
Alceena segera berbalik badan untuk menghampiri orang yang menyebarkan kabar kalau ada insiden kecelakaan di sepanjang jalan dekat Badan Kependudukan. Tanpa pikir panjang, tangan dengan jemari lentik tersebut memegang pundak seseorang dan langsung membuat keduanya saling bersitatap.
“Maaf, apa kau tadi mengatakan ada kecelakaan di dekat sini?” tanya Alceena memastikan sekali lagi.
Orang yang ditanya menganggukkan kepala. “Benar.”
“Tepatnya berada di mana?”
Orang itu pun memberitahukan nama jalannya.
Dan Alceena langsung membulatkan mata saat itu juga, diiringi air mata yang tiba-tiba keluar tanpa sebuah aba-aba. “Jalan dari arah bandara?”
“Ya, jika orang yang lewat sana baru saja dari bandara. Tapi jalan itu juga menghubungkan tempat lain.”
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Alceena langsung berbalik badan. Wajahnya sudah dipenuhi oleh air mata. Perasaannya semakin tak enak. Walaupun dia tak tahu apakah calon suaminya menjadi korban di sana juga atau tidak, tapi pikiran seorang ibu hamil yang membuatnya lebih sensitif itu tak bisa dipungkiri kalau tengah membuncahkan rasa khawatir yang berlebihan.
Semua keluarga Pattinson dan Dominique yang melihat Alceena kembali dengan berurai air mata pun segera mendekati wanita itu. Terutama Mommy Diora dan Mama Gwen yang memberikan kekuatan walaupun mereka belum tahu penyebab Alceena bersedih.
Tapi, Alceena memberontak. Dia tidak ingin dipeluk. “Tolong biarkan aku pergi, aku ingin memastikan kalau Dariush tidak menjadi korban kecelakaan beruntun,” pintanya seraya menggoyangkan kedua lengan.
“Tenangkan dirimu, Ceena, Dariush orang yang pandai menilai situasi, pasti dia akan menghindari jika melihat ada bahaya di depannya,” ucap Mommy Diora. Dia hanya sekedar melontarkan kalimat yang bisa mengurangi pikiran buruk Alceena.
“No! Aku harus memastikan secara langsung.” Namanya juga Alceena si keras kepala. Dia bersikeras ingin tetap pergi.
Memang Tuan Dominique paling pintar bernegosiasi. Ucapannya sampai membuat Alceena berhenti memberontak karena berpikir bahwa semua yang dikatakan oleh si penguasa bisnis itu adalah sangat benar.
“Nah, lebih baik kau duduk dulu.” Mama Gwen menuntun sang putri untuk kembali ke kursi.
Sedangkan Marvel, dia justru mengajukan diri untuk mencari Dariush. “Biar aku yang pergi memastikan, kalian di sini saja.”
Tidak ada yang keberatan dengan inisiatif Marvel. Semua orang mengangguk. Termasuk Deavenny.
“Hati-hati, kau jangan mengebut di jalan.” Sebelum melepaskan sang suami pergi, Deavenny memberikan nasihat terlebih dahulu. Dan dia diberikan kecupan di dahi oleh Marvel.
Sementara itu, Dariush yang sudah mengucurkan darah segar dari lengan pun telah berada di dalam ambulan. Petugas medis segera mengevakuasi korban kecelakaan beruntun tersebut setelah dipastikan masih ada kemungkinan bisa diselamatkan nyawanya.
Pria keturunan Dominique itu sudah mendapatkan pertolongan pertama dan sedang dibawa menuju ke rumah sakit terdekat untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Ambulan tersebut melaju sangat kencang. Dariush tidak merasakan apa pun saat ini. Mata terus terpejam, jiwanya belum pergi dari raga itu. Tapi kesadaran bukanlah miliknya untuk saat ini.
Petugas medis yang berada di dalam ambulan pun terus mengecek kondisi Dariush yang sejak tadi terus mengeluarkan banyak darah.
...*****...
...Kenapa ga koit aja sih Dar? Aku perlu kursus biar punya bakat valakorin kamu lagi kalo kaya gini ceritanya...