
Alceena mendengar ada suara orang yang mengetuk pintu, tapi dia enggan keluar karena berpikir kalau itu ulah Dariush yang sedang mencoba mencari perhatiannya. Wanita itu justru masih asyik berselancar ke sebuah aplikasi yang menyuguhkan tontonan video.
“Apakah ada orang di dalam?” Wanita yang dimintai pertolongan oleh Dariush akhirnya mengeluarkan suara sambil tidak berhenti mengetuk pintu.
“Bukan suara Dariush, ada apa orang mengetuk pintu penginapan wisatawan lain?” gumam Alceena dengan alisnya yang naik sebelah seraya melihat ke arah pintu. “Mungkin akan dibukakan oleh Dariush,” imbuhnya yang berpikir kalau sang kekasih berada di ruang tengah.
Tapi ternyata, ketukan dan suara justru terdengar semakin keras. Alceena pun meletakkan ponsel ke atas nakas. “Memangnya Dariush ke mana? Sampai ada orang mengetuk pun tak mendengar,” gerutunya seraya perlahan turun dari ranjang.
Dengan langkah kaki yang pelan serta hati-hati, Alceena menuju keluar kamar. Dia menengok ke kanan dan kiri, menyapu seluruh ruangan yang tak terlalu besar itu. “Dariush pergi ke mana? Lagi-lagi dia tak pamit, menyebalkan.” Sungguh ibu hamil satu ini sulit sekali dimengerti kemauannya. Didekati tak mau bicara, sekarang tiba-tiba menghilang pun masih saja diumpati karena tak berpamitan.
Alceena lagi-lagi mendengar suara seorang wanita dari luar. Ini sudah yang kelima kali.
“Iya, sebentar,” ucap Alceena menuju pintu.
Dan tak lama kemudian, mata indah ibu hamil tersebut bersitatap dengan seorang wanita asing yang tak dikenal. “Kau siapa?” tanyanya dengan alis yang naik sebelah karena bingung.
“Aku Wilona, wisatawan di sini,” balas wanita itu yang memasang wajah panik dan bisa ditangkap jelas oleh Alceena.
“Oke, lalu, ada apa mengetuk pintu chaletku?”
“Apa kau datang ke sini bersama seorang pria?” Wanita bernama Wilona itu berusaha untuk memastikan terlebih dahulu, agar tak terlihat jelas sengaja datang ke sana.
Alceena mengangguk membenarkan. “Memangnya kenapa?”
“Benar.” Alceena semakin bingung dan hatinya merasa tak enak ketika wajah Wilona semakin menunjukkan panik. “Kenapa dengan kekasihku?” Dia semakin penasaran.
“Aku melihat pria berciri-ciri itu tenggelam di danau. Mungkin kau harus memastikan kondisinya secara langsung,” beri tahu Wilona dengan wajah yang ketakutan, seperti orang yang baru saja menyaksikan seseorang meregang nyawa di depan matanya.
“What? Mana mungkin Dariush tenggelam. Dia bisa berenang dan menyelam, sudah memiliki sertifikat juga.” Alceena masih tak percaya karena dia tahu betul bahwa sang kekasih adalah perenang yang handal.
“Apa gunanya semua sertifikat itu jika Tuhan berkehendak lain? Tidak ada! Namanya musibah, tidak bisa diprediksi.” Wilona sampai berbicara dengan nada sedikit ditekan karena wanita yang dia ajak komunikasi ternyata sangat keras kepala.
Alceena mengalihkan pandangan, melihat ke arah danau yang terlihat dari tempatnya berdiri, tapi hanya nampak genangan air yang luas. “Kau tidak sedang bercanda, ‘kan?” Sungguh wanita satu ini sulit sekali percaya dengan ucapan orang asing.
Wilona sampai mengepalkan tangan. “Astaga ... ini nyawa orang, mana mungkin aku membual.”
“Wait.” Alceena meninggalkan Wilona seorang diri, dia masuk ke dalam untuk mengambil ponsel dan kembali lagi, menunjukkan foto Dariush. “Apakah orangnya seperti ini?”
“Ya, ya, itu orangnya.” Wilona menunjuk layar ponsel dengan sangat panik.
Mata Alceena langsung melotot saat sudah yakin bahwa orang yang dimaksud adalah kekasihnya. Sebelumnya, dia berpikir mungkin wisatawan lain yang kebetulan memiliki ciri-ciri sama.
...*****...
...Harusnya kamu aja Ceen yang aku jorokin ke danau wkwkwk...