
Batas waktu yang diberikan oleh Tuan Pattinson pun sudah habis. Pria paruh baya itu menghela napas seraya melihat arah pintu masuk. “Apakah putriku akan gagal menikah lagi?” gumamnya sangat lirih. Sebagai orang tua, ada rasa khawatir jika kejadian buruk yang terjadi pada salah satu anaknya terulang kembali. Dia ingin keturunannya hidup bahagia bersama orang yang tepat.
“Dua jam tiga puluh menit sudah terlewati, Ceena. Coba kau hubungi Dariush. Apakah dia sudah kembali ke Helsinki atau belum,” ucap Tuan Pattinson. Dia akan memberikan perpanjangan waktu, asalkan anak dari mantan kekasihnya sungguh datang ke Badan Kependudukan untuk menikahi putrinya.
“Sudah, Pa. Sekretarisnya yang memberitahukan padaku. Dariush tak sempat memberikan kabar karena langsung terburu-buru untuk mengejar waktu agar tak terlambat,” jawab Alceena. Entah kenapa dada terasa berdebar, anak-anaknya juga terus menendang perut. Berkali-kali ia menghela napas untuk menyingkirkan pikiran buruk.
“Pa, berikan mereka waktu lebih lama. Lagi pula Papa juga tidak manusiawi memberikan tenggat waktu!” omel Mama Gwen yang saat ini sedang duduk di samping Alceena seraya mengusap punggung sang anak.
“Iya, aku akan perpanjang waktunya. Asalkan masih hari ini,” balas Papa Danzel. Dia jadi dimusuhi oleh anggota keluarganya karena menguji keseriusan Dariush. Padahal niatnya untuk memastikan bahwa pria yang dipilih oleh Alceena adalah orang yang tepat. Wajar saja sebagai seorang orang tua memiliki rasa khawatir akan masa depan keluarga anak-anaknya.
“Nah, lebih baik kau minum dulu. Dariush pasti datang,” ucap Cathleen seraya menyodorkan botol air mineral.
Alceena yang gugup bercampur khawatir pun tetap meneguk cairan penghilang haus tersebut. Sejak berpisah dari bandara, dia belum makan dan minum sama sekali.
“Keluarga Dominique juga belum hadir. Apa Dariush tak memberikan kabar pada mereka?” tanya Madhiaz dengan mata sejak tadi memandang pintu kedatangan.
Alceena hanya bisa menjawab gelengan kepala pelan. Pertanda bahwa dia tidak tahu. “Mungkin Dariush lama sampai di sini karena menjemput keluarganya terlebih dahulu,” tuturnya sebagai penenang diri. Dia terus mencoba berpikir positif, walaupun perasaannya sedang tak baik-baik saja.
Baru juga selesai dibicarakan, sudah muncul saja satu keluarga besar Dominique yang seperti komplotan ingin menyergap Badan Kependudukan. Mendadak lembaga pemerintahan itu langsung bertambah penuh.
“Itu dia keluarga Dominique,” beri tahu Madhiaz yang pertama kali melihat.
Alceena langsung menengok ke belakang, mengabsen satu persatu orang yang melangkahkan kaki ke arahnya. “Di mana Dariush? Kenapa tak datang bersama kalian?”
Alceena mengepalkan tangan dan menggigit bagian telunjuk yang terkepal tersebut. Rasa khawatir mendadak menyelimuti pikiran.
Dan mimik tersebut bisa ditangkap jelas oleh keluarga Dominique.
Mommy Diora segera menghampiri Alceena, merangkul calon menantunya tersebut untuk memberikan semangat. “Sabar, dia harus melewati perjalanan dari Amsterdam sampai ke sini. Jadi wajar saja kalau terlambat.”
Tapi tetap saja, Alceena tidak mudah tenang jika belum melihat batang hidung Dariush di depannya.
“Parah sekali kecelakaan di depan sana, aku sampai terjebak macet karena lewat jalan itu.”
Celetukan salah satu pengunjung yang baru saja datang tersebut membuat Alceena melotot. “Apa saat kalian datang ke sini melihat kecelakaan juga?”
“Tidak, jalanan lancar,” jawab Deavenny.
Arah jalan yang dilalui oleh keluarga Dominique berbeda dengan yang dilewati oleh Dariush. Jadi mereka sama sekali tidak tahu jika ada kecelakaan.
...*****...
...Untuk apa kalian menanti kedatangan Dariush? Pria itu sudah kembali pada Sang Pencipta. Turut prihatin ya Ceena, kamu jadi janda sebelom menikah....