenarnya dalam hati berkata sebaliknya,” ucap Dariush sangat lirih.


Dariush segera menghadang Alceena yang hendak meninggalkannya. “Ini masih siang, tiketnya ‘kan nanti malam, untuk apa kau keluar?”


“Terserah aku mau melakukan apa, salto di tengah jalan, kayang, split, adu panco, suka-suka aku!” ketus Alceena menjawab. Bibir semakin manyun saja wanita itu.


Dariush menahan tawa karena Alceena bukan nampak menyebalkan di matanya, justru terlihat menggemaskan. Tiba-tiba dia memeluk tubuh buncit sang kekasih dari belakang. “Aku akan mengantarmu ke Switzerland, tapi naik pesawat keluargaku saja, ya? Agar lebih cepat, kereta terlalu lama.”


“Aku ingin merasakan perjalanan antar negara menggunakan kereta. Toh kata dokter, kandunganku kuat, jadi tak masalah juga.” Alceena tetap berpegang pada keinginannya.


Tapi Dariush tak bisa tenang jika membiarkan orang yang sangat dia cintai itu melakukan perjalanan jauh seorang diri. Tangan kekarnya mengelus perut dan bisa merasakan tendangan dari anak-anaknya. “Besok pagi aku ada meeting dengan klien yang sangat penting, jadi kalau naik kereta tak akan terkejar waktunya. Ku mohon, gunakan pesawat pribadi keluargaku saja, oke? Suatu saat, kalau ada waktu luang akan ku ajak kau naik kereta untuk perjalanan antar negara. Tiket yang sudah kau beli, nanti ku ganti.” Pria itu terus mencoba membujuk agar Alceena mau menurutinya.


Dariush memang memiliki banyak uang, tapi tidak dengan waktu luang.


...*****...


...Hentikan kebucinan ini! Kalian membuatku menginginkan pasangan sesabar Dariush huaaaaaa...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...