My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 131


Sudah dua jam lamanya paha Dariush digunakan untuk bantal Alceena tidur di sofa. Wanita itu menolak saat dia sarankan untuk istirahat di kamar yang lebih empuk dan nyenyak. Justru memilih tempat yang sempit serta kurang leluasa untuk merebahkan tubuh.


Dariush dengan sabar membiarkan wanitanya terlelap terlebih dahulu karena terlihat jelas dari wajah Alceena yang nampak lelah. Sampai membuatnya belum mengajukan pertanyaan satu pun untuk menuntaskan rasa penasaran dengan alasan anak kedua Tuan Pattinson itu memilih keluar dari mansion.


Tangan kekar pria itu mengusap rambut Alceena yang terurai. Dengan hati-hati, dia mengangkat sedikit kepala sang wanita, menggeserkan pantat agar dia bisa berdiri.


Dariush ingin memindahkan Alceena yang sedang tidur pulas ke dalam kamar. Namun, dia berdiri sejenak karena paha terasa kesemutan setelah dijadikan bantal selama berjam-jam. Barulah mengangkat tubuh pujaan hatinya setelah dirasa kaki mulai normal.


Pria itu menggendong Alceena seperti panggeran yang sedang membawa seorang putri. Dia merebahkan sang wanita, menyelimuti tubuh belahan jiwanya agar terhindar dari dingin.


Dariush duduk di tepi ranjang dan menatap rakus wajah cantik Alceena. “Tidur pun masih membuatku selalu berdebar setiap kali melihatmu,” ucapnya seraya menyingkirkan helaian rambut yang sedikit menutupi kening.


Dariush tak ingin menganggu istirahat Alceena. Dia meninggalkan sebuah kecupan pada kening. Begitu dalam dan lama, terlihat betapa besar cinta serta harapan yang dia taruh pada wanita itu.


“Aku pulang dulu, maaf karena tak menemanimu di sini.” Meskipun Dariush tahu jika Alceena tak bisa mendengar saat tidur, tapi dia tetap berpamitan.


Perlahan Dariush mengayunkan kaki menuju keluar kamar. Sebelum meninggalkan ruangan itu, dia menyempatkan diri Untuk menengok, memastikan wanitanya terbangun atau tidak.


Dariush mematikan lampu kamar agar Alceena tak silau dan lebih nyenyak saat tidur. Jujur, dia berat meninggalkan wanitanya sendirian di sana. Tapi, anak kedua Tuan Dominique itu ingin menunggu sang belahan jiwa yang meminta sendiri untuk dirinya menetap dan menemani. Dia sudah cukup sering berinisiatif mendekati Alceena. Kini saatnya ingin menguji seberapa kuat ikatan batin anak-anaknya dengan sang Daddy.


Pria itu menunggu beberapa saat, siapa tahu Alceena terbangun untuk memintanya menemani tinggal di sana. Tapi sudah tiga puluh menit berlalu, tak ada yang keluar dari kamar.


Dariush menghembuskan napas. “Apakah aku terlalu banyak berharap pada Alceena?” gumamnya dengan perasaan gundah gulana.


Sedangkan Alceena, wanita itu menggerakkan tangan, menyapu sampingnya untuk merasakan keberadaan seseorang. Saat dia tak mendapati ada yang menemani di sana, barulah mata mengerjap dan memastikan. “Dariush ke mana?”


Setelah kesadaran mulai terkumpul total, Alceena turun dari ranjang. Dia keluar kamar untuk mencari sang pria. “Dariush?” Wanita itu memanggil dengan suara yang diulangi terus menerus. Berharap mendengarkan suara sahutan dari orang yang sedang dia cari.


“Apa dia pergi meninggalkanku sendiri?” gumam Alceena saat sudah pasti tak ada keberadaan sang pria di penthouse.


Alceena menghembuskan napas kecewa. Dia pikir Dariush akan tinggal di sana bersamanya. “Pasti pulang,” keluhnya dengan memasang wajah cemberut.


Untuk lebih memastikan lagi, Alceena mengambil ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja yang ada di depan sofa. Dia duduk dengan tak nyaman karena tak ada Dariush di sana. Wanita itu sudah siap untuk menelepon anak kedua Tuan Dominique.


...*****...


...Heh Ceena! Kamu telepon mau ngapain? Dariush mau aku kekepin sendiri, mulut kamu sih di lakban + doubletip sampe lengket banget dan susah nyatain cinta. Makanya ku duluin aja ditikungan pertama wkwkwkwk...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...


...*****...


...Yuk mampir bestie ke novelnya author ZidniNeve, judulnya Dendam Sang Istri. Siapa tahu kalian juga suka...