
Alceena masih saja merasakan mual. Padahal biasanya menatap Dariush sangat mempan untuk meredakan morning sickness yang selalu membuatnya lemas.
“Kenapa melihatmu dengan jarak dekat justru membuatku semakin mual?” tanya Alceena dengan wajah bingung.
“Apa aku coba berdiri jauh? Mungkin akan reda,” tawar Dariush seraya menunjuk pintu sebagai tempatnya untuk memijakkan kaki.
Alceena mengangguk. “Boleh, mungkin anakku bukan ingin berdekatan dengamu, tapi hanya mau menjadi pengagum dari jauh.”
“Anakmu itu baru di dalam perut saja sudah menjadi fansku. Bagaimana jika sudah lahir nanti? Pasti dia akan mengejarku sambil berkata—” Dariush berhenti sejenak karena dia sedang berdiri, beranjak dari kursi untuk mempraktekkan apa yang ada di dalam imajinasi tentang anaknya kelak. “Aku ingin uncle Dariush menjadi Daddyku,” teriaknya seraya berlari kecil seperti bocah yang sedang menuju pintu. Begitulah yang dia pikirkan jika Alceena tak kunjung menerimanya menjadi calon suami.
Alceena terkekeh melihat tingkah Dariush yang seperti bocah kecil. “Kau lucu sekali, anakku suka menyaksikanmu seperi tadi, sangat menghibur,” tuturnya dengan mengelus perut. “Coba melawak lagi,” pintanya kemudian karena merasa kurang.
Dariush melongo mendengar permintaan sang wanita. Kini dia sudah berdiri di dekat pintu, menatap Alceena dari jarak lima meter. “Aku tak bisa melawak, tadi hanya spontanitasku saja. Tapi jika kau meminta untuk menggoda, baru aku jagonya.” Anak Tuan Dominique justru menawarkan hal lain dengan menaik turunkan kedua alis.
“No, no, anakku tidak mau digoda,” tolak Alceena seraya kepala menggeleng.
“Oke, sekarang coba lihat aku. Apakah masih mual atau tidak?” pinta Dariush agar sang wanita berfokus pada tubuh tegapnya yang tak memakai kaos, hanya tertutup secuil boxer saja karena dia memang senang tidur memakai bawahan pendek tersebut.
Alceena menyusuri setiap detail dari bagian Dariush. Mulai dari ujung jempol kaki, naik ke betis yang berbulu, kemudian berangsur tertuju pada paha beserta bagian sekitarnya. Dia berhenti sejenak pada salah satu titik yang nampak aneh. Dengan menaikkan sebelah alis, Alceena mencurigai sesuatu.
“Coba kau melompat-lompat,” pinta Alceena.
“Di sini?” Alceena menjawab anggukan.
“Sekarang?” Dariush mengajukan pertanyaan lagi.
“Baiklah.” Dariush pun menaik turunkan tubuh seperti sedang bermain lompat tali.
Dan Alceena tertawa terbahak-bahak saat melihat ada sesuatu yang berbeda di balik celana boxer yang dipakai oleh Dariush. “Kau tak memakai dalaman? Milikmu jadi bergerak-gerak,” celetuknya seraya menunjuk paha sang pria.
Dariush menyengir, tak malu sedikit pun walaupun Alceena menertawakan harta berharganya yang bergerak ke sana ke mari. Mereka sama-sama sudah dewasa dan tidak menganggap hal tersebut adalah sesuatu yang tabu untuk dibahas atau dilihat. “Aku suka tidur hanya memakai boxer saja. Apa kau senang melihatku seperti tadi? Aku bisa melompat lagi sampai kau puas menertawakanku.”
Alceena menggerakkan tangan untuk memberikan isyarat berupa tolakan. “Sudah, aku takut milikmu lepas ke bawah atau memanjang jika kau teruskan,” kelakarnya diiringi cekikikan karena masih lucu sendiri.
Dariush mengulas senyum, senang sekali bisa membuat dan melihat Alceena tertawa lepas. “Apa perutmu masih mual?”
“No, seketika hilang saat melihat tingkah lucumu,” jawab Alceena sembari mengelus perut.
“Oh, jadi anakmu senang melihat aku seperti ini?” Dariush justru menggerakkan pinggulnya ke depan dan belakang, hingga harta karunnya terlihat jelas sedang bergoyang.
Alceena tidak bisa berhenti tertawa saat melihat itu. “Sudah, cukup, Dariush, nanti milikmu memanjang, aku tak tanggung jawab.”
...*****...
...Oalah ... bule edan wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...