
Edbert menarik tangannya secara paksa saat Cathleen tak kunjung menyudahi jabatan tangan. “Apakah masih ada yang ingin kau tanyakan?”
Cathleen menggelengkan kepala. “Sepertinya tidak ada,” jawabnya. Lebih tepat dibilang bingung ingin mengobrol apa karena memang sudah lama sekali tidak dekat dengan seorang pria.
“Oh, kalau begitu aku permisi.” Edbert langsung meninggalkan Cathleen begitu saja.
Sampai membuat wanita yang tampil sangat memukau itu melongo menyaksikan punggung Edber yang kian menjauh. “Kenapa pria dingin selalu memiliki aura tersendiri, ya? Sangat menantang dan berkelas.” Bukannya sakit hati karena ditinggal setelah berkenalan, dia justru memuji.
Setelah puas memandang pria yang kini sudah tak bisa dijangkau oleh matanya, Cathleen pun mendadak memegang perut. “Lapar sekali,” gumamnya. Dia dan Alceena memang sengaja tak sarapan di mansion karena ingin mencicipi seluruh hidangan saat pesta.
Anak terakhir keturunan keluarga Pattinson itu mengayunkan kaki hendak menuju bagian gedung paling ujung dekat pintu masuk. Tapi, Cathleen tiba-tiba menghentikan langkah kaki saat merasa dirinya ditunjuk.
“Hei! Kau! Ke sini!”
Tentu saja Cathleen langsung menengok ke kanan dan kiri, siapa tahu bukan dirinya yang dimaksud. Tapi orang-orang di sekitarnya seperti sedang kebingungan juga dengan maksud pria penguasa bisnis yang baru saja datang. Dia tak mau terlalu percaya diri menganggap panggilan itu adalah untuknya, demi menghindari malu kalau salah.
Cathleen pun memilih untuk terus mengayunkan kaki.
“Woi! Wanita bergaun hitam!” Daddy Davis memanggil dengan lebih sepesifik lagi agar tak diacuhkan.
Barulah Cathleen berhenti dan kembali melihat ke sekelilingnya. Siapa tahu ada yang memakai gaun warna hitam juga. Ternyata tak ada satu pun, hanya dirinya di sana. “Aku?” Dia lebih baik bertanya untuk memastikan.
“Ya, kemari.” Daddy Davis memberikan isyarat agar orang yang dia panggil kian mendekat.
Cathleen pun mau tak mau berubah tujuan dari hendak mengambil hidangan pembuka, menjadi ke arah Tuan Dominique yang sangat terkenal di kalangan pebisnis. “Ada apa, Tuan?”
“Aku ingin meminta bantuanmu. Kau bisa memenuhinya?” tanya Tuan Dominique.
“Bagus, aku hanya ingin titip sesuatu, tolong jaga baik-baik.” Daddy Davis mengambil alih kursi roda dan mendorong ke hadapan Cathleen.
Cathleen yang tiba-tiba dimintai pertolongan pun menaikkan sebelah alis seraya mengalihkan pandangan untuk melihat ke arah orang yang ada di kursi roda. “Bukankah ini Gerald?”
“Benar sekali, ternyata ingatanmu sangat tajam,” ucap Geraldine sebelum pamannya menjawab.
“Kenapa dia di kursi roda? Apakah sakit? Kenapa di bawa ke pesta? Bukannya ke rumah sakit?” Cathleen langsung menyerang dengan banyak pertanyaan.
Dan membuat Daddy Davis pusing sendiri dengan ocehan wanita muda yang dia tahu merupakan keturunan dari mantan kekasihnya. “Geraldine, kau kenal dia, ‘kan?”
“Kenal, teman satu angkatanku sata di universitas,” jawab Geraldine.
“Bagus, kalau begitu kau saja yang menjelaskan padanya, aku mau ke atas.” Setelah memberikan perintah, Daddy Davis langsung mengayunkan kaki menuju ke arah tangga.
Setelah kepergian Tuan Dominique, Cathleen memusatkan perhatian pada Geraldine. “Kembaranmu kenapa?”
“Tak apa, dia ketiduran saat di perjalanan. Jadi, aku merasa kasian kalau harus membangunkannya. Mungkin kurang istirahat.” Geraldine asal saja saat memberikan alasan.
Anak Tuan Giorgio itu menarik tangan Cathleen untuk diposisikan tepat pada belakang kursi roda. “Tolong jaga Gerald, ya? Mungkin tiga puluh menit lagi dia akan bangun. Atau, kalau kau tak sabar menemaninya, bisa siram saja dengan air.” Dia menepuk pundak teman satu angkatannya itu. “Aku pergi dulu, ingin menikmati pesta,” pamitnya tanpa merasa berdosa sudah membawa secara paksa dan menitipkan Gerald pada orang lain.
...*****...
...Waduh, ati-ati Cath, jangan lupa bawa jaket yang anget kalo jagain Gerald, soalnya dia kan manusia berhati dingin. Takutnya tar kamu membeku wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...