
Selama enam minggu ini memang Alceena tidak menemui Dariush. Namun, setiap pagi dia selalu menyempatkan diri untuk mengintai keturunan kedua dari keluarga Dominique itu.
Mobil Alceena berhenti tepat di seberang jalan perusahaan yang dikelola oleh Dariush. Dia sengaja berangkat pagi untuk menunggu pria yang entah kenapa setiap hari selalu menghantui pikirannya, tapi tak berani mendekati ataupun menerima cinta Dariush karena tidak ingin bertengkar dengan Cathleen.
Alceena tak pernah turun dari mobil. Matanya melihat dari dalam kendaraan itu. Orang yang ditunggu pun nampak juga baru turun dari mobil Mercedes.
Bibir Alceena selalu mengulas senyum saat memandang Dariush dari kejauhan. Tangan mengelus perut yang sudah mulai terasa kencang. “Setiap kali melihatnya, perutku yang bergejolak mendadak lega, dan entah kenapa aku senang memandang Dariush,” gumamnya pada diri sendiri.
Sementara itu, Dariush yang baru turun dari mobilnya pasti menyempatkan diri untuk melihat ke arah jalan raya. Sengaja tak langsung masuk ke dalam perusahaan karena menyadari jika setiap hari ada mobil yang selalu berhenti di seberang jalan, dan setelah ditelusuri ternyata milik wanita pujaan hatinya.
“Setiap hari mengintaiku dari kejauhan, tapi kau tetap tak mau mengakui jika mulai menyukaiku? Sebenarnya untuk apa kau gengsi menerima cintaku?” Dariush pun sama, dia berbicara dengan diri sendiri.
Dariush sangat ingin menghampiri mobil Alceena, tapi selalu diurungkan karena tak ingin membuat wanitanya kurang nyaman jika ketahuan mengintai. Dia segera masuk ke dalam kantor setelah lima menit menatap ke arah seberang jalan.
Sedangkan Alceena, dia memegang dada yang berdebar dan perut yang mulai bergejolak lagi setelah tak melihat Dariush. “Jalan ke kantorku, Pak!” titahnya seraya memijat pelipis yang terasa berdenyut.
Alceena segera berjalan cepat menuju toilet. Sudah tak tahan ingin memuntahkan isi dalam perut. Dan dia baru masuk ke dalam ruang kerja setelah dirasa kuat berjalan.
“Andai bisa ku pandangi Dariush setiap hari, pasti aku tak akan tersiksa seperti ini terus,” ucap Alceena saat mendaratkan badan di sandaran kursi.
Walaupun Alceena sudah mengkonsumsi obat pereda mual dari Dokter Hillary, namun efeknya hanya bertahan beberapa jam saja. Dia tak ingin terlalu banyak minum obat-obatan secara berlebihan. Takut mengganggu janin walaupun yang diberikan padanya adalah khusus untuk ibu hamil.
Namun, suara pintu yang diketuk dari luar membuat Alceena berhenti berpikir tentang Dariush. Mempersilahkan orang yang berada di luar untuk masuk.
“Ada apa, Jocelyn?” tanya Alceena pada sekretaris yang kini sudah berdiri di hadapannya.
Jocelyn menunjukkan layar iPad yang memperlihatkan sebuah undangan kepada Alceena. “Saya hanya ingin mengingatkan kalau lusa ada pertemuan dengan seluruh pengusaha muda di Eropa.”
Alceena membaca sekilas isi undangan tersebut. “Di mana dan siapa tuan rumahnya?”
“Munich, perusahaan mantan calon suami Anda yang menjadi tuan rumah untuk tahun ini. Apakah Anda akan hadir atau tidak? Hari ini adalah batas terakhir untuk mengkonfirmasi kedatangan.” Jocelyn menarik iPadnya lagi untuk dia dekap.
Alceena berpikir sejenak, menimbang keputusan karena dia juga sedang hamil muda. “Konfirmasi saja, aku akan usahakan datang, sekaligus ingin menunjukkan pada Brandon Brooks jika hidupku baik-baik saja setelah batal menikah dengannya.”
...*****...
...Dariush, kamu pake kage bushi no jutsu punya Naruto deh biar bisa berubah jadi banyak wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan kirim hadiah bestie...