
Kedikan bahu sebagai jawaban dari Madhiaz. “Sudah dua hari ini aku tak melihatnya.”
“Sejak kemarin juga tak ada di ballroom?” Cathleen kembali mengajukan pertanyaan. Tak biasanya mereka terpisah-pisah seperti acara di Munich ini.
“Tak tahu, Cath. Jika sudah di ballroom, aku lebih baik fokus pada acara, bukan mengamati orang-orang di sana,” balas Madhiaz seraya mengacak-acak rambut Cathleen yang telah berdiri di dekatnya. “Sudahlah, nanti juga ketemu di sana. Mungkin dia bersama Aldrich.”
Madhiaz merangkul adik kembarnya untuk diajak mengayunkan kaki menuju kamar Alceena. Namun, Cathleen yang sadar jika tujuan kakaknya bukan ke ballroom pun berhenti di tempat.
“Kenapa?” tanya Madhiaz, alisnya terangkat sebelah.
“Kita tak perlu menghamipir Alceena. Dia sedang ingin sendiri, kalau ditemani justru akan muntah,” jelas Cathleen. Dia memutar tubuh Madhiaz untuk diajak menuju lift.
Kedua orang itu pun mengurungkan niat untuk mengajak Alceena ke ballroom. Dua anak Tuan Pattinson menempati tempat duduk mereka masing-masing yang sudah disediakan.
Tapi Cathleen sangat penasaran dengan keberadaan Selena. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan berukuran besar itu saat acara baru saja dimulai.
“Selena tak datang? Saat makan pun aku tak melihatnya. Apakah dia baik-baik saja?” gumam Cathleen. Perasaannya jadi tak enak, entah pikiran apa yang membuat dia seperti ada sesuatu yang tak beres dengan saudara tirinya.
Cathleen pun berinisiatif untuk bertanya pada pebisnis lain. Siapa tahu ada yang melihat Selena. Dia awali dengan orang yang duduk satu meja dengannya. “Permisi.”
“Ya?”
“Apa kalian ada yang melihat saudaraku? Selena Eisten namanya.”
Orang yang ditanya justru terlihat bingung. Tak pernah mendengar ada nama itu, mungkin karena tidak terlalu terkenal, sehingga tak semua pebisnis muda di Eropa tahu Selena Eisten.
“Bisa kau tunjukkan fotonya? Aku tak mengenal banyak nama, tapi bisa ingat wajah dengan cepat,” pinta salah satu orang yang ditanya oleh Cathleen.
Dua orang menggelengkan kepala. “Tidak.”
Namun ada salah satu yang tiba-tiba menarik ponsel Cathleen untuk melihat wajah Selena lebih dekat. “Sepertinya ini wanita yang jalan ke arah restoran saat aku menuju ballroom,” beritahunya seraya mengembalikan gawai kepada pemilik asli.
“Kau yakin?” tanya Cathleen memastikan sekali lagi.
“Sangat yakin, tubuhnya kurus, tinggi, perutnya sedikit buncit seperti orang hamil, ‘kan?”
“Dia tak hamil,” sanggah Cathleen.
“Tapi aku melihatnya seperti orang hamil, karena saat istriku mengandung tiga bulan pun posturnya seperti dia. Memang, jika orang yang tak peka, tidak akan menyadari kalau melihat seseorang yang tengah hamil muda.”
“Oh, seperti itu. Terima kasih atas informasinya.” Cathleen memasukkan ponsel ke dalam tas kecilnya lagi. Dia terdiam sejenak, mencerna apa yang baru didengar.
Cathleen sangat penasaran. Apakah benar jika Selena sedang hamil atau tidak. Wanita itu menunggu untuk beberapa saat, siapa tahu saudaranya akan segera masuk. Tapi setelah lima menit berlalu, tetap tak datang.
Cathleen pun memilih untuk menuntaskan rasa penasarannya. Dia berdiri, meninggalkan ballroom untuk mencari Selena.
Keturunan terakhir keluarga Pattinson pun menuju restoran. Dia mengedarkan pandangan di tempat itu. Dan bisa melihat seseorang yang tengah dicari sedang berbincang dengan pria.
...*****...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...