My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 147


“Tidak, daripada kita membuang bahan makanan untuk kau jadikan bahan percobaan, lebih baik aku saja yang memasak,” jelas Dariush seraya mengusap puncak kepala Alceena yang ada di samping lengan kirinya.


Alceena sedikit menaikkan arah pandangan mata agar terisi sosok tampan pengisi harinya. “Kenapa kau tak pernah memintaku untuk belajar atau kursus? Bahkan seluruh pekerjaan rumah, semua yang melakukan adalah kau. Biasanya, banyak pria yang menganggap seorang wanita harus bisa beres-beres dan melakukan banyak hal.”


Dariush mematikan kompor karena masakan telah matang. Dia mengurai tangan Alceena dan membalikkan tubuh. Berganti menjadi dirinya yang memeluk pinggang sang wanita dari arah depan. “Tidak harus, toh kodrat seorang wanita bukanlah mencuci, memasak, ataupun bersih-bersih rumah.”


Alceena sangat bersyukur bisa mengenal lebih dalam lagi sosok Dariush yang ternyata begitu pengertian. “Aku merasa belum bisa merawatmu dengan baik, karena kau lebih perhatian daripada aku.”


Jemari kekar Dariush sembari memainkan rambut pirang kekasihnya yang belum disisir dan seperti rambut singa. Bibir itu mengulas senyum saat tatapan keduanya terlihat sangat intens. “Aku tak bisa mengandung dan menyusui, setidaknya aku tak menuntut banyak kepada wanitaku.” Dia melayangkan sebuah kecupan di kening Alceena.


“Lagi pula, mencari uang dan pekerjaan rumah bisa dilakukan oleh siapa saja. Tapi, kalau hamil dan melahirkan hanya bisa dilakukan oleh wanita. Sebagai seorang pria, harus sadar diri kalau aku tak akan bisa memiliki keturunan tanpa wanita.” Dariush menuntun kekasihnya untuk duduk di ruang makan. Mengusap puncak kepala Alceena terlebih dahulu sebelum dia menyiapkan sarapan. “Itulah sebabnya aku selalu memuliakan seorang wanita, terutama kau dan Mommyku.”


Alceena sampai tak bisa berkata-kata lagi. Dia terlambat mengetahui sifat asli seorang Dariush. Dahulu, di matanya hanya ada rasa benci karena pria itu menyebalkan, licik, dan selalu mengusik hubungan percintaannya.


Ternyata, dibandingkan deretan mantan kekasih dan jajaran pria yang pernah mendekati Alceena, Dariush adalah orang yang berada di urutan teratas dengan sifat penuh perhatian, manis, tidak banyak menuntut, selalu mengusahakan apa pun yang diminta, dan menjaga dengan sepenuh hati. Walaupun, sifat tengil anak Tuan Dominique yang kedua itu tak pernah bisa hilang. Namun, sisi baik Dariush jauh lebih banyak dibandingkan yang buruk.


Alceena sampai tak mengedipkan mata saat melihat betapa telatennya Dariush menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Sudah pasti dia kagum. Bahkan saat sang kekasih mulai bergerak menuju meja makan pun sorot matanya terus mengikuti, diiringi bibir yang mengulas senyum.


Alceena menyengir karena ketahuan. “Ternyata rasa percaya dirimu ada benarnya juga.” Wanita itu membalas seraya mengusap punggung tangan Dariush yang bersemayam di paha mulusnya.


“Jelas, siapa dulu? Anak Tuan dan Nyonya Dominique.” Dariush menaik turunkan alis. Pria itu justru semakin sombong jika dipuji oleh kekasihnya.


Alceena membalas dengan bibir mencibir seperti mengejek. “Makan, kau tak kenyang kalau sarapan dengan kesombongan,” ucapnya seraya menyuapi Dariush agar berhenti berbicara.


“Kau sangat menggemaskan jika sedang salah tingkah,” celetuk Dariush menggoda sang kekasih yang wajah sudah sedikit merah akibat ketahuan mulai mengagumi dirinya. Tangan cabulnya meremas pantat kesukaan.


...*****...


...Yang gak kuat dengan kebucinan Dariush dan Alceena, silahkan lambaikan tangan ke kamera, mari kita ngontrak di planet lain sama-sama....


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...