
Dariush mulai mengungkung wanitanya. Padahal Alceena belum menjawab apa pun. Tapi anak Tuan Dominique itu memang sudah tak sabar ingin mendaki ke atas nirwana bersama orang tercinta.
Kepala Dariush mulai mendekat ke bagian leher Alceena. Menggelitiki salah satu area sensitif di sana menggunakan lidah yang menari menyapu kulit. Mencoba menghidupkan hasrat bercinta wanitanya lagi.
Tak bisa dipungkiri jika usaha Dariush memang berhasil membuat Alceena kegelian. Tapi, menurut wanita yang pakaiannya sudah rusak itu, ada yang lebih penting daripada bercinta.
Tangan Alceena segera mencekal pergelangan Dariush yang mulai memberikan usapan di bawah sana. Membuatnya sudah sedikit mengeluarkan cairan.
Dariush yang merasa jika mendapatkan penolakan pun menghentikan aksinya. Menatap wajah Alceena dari jarak yang tak sampai satu jengkal. "Kenapa? Masih marah denganku karena merobek bajumu? Sampai membuatmu tak mau bercinta denganku?"
Alceena menggelengkan kepala hingga rambut bergesekan dengan bantal. "Apa tak bisa ditunda dulu acara bercintanya? Aku lapar sekali, siang belum jadi makan, ditambah energiku sudah berkurang untuk marah-marah," pintanya seraya mengelus perut yang keroncongan.
Dariush terkekeh melihat wajah Alceena yang lucu saat lapar. Tangannya mengusap pipi mulus wanitanya dengan lembut. "Tentu saja, aku pesankan makanan agar kita kuat bercinta dengan durasi lama."
Tubuh Dariush mulai turun dari ranjang untuk mendekati layar di dekat pintu, memesan makanan banyak demi meningkatkan stamina yang sebentar lagi akan digunakan untuk bercinta.
Alceena merubah posisi menjadi duduk. Menatap ke arah Dariush yang tengah mengayunkan kaki kembali ke ranjang. "Kau memesan makanan apa saja? Aku ingin sushi," tanya Alceena sembari memberi tahu keinginannya.
"Aku sudah memesan itu juga, karena kebetulan kita menginginkan makanan yang sama."
Jawaban Dariush membuat Alceena tersenyum. "Bisa sama selera kita," cicitnya seraya melepaskan pakaian yang sudah tak layak dipakai lagi.
Menyisakan tubuh seksi Alceena yang tertutup kain tipis menutupi daerah utama inti kenikmatan yang bisa membuat Dariush terbang ke atas nirwana.
"Sudah rusak, tak bisa dipakai lagi. Toh setelah ini kau mengajakku bercinta. Pada akhirnya akan dilepas juga." Alceena menjawab dengan sangat santai. Terlihat bahwa dia tak keberatan dan sepertinya memang sudah mulai memiliki hasrat dengan Dariush.
Dua sudut bibir Dariush tertarik sempurna. Dia segera menghampiri Alceena dan memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Tangannya bukan melingkar di perut, melainkan bersemayam pada dua buah yang kencang, membusung, menantang seolah melambai untuk disesap.
“Ku pastikan malam ini akan sangat indah untuk kita berdua,” bisik Dariush seraya meremas bagian tubuh yang sudah memenuhi tangannya.
“Jangan sekarang, aku tak memiliki tenaga,” cegah Alceena, mencoba melepaskan tangan yang mulai menaikkan ritme pijatan pada dua buah miliknya.
Tepat sekali dengan suara pintu yang diketuk dari luar.
“Sepertinya itu makanan kita.” Dariush berdiri. Tapi, sebelum dia meninggalkan Alceena dan membukakan pintu, terlebih dahulu menarik selimut, menutupi seluruh tubuh wanitanya yang polos.
“Dariush …!” seru Alceena karena dia terkejut.
“Sebentar, Sayang. Jangan dibuka sebelum pelayan selesai menyajikan makanan kita. Takutnya kalau dia ingin bercinta denganmu juga,” peringat Dariush seraya mengelus puncak kepala Alceena yang tak terlihat.
...*****...
...Selamat Hari Raya Idul Fitri untuk kalian yang merayakan. Mohon maaf lahir dan bathin ya....
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, dan hadiahnya bestie. Lebaran pun udah aku sempetin buat update biar kalian ga kangen pasangan Dariush dan Alceena....