
Alceena sengaja mengunyah dan menghabiskan satu bungkus roti secara perlahan. “Sebentar lagi ini akan habis, kau sudah berjanji akan bangun,” ucapnya sangat lirih. Tenggorokan masih terasa tercekat, sampai rasanya sangat sulit untuk menelan makanan yang ada di dalam mulut.
“Sayang, ini potongan terakhir, tolong jangan ingkari janjimu.” Alceena memasukkan sisa roti ke dalam mulut. Tapi justru sesegukannya semakin parah karena Dariush belum juga menunjukkan tanda-tanda apa pun.
Dariush tidak pernah berjanji apa pun, tentu saja karena pria itu masih berada di antara dua alam. Tapi Alceena sudah mengharuskan kalau sang suami wajib membuka mata.
“Mana janjimu? Rotinya sudah habis.” Alceena meraih tangan Dariush, menggenggam pria itu begitu erat. Takut sekali kehilangan orang yang sudah memenuhi hatinya.
Alceena menautkan kelingkingnya dengan Dariush. Sengaja wanita itu menyatukan jemari. “Ini, ini pertanda kau berjanji padaku. Biasanya kau selalu menepati dan memenuhi apa pun yang aku minta. Sekarang, tolong jangan ingkari janjimu.”
Seolah tak ada habisnya air mata Alceena yang sudah berjam-jam terus keluar. Dia menggerakkan tangan lemas Dariush untuk mengusap jejak basah di wajah kacaunya. “Apa kau tak sedih melihat aku seperti ini? Mengkhawatirkanmu, menantimu, merindukan belaianmu.”
Tetap tidak ada respon. Alceena pun menyilangkan kedua tangan di ranjang pasien. Dia menundukkan kepala dan berbantal tangannya sendiri. Wanita itu menangis di sana. Meratapi hari pernikahannya. “Seharusnya aku bahagia karena sudah resmi menikah denganmu, tapi kenapa air mataku tak bisa berhenti mengalir untuk mulai menerbitkan senyum? Hadiah pernikahan ini tak pernah bisa ku lupakan sepanjang hidup.”
Terlalu lelah menangis membuat Alceena tak sadar tertidur dengan posisi duduk. Jangan ditanya wanita itu nyaman atau tidak, jelas saja tak nyenyak. Perut buncit itu sulit bersahabat.
Waktu terus bergulir, hari juga semakin larut. Orang-orang yang menunggu di luar kamar rawat Dariush pun satu persatu kembali ke tempat tinggal masing-masing. Di sana hanya tersisa Tuan dan Nyonya Dominique, Papa Danzel, Mama Gwen, dan Madhiaz.
“Kalian pulang saja, biar aku yang berjaga di sini!” titah Tuan Dominique. Sampai sekarang, dia belum menunjukkan keramahan pada keluarga besannya. Kalau boleh jujur, ia kesal dengan Danzel karena sudah memberikan persyaratan konyol. Tapi, sampai detik ini masih ditahan karena memikirkan putranya yang sangat menghargai Tuan Pattinson sebagai mertua.
“Tidak, aku akan di sini, semua salahku. Jadi, sudah sepantasnya menjaga menantuku sampai siuman,” tolak Tuan Pattinson. Dia memperlihatkan rasa bersalah yang terus menghantui pikirannya.
“Jangan seperti itu, ini namanya musibah,” tegur Mommy Diora supaya suaminya tak kembali arogan seperti saat muda.
Daddy Davis menghela napas kasar karena tak bisa menyalurkan rasa kesalnya.
Melihat orang tuanya dan mertua kembarannya sedang tak baik-baik saja, Madhiaz pun menyela untuk menengahi. “Maaf, lebih baik kalian pulang saja. Bukan bermaksud untuk meragukan kemampuan kalian, tapi tolong ingat usia yang sudah tak muda lagi. Biarkan aku berjaga di sini. Percayakan saja semuanya denganku,” bujuknya.
“Benar apa katanya, kita istirahat saja di mansion. Besok pagi ke sini lagi.” Dua wanita paruh baya itu saling menarik suami masing-masing supaya meninggalkan rumah sakit.
Saat itulah Madhiaz memilih untuk masuk ke ruang rawat yang saat ini hanya diperbolehkan maksimal dua orang berjaga di dalam.
Madhiaz tidak mengeluarkan suara apa pun, dia langsung duduk di sofa dan mengamati Alceena yang sedang tertidur.
Waktu terus bergulir hingga pagi. Madhiaz tidak sadar kalau ketiduran di sofa. Dan Alceena pun masih berada di posisinya yang tak nyaman.
Tiba-tiba jemari Dariush bergerak sendiri. Tapi mata pria itu masih terpejam.
...*****...
...Waduhh siap-siap cari kontrakan di planet lain nih kalo Dariush siuman...