My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 213 S2


Melihat dokter yang menangani Dariush sudah keluar dari IGD, Tuan Dominique langsung menghampiri orang tersebut untuk meminta informasi tentang salah satu putranya. Dia adalah seorang Daddy yang sangat menyayangi anak-anaknya walaupun sudah besar dan menikah pun tetap saja tidak berkurang rasa sayang itu. Pria paruh baya itu juga yang paling panik meskipun tidak ditunjukkan secara langsung.


Begitu juga dengan Alceena yang hendak berdiri untuk menghampiri dokter, tapi tangan wanita itu dicekal oleh Cathleen.


“Pelan-pelan Ceena, aku bantu.” Cathleen memberikan peringatan sekaligus berinisiatif untuk membantu tubuh kembarannya berdiri karena Alceena nampak tak sabaran.


Dengan dirangkul oleh Cathleen, Alceena pun mendekati seorang pria berjas putih tersebut.


“Bagaimana kondisi anakku?” Daddy Davis langsung mengajukan pertanyaan dengan suara tegasnya. Ia sedang menutupi rasa khawatir dengan mimik penuh wibawa.


“Puji Tuhan, anak Anda selamat dan sudah mendapatkan penanganan sebaik mungkin,” jelas Dokter.


Semua orang akhirnya bisa bernapas lega. Jantung yang sejak tadi berdebar karena menunggu kabar tentang kondisi Dariush pun kini perlahan mulai pudar. Tak lupa juga mereka mengucap syukur.


“Boleh aku menjenguknya?” pinta Alceena yang sudah tak sabar ingin melihat sang suami.


Dokter mencoba memberikan ulasan senyum ramah. “Maaf, Nona, kami pindahkan pasien ke ruang rawat terlebih dahulu.”


Alceena mengangguk paham dan tidak memaksa untuk menerobos masuk.


“Berikan kamar yang terbaik untuk putraku. Tolong kau bantu urus semuanya,” pinta Daddy Davis.


“Baik, Tuan, nanti akan ada perawat yang membantu.”


Tuan Dominique mengangguk pertanda menyetujui. Dia malas mengurus administrasi, lebih baik meminta tolong saja, dan dirinya hanya butuh membayar lebih mahal.


Keluarga Dominique dan Pattinson menunggu di luar IGD sampai ruang rawat VVIP yang diminta selesai disiapkan. Setelah beres, pintu IGD itu pun terbuka lebar.


Alceena yang paling semangat untuk langsung berjalan mengekori perawat yang membawa suaminya. Dia tidak bisa berkata apa-apa, cukup lelehan air mata saja yang semakin menerjang keluar setelah melihat wajah sang suami yang sedang tak berdaya.


Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain, mereka pun berbondong-bondong untuk mengikuti di belakang.


Brankar Dariush pun mulai dimasukkan ke dalam ruangan yang sangat luas dan fasilitas seperti kamar hotel. Pasien korban kecelakaan itu juga telah dipindahkan ke atas ranjang pasien.


Perawat yang selesai melakukan tugas mereka pun langsung terkejut ketika melihat ruang VVIP satu sudah penuh dengan banyak keluarga pasien.


“Mohon maaf, demi kebaikan pasien, untuk saat ini hanya diizinkan satu atau dua orang saja yang berada di sini.” Perawat mencoba menjelaskan dengan hati-hati.


“Kenapa?” celetuk Delavar.


“Supaya pasien bisa istirahat terlebih dahulu. Jika sudah siuman, boleh dijenguk.”


Mendengar penjelasan itu, keluarga Dominique dan Pattinson pun keluar. Menyisakan Alceena yang sudah duduk di samping ranjang pasien dan mengelus wajah Dariush yang masih terpejam.


Namun, sebelum benar-benar meninggalkan Alceena, Madhiaz menghampiri kembarannya itu. Dia memberikan tas jinjing yang tadi diambil dari mansion. “Gantilah pakaianmu yang terkena darah itu, supaya Dariush saat siuman, tidak khawatir melihat penampilanmu yang kacau.”


Alceena menganggukkan kepala. “Tolong jaga Dariush sebentar.” Dia mengambil alih tas yang diberikan oleh Madhiaz dan segera berganti pakaian serta mencuci wajah supaya suaminya tidak khawatir.


...*****...


...Semoga Dariush hilang ingatan, terus yang dia inget cuma aku aja. Gini amat mau jadi pelakornya, harus doain yang jelek-jelek dulu....