My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 124


“Aku setuju dengan keputusan Alceena, memang orang yang salah perlu diberikan balasan sesuai hukum yang berlaku,” ucap Papa Danzel.


“Apa pun keputusan Alceena, aku yakin itu adalah pilihan tepat,” tambah Cathleen.


“Aku tak akan menghalangimu jika ingin melakukan rencana itu,” tutur Madhiaz.


Tiga anggota keluarga Pattinson itu memiliki pemikiran yang sama dengan Alceena, dan berbeda pendapat dengan Mama Gwen dan Selena. Sedangkan Aldrich memilih untuk diam, netral, tak memihak pada salah satunya.


“Ceena, apa kau tak ada belas kasian pada anakku? Dia keponakanmu. Bagaimana jika saat sekolah nanti mendapatkan bully dari teman-temannya? Apa tak ada sedikit saja hatimu berpikir ke arah sana?” Selena kini sudah tak berbicara menggunakan nada yang lembut. Dia kesal dengan adiknya yang tak paham dengan perasaannya.


Alceena menaikkan sebelah alis, ini adalah kali pertama dirinya mendengar Selena berbicara tak lemah lembut seperti biasanya. Tapi tetap berusaha memahami mengapa kakaknya sampai seperti itu. “Tenang, aku akan mengajarkan keponakanku cara menghadapi masalah dengan kuat agar tak mudah ditindas oleh orang lain.”


Selena menggelengkan kepala. Hati Alceena benar-benar keras seperti batu. Dia pun perlahan berdiri, tak bersimpuh lagi karena tak ada gunanya mengiba di hadapan sang adik. Kakinya terasa kesemutan, akhirnya memilih untuk duduk ke tempatnya semula.


“Kau benar-benar egois, Ceena!” ucap Selena setelah menghempaskan diri di sofa dan menatap Alceena dengan wajah kesal.


“What? Aku? Egois?” Alceena sampai terlihat tak percaya jika kakaknya bisa menyimpulkan bahwa dia adalah seseorang yang memikirkan kepentingan diri sendiri. Kepalanya sampai bergeleng karena merutuki Selena yang sudah benar-benar dibutakan akan cinta.


“Boleh aku balik keadaannya? Siapa yang egois di sini? Aku atau Selena?” Alceena mengajukan pertanyaan pada semua yang ada di sana, tapi pandangan terus tertuju pada kakaknya. “Di mana letak kasih sayangmu pada adikmu sendiri, saat mengetahui Brandon sudah mencemarkan nama baikku? Tidak ada, kau justru menutupi kesalahannya. Bertahun-tahun kita hidup bersama, seharusnya kau tahu bagaimana sifatku.”


Alceena sampai melongo dengan wajah yang sudah tak bisa dideskripsikan lagi bagaimana sakit hatinya mendengar penuturan sang kakak. “Kau tak tahu akibat dari rumor itu. Saham perusahaanku turun drastis, kolegaku banyak yang memutuskan kontrak, dan masih banyak projek kolaborasi yang harus gagal karena ulah Brandon! Bayangkan berapa banyak kerugian yang aku dapatkan! Bahkan sampai detik ini pun aku masih berusaha untuk mengembalikan pendapatan yang sempat anjlok!” Dia sampai harus menghela napas untuk menetralkan adrenalin emosi yang seketika menanjak. “Apa kau berpikir sampai ke sana?”


Selena menjawab dengan gelengan kepala.


Dan Alceena langsung menertawakan kakaknya. “Jadi, siapa di sini yang egois?” Pertanyaannya terlontar dengan nada sinis.


Semua orang terbungkam karena tak ingin menghakimi antara Alceena dan Selena.


Alceena menarik sebelah sudut bibir seraya berdiri karena merasa di sana sudah tak nyaman lagi. “Bahkan saat aku ingin menggugat Brandon pun memikirkan bagaimana nasib kakak dan keponakanku kedepannya.”


Kaki Alceena mengayunkan kaki setelah memberitahukan itu. Dia menarik koper yang ditinggalkan di tengah ruangan. Sebelum menaiki anak tangga, dia berhenti dan berbalik menatap keluarganya untuk menyampaikan sesuatu.


...*****...


...Jadi, siapa yang egois menurut kalian? Alceena atau Selena?...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...