My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 60


Alceena segera merubah posisinya menjadi duduk, dia hendak menurunkan kaki ke lantai untuk berdiri dan ingin meninggalkan UGD. Namun, Dariush segera mencegahnya sebelum berhasil turun dari brankar.


“Kau mau apa?” tanya Dariush yang saat ini sedang memegang kedua lengan wanitanya.


“Pulang, memangnya mau apa lagi di sini?” jawab Alceena menatap bingung ke arah Dariush yang mengajukan pertanyaan tak masuk akal.


“Biar aku gendong, jangan terlalu lelah dulu.” Dariush langsung memposisikan tangan untuk membawa Alceena.


“Aku bisa jalan sendiri, Dariush. Perutku sudah tak sakit.” Alceena mengajukan protes, tapi tangan tetap saja melingkar di leher sang pria. Mulut dan tindakan sungguh tak sejalan.


“Sudahlah, tadi kau sangat menurut denganku, sekarang banyak protes lagi. Cukup diam dan nikmati saja apa yang aku berikan dan lakukan untukmu. Ku jamin hidupmu pasti akan bahagia,” omel Dariush seraya mengayunkan kaki menuju tempat parkir.


“Badanku berat karena sedang hamil, aku tak mau menyusahkanmu,” jelas Alceena menyampaikan alasannya.


“Apa kau meragukan kekuatanku?” tanya Dariush dengan tatapan mata teduh menyorot wajah Alceena.


Kepala Alceena menggeleng. “Tidak, hanya takut saja jika ada yang melihat kita sedekat ini.”


Dariush menaikkan sebelah alis. “Memangnya kenapa jika ada yang melihat?”


“Nanti aku dikira lumpuh dan penyakitan,” kelakar Alceena mencoba berkilah. Padahal dia resah jika Cathleen mengetahui dirinya yang nampak sedekat ini dengan Dariush.


Pikiran Alceena selalu saja dihantui oleh wajah Cathleen yang bersedih. Padahal dia nyaman berada di dekat Dariush.


“Siapa orang yang berani menghinamu? Ku cuci mulutnya biar bersih.” Dariush berucap seraya mendudukkan Alceena di dalam mobil.


“Kalau menyangkut dirimu, aku tak bisa bercanda,” balas Dariush seraya memberikan isyarat tangan agar Alceena bergeser duduk.


Alceena yang paham pun menggerakkan pantat hingga sedikit berpindah. Dia tak mau menanggapi sanggahan Dariush lagi daripada berujung debat.


Kendaraan roda empat itu pun melaju menyusuri jalanan Kota Munich.


Alceena menggerakkan tangannya di tengah-tengah tempat duduk yang menyisakan sedikit jarak dengan Dariush. Ingin menggenggam tangan pria itu, tapi malu.


Dariush sampai mengulas senyum mendapati tingkah Alceena yang saat hamil justru seperti orang canggung, bukan Alceena yang dia kenal sangat dewasa dan bisa melakukan apa pun seorang diri tanpa rasa malu. “Pegang saja jika kau mau, tak perlu gengsi atau malu-malu.” Dia menyodorkan tangan kiri ke hadapan sang wanita.


Alceena menunjukkan rentetan gigi rapi, terlihat canggung saat ketahuan jika dia ingin menggenggam tangan Dariush. “Takut kau marah jika aku tiba-tiba menyentuhmu,” kilahnya. Dan tanpa ragu, dia menyatukan jemari dengan milik pria tampan di sampingnya.


“Sejak kapan aku marah jika kau pegang? Justru aku sangat senang kalau kau memiliki inisiatif menyentuhku tanpa permisi.” Dariush mengedipkan sebelah mata genit sembari menoel dagu Alceena dengan tangan kanan.


Alceena mengulas senyum manis yang membuat wajahnya semakin cantik. ‘Selagi tak ada Cathleen, aku akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.’


Kepala Alceena pun kini berani menyandar di bahu bidang Dariush. “Maaf, jika dulu aku sangat ketus denganmu. Sekarang aku sedang dihukum oleh anakku, sepertinya dia menginginkan Mommynya agar berbaikan dengan orang yang ku anggap musuh sejak dahulu, sehingga rasanya nyaman berada di dekatmu.”


...*****...


...Udah ya, tiga dulu aja hari ini, seperti biasanya. Nanti kalo kebanyakan takut kalian overdosis bacanya wkwkwkwk. Apa lagi pas manis-manisnya nih, takut diabetes...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiah bestie...