
“Kalau aku pergi, bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu atau Alceena? Siapa yang akan membantu?” Madhiaz tidak langsung menuruti permintaan adik iparnya. Dia sudah berjanji pada orang tuanya dan juga Tuan serta Nyonya Dominique untuk menjaga, maka tak ingin mengingkari apa yang sudah dilontarkan semalam.
“Ku jamin akan baik-baik saja, berikan aku waktu untuk berdua dengan Alceena. Kami ini pengantin baru, butuh quality time untuk bermesraan.” Dariush tetap saja bisa berkilah padahal maksud Madhiaz tak ingin pergi dari sana karena mengkhawatirkan kondisi dua insan yang dimabuk cinta.
“Maaf, ku pesankan makanan lewat sini saja, silahkan kalian melakukan apa pun yang diinginkan, aku akan berpura-pura buta dan tuli.” Madhiaz mendekati telepon nirkabel yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Dia memencet tombol sesuai nomor yang disediakan di atas meja, menghubungi pihak restoran yang ada di area rumah sakit.
Dariush menghela napas, sulit sekali mengusir iparnya. Justru Madhiaz masih santai duduk di sofa setelah memesankan makanan kesukaan Alceena.
“Jika kau tidak keluar dari sini, jangan salahkan aku kalau memberimu adegan dewasa di depan mata,” ucap Dariush bermaksud menggertak.
“Lakukan saja jika kau bisa, aku akan menontonmu dari sini.” Madhiaz justru menanggapi dengan santai seraya menaikkan kedua alis dengan wajah yang menantang.
Dariush sampai dibuat melongo dengan tingkah Madhiaz yang tak mau mengalah dan enggan memberikan ruang untuk dirinya berduaan dengan Alceena. “Kau itu tak punya uang untuk membeli film dewasa sampai rela melihatku yang akan bermesraan dengan istri?”
“Menonton secara langsung sepertinya lebih seru.” Madhiaz mengulas senyum tengil. Dia sedang membalaskan kejahilan Dariush yang membuat Alceena sampai menangis.
“Astaga ... iparku ternyata gila,” keluh Dariush.
“Iparku jauh lebih gila, sedang sakit saja masih memikirkan ingin bermesraan.” Diejek, maka Madhiaz balas mengejek Dariush.
Lagi pula saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertukar kerindungan dengan kemesraan. Kondisi Dariush saja belum dicek secara total, baru dilakukan penanganan awal untuk menyelamatkan nyawa pria nekat itu.
“Kenapa? Kau sesak napas? Pakai lagi selang oksigenmu itu, jangan kau lepas jika belum bisa bernapas normal.” Madhiaz berangsur berdiri mendekati ranjang pasien. Dia mengambil selang oksigen yang dilepas sendiri oleh Dariush. Tanpa banyak bicara, tangannya langsung memasukkan dua lubang selang kecil ke dalam hidung iparnya.
Dariush sampai tak bisa berkata apa-apa lagi karena kelakuan Madhiaz tersebut. “Sayang, kenapa kau memiliki kembaran yang menyebalkan.” Dia mengadu dan mengeluh pada sang istri yang sejak tadi sudah diam tak mengeluarkan suara apa pun. Padahal ia sedang berdebat dengan Madhiaz.
Madhiaz menahan tawa kala melihat Alceena yang sudah memejamkan mata. “Istrimu sudah tidur.”
Mendengar informasi itu, Dariush langsung mengalihkan pandangan dari sang ipar ke istri. “Pantas saja dia tak membelaku saat berdebat dengan manusia menyebalkan.”
“Menyebalkan seperti ini juga iparmu,” tegur Madhiaz seraya kembali duduk di sofa.
“Untung kau kembaran Alceena, jadi tak ku ceburkan ke laut jika menggangguku yang ingin bermesraan.”
“Sht ....” Madhiaz berdesis agar Dariush berhenti mengoceh. Tepat sekali perawat masuk membawakan makanan untuk pasien. “Lebih baik kau makan dulu daripada bawel.” Dia berinisiatif membantu meringankan beban kerja perawat itu dengan memindahkan makanan pasien untuk Dariush ke meja.
...*****...
...Oh Bebeb Iaz, tak dapat iparmu, kau pun jadi. Tunggu aku ya beb, otw ke Finland buat nemenin kamu ngerawat si bucin. Nanti ku getok pala si Dariush biar hilang ingatan...