
Sementara itu, para wanita sedang berbagi tugas untuk menyiapkan makan siang. Felly dan Mommy Diora mendapatkan di bagian kompor karena mereka memang pandai dalam memasak, Deavenny hanya mencuci bahan-bahan saja karena tak memiliki keahlian di bidang dapur, Amartha dan Alceena mendapatkan tugas untuk memotong sayur.
Alceena menggaruk kepala karena bingung harus dipotong dengan bentuk seperti apa. Dia sudah memegang wortel dan pisau.
“Kenapa?” tanya Amartha yang lihai melakukan tugasnya.
“Aku harus memotongnya seperti apa? Nanti salah jika ku lakukan secara asal,” jelas Alceena dengan wajah bingungnya.
“Oh, wortelnya di parut saja, hanya untuk campuran dan taburan dimsum. Mommy ingin memasak itu juga.” Amartha mengambilkan alat untuk digunakan oleh Alceena. Dia memberikan benda tersebut ke hadapan calon anggota baru keluarga Dominique. “Kau bisa, ‘kan?”
“Bisa, hanya seperti ini, ‘kan?” Alceena memarut wortel dengan benar. Dan dijawab anggukan kepala oleh Amartha.
“Ada yang bisa ku bantu? Tugasku sudah selesai semua, jadi aku sedang tak melakukan apa pun.” Tiba-tiba Deavenny ikut bergabung dengan Alceena dan Amartha yang duduk manis di depan meja seraya berkutat dengan sayur.
“Tidak ada, semua sudah hampir selesai,” jawab Alceena.
“Baguslah, jadi aku hanya butuh duduk dan menonton saja,” kelakar Deavenny. Dia mengamati empat wanita yang sedang melakukan kegiatan mereka masing-masing.
Namun, mendadak Deavenny sangat ingin tahu suatu hal. “Ceena?” panggilnya dengan menatap lekat wajah cantik ibu hamil yang duduk di hadapannya.
“Apa?” Alceena membersihkan parutan hingga sisa wortel turun semua ke mangkuk.
Alceena tak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Dia melepaskan sarung tangan tipis yang melindungi kulitnya agar tak kotor. Bahu pun nampak mengedik. “Aku tak tahu, tapi berada di sampingnya sangat nyaman dan membuatku tenang.”
“Apa kau tak sadar jika mencintai kembaranku? Bahkan kalian sudah sangat lengket,” timpal Deavenny.
Alceena menggelengkan kepala. “Aku belum terlalu yakin dengan perasaanku. Bisa saja ini hanya datang sekilas saat masa kehamilanku.”
Deavenny meniup rambutnya ke atas. Gemas juga dengan Alceena yang masih tak yakin dengan kakaknya. “Dengar, Ceena. Aku sangat mohon padamu, jangan permainkan perasaan Dariush yang tulus itu. Jika kau tak berniat untuk membalas cintanya, tolong segera tinggalkan kembaranku. Aku tak ingin melihatnya terluka lebih dalam jika kau mendekat hanya untuk keuntungan pribadimu,” pintanya dengan sungguh-sungguh.
Deavenny bukan ingin mengusir Alceena atau tak menyetujui hubungan kakaknya dengan wanita itu. Tapi, dia mau membuka pikiran dan hati orang yang disukai oleh Dariush agar mulai bisa memikirkan cinta, bukan sekedar kenyamanan belaka.
Mommy Diora yang mendengar Deavenny mulai memanasi perasaan Alceena pun menghampiri wanita pujaan Dariush, dan mengusap bagian punggung. “Ceena, kita semua mencintai pasangan masing-masing karena berawat dari terbiasa dan berakhir nyaman. Mungkin, kau pun sebenarnya sudah memiliki rasa itu. Hanya saja masih ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, atau kau masih kurang percaya dengan ketulusan Dariush?”
Mendengar penuturan Mommy Diora, Alceena reflek memegang dadanya. “Apa benar seperti itu?” gumamnya sangat lirih. Matanya melirik ke arah Dariush yang sejak tadi terus mengamatinya dari jauh dan tiba-tiba diberikan sebuah senyuman oleh pria itu yang mampu membuatnya berdebar.
...*****...
...Nahloh, kena ceramah kan lu Ceena wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...