My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 145


“Memangnya Gerald mau datang ke pesta seperti itu?” tanya Dariush seraya melihat sepupunya yang bermain ponsel di sofa yang terpisah dengan anggota keluarga lainnya.


Seluruh mata sedang tertuju pada salah satu anak Tuan Giorgio. Merasa kasian dengan Gerald yang sekarang.


“Kalau belum dicoba, kita tak akan tahu hasilnya,” ucap Danesh.


“Kau ‘kan tahu bagaimana sifatnya sekarang yang mulai menjauh setelah kejadian saat itu. Lihat saja Gerald yang memilih menyendiri daripada berbincang dengan kita,” sahut Delavar.


“Aku juga tak yakin kalau dia mau datang. Gerald yang sekarang sudah tak seperti yang dahulu ku kenal,” imbuh Deavenny.


“Paksa saja, kalau perlu kita seret sama-sama agar dia mau datang.” Geraldine ikut mengompori suasana di sana.


Dariush tiba-tiba berdiri. “Aku akan tanya pada Gerald,” celetuknya.


Dariush mengayunkan kaki mendekati sepupu laki-lakinya. Dan anggota keluarga lain hanya menyaksikan dari jauh.


Tangan Dariush langsung melingkar di pundak Gerald. Anak Tuan Giorgio itu tak bereaksi sedikit pun, tetap diam dan fokus pada ponsel. Bahkan tak ada suara yang terlontar atau sekedar ingin tahu maksud kedatangan Dariush yang tiba-tiba mendekat.


“Game baru?” tanya Dariush mencoba basa-basi terlebih dahulu. Dia ikut melihat layar ponsel Gerald.


“Hm.” Sedangkan orang yang ditanya hanya menjawab singkat. Seperti inilah Gerald sekarang, cuek. Padahal dahulu seperti yang lainnya, hangat dan humoris.


“Bergabung dengan yang lain, yuk?” ajak Dariush seraya menepuk pundak sepupunya.


“Malas.”


Dariush menghela napas tipis, menghadapi manusia yang acuh ternyata lebih sulit. Tapi dia harus tetap mencari cara agar Gerald bisa seperti dahulu lagi. “Kita sedang berdiskusi masalah pesta lajang, kau datang, ya?”


Dariush mengkomat-kamitkan bibir, dia menggerutu tanpa suara. Gerald lebih dingin daripada Danesh ataupun Uncle George.


Tangan Dariush sudah terkepal di belakang kepala Gerald, rasanya dia ingin menggeplak, menoyor, ataupun menjitak sepupunya agar tak menyebalkan. Tapi diurungkan, justru menjadi menepuk kepala Gerald secara perlahan namun dengan penekanan seraya berucap, “memangnya kau itu sibuk apa? Mengurus perusahaan keluarga Giorgio saja tak mau. Sudahlah, jangan membuang waktumu hanya untuk seseorang di masa lalu yang tak mungkin kembali lagi.”


Mendengar perkataan Dariush, Gerald langsung melirik ke arah sepupunya dengan sorot mata tajam. “Kalau berbicara, tolong dijaga!” tegurnya dengan nada bicara yang terdengar tegas dan menusuk.


“Kenyataannya memang seperti itu, kau terjebak dengan cinta masa lalumu. Maka, datanglah ke pesta lajang, siapa tahu bisa menemukan seseorang yang baru untuk mengisi hati dan harimu.” Dariush masih berusaha membujuk.


Tapi sayangnya, Gerald tak tertarik. Dia mematikan layar ponsel dan langsung berdiri. Dengan wajah datar, tak ada binar bahagia seperti anggota keluarga yang lain, pria itu menatap satu persatu orang di sana. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kakinya mengayun begitu saja.


Semua tahu jika Gerald sudah tiba-tiba pergi, berarti sedang tak suka dengan situasi yang dihadapi.


“Woi! Kau mau ke mana?” teriak Geraldine.


“Pergi.” Tanpa membalikkan tubuh, Gerald tetap menjauh.


“Lalu, aku bagaimana? Kita berangkat ke sini berdua.” Geraldine mencoba untuk menghentikan kembarannya.


Tapi sayang, Gerald tak terpengaruh. “Minta antar Marvel atau yang lain, saudaramu banyak, bukan aku saja.” Dia benar-benar menghilang dari pandangan seluruh orang yang ada di sana.


...*****...


...Cerita lengkap Madhiaz, Gerald, Cathleen, Geraldine, semua akan dibuat judul sendiri-sendiri. Di sini sengaja dipancing-pancing biar penasaran aja hehehe...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...