
Selena menggelengkan kepala sangat lemah, bahkan hampir tak terlihat jika tidak dilihat dengan saksama. Alceena bisa menilai jika jawaban ragu-ragu adalah sebuah kebohongan. Anak kedua Tuan Pattinson langsung menarik kesimpulan jika kakaknya sedang menutupi sesuatu.
“Jawab dengan suara lantang, Selena!” perintah Alceena dengan mata yang nyalang menatap kakak tirinya. Dia mulai marah karena wanita yang ada di hadapannya seperti menyembunyikan sesuatu menyangkut dalang dibalik rumor dirinya mandul.
“Aku tidak tahu, Ceena.” Lirih sekali suara Selena mengalun, bahkan seperti orang berbisik.
Alceena menghela napas sangat kasar. “Kau yakin jika tak tahu?” Dia semakin memojokkan sang kakak.
Selena terdiam sejenak, mengeluarkan udara pelan dari bibir. Dia bingung sendiri harus menjawab apa pada pertanyaan Alceena yang selalu saja tidak merasa puas.
“Diam tandanya kau tak yakin, dan kesimpulannya adalah kau sedang menutupi fakta bahwa Brandon Brooks, si keparat dan pecundang itulah yang menyebarkan rumor tentang aku mandul. Benar atau salah?” Desakan terus terlontar dari bibir Alceena. Dia sangat menggebu-gebu ingin mendapatkan jawaban atas pencemaran nama baiknya.
“Tidak bisa langsung menyimpulkan seperti itu juga, Ceena. Sejak tadi kau mengajukan pertanyaan tanpa henti, kondisi Selena juga sedang hamil. Jadi, dia butuh waktu untuk berpikir.” Aldrich memotong pembicaraan antara kakak dan adiknya. Melihat Selena yang mulai menunduk lemas, dia kasian.
“Aku juga hamil, tapi berpikir pun tak selama itu. Alasan macam apa yang kau berikan. Tak masuk akal! Orang berbohong atau menutupi sesuatu, pasti bisa terlihat saat didesak sebuah pertanyaan sederhana yang semestinya sangat mudah untuk dijawab, jika memang dia tidak melakukan sebuah kesalahan.” Emosi yang sejak tadi ditahan oleh Alceena, kini mulai meluap. Dia sampai menunjuk wajah Selena yang menurutnya membuat kesal karena terlihat lemah disaat yang tidak tepat.
“Ceen, nanti kau dimarahi Madhiaz jika berbicara menggunakan nada tinggi saat bersama anggota keluarga kita.” Cathleen berusaha membisikkan sesuatu di telinga Alceena. “Kalian bisa bertengkar lagi karena hal seperti ini,” imbuhnya memberikan peringatan.
Alceena berdecak kesal. Andai tak ada suadaranya yang lain. Dia sudah menyerocos sampai Selena memilih menangis dan tak bisa menjawab pertanyaannya.
“Oke, sorry.” Alceena meminta maaf karena dia sudah membuat suasana menjadi panas. “Tolong angkat pandanganmu, Selena! Tatap mataku agar aku tahu kau berbohong atau tidak,” titahnya kemudian.
Madhiaz yang melihat kakaknya nampak tak tegas pun sebenarnya menahan kesal juga seperti Alceena. “Jika kau tidak merasa memiliki kesalahan, tunjukkan agar kami tidak menilaimu buruk. Gestur tubuhmu sejak tadi sangat mencurigakan.” Akhirnya suara lantang keluar juga dari bibir pria tersebut.
“Pertanyaan sederhana yang harus kau jawab dengan cepat, yakin, dan tegas. Cukup kau jawab ya atau tidak. Apakah kau mencintai Brandon Brooks?” Sudah tak tahu ini pertanyaan keberapa dari Alceena.
“Ya! Sejak hamil anaknya, aku mulai memiliki perasaan pada Brandon.” Selena menjawab sesuai perintah.
Alceena menarik dua sudut bibir karena mulai bisa memahami kenapa sejak tadi Selena terlihat gugup dan takut. “Well, urusanku denganmu sudah selesai.” Dia berdiri sendirian. “Terimalah pertanggung jawaban Brandon. Anakmu membutuhkan ayahnya. Aku tak akan menghalangimu bersatu dengan pria pecundang itu.”
Alceena mengayunkan kaki mendahului yang lain, menuju ke arah pintu karena dia ingin mengumpati seseorang.
“Kau yakin?” Selena mengajukan pertanyaan seraya menatap punggung adiknya.
Alceena memutar tubuh hingga menatap Selena. Menyilangkan kedua tangan di dada, dan mengulas senyum penuh arti. “Tentu saja, tapi bersiaplah memiliki suami seorang narapidana, karena aku tak akan mengampuni seseorang yang sudah mencemarkan nama baikku!”
...*****...
...Baju kusut mulai lurus lagi, setrikanya udah panas wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...