My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 50


Sedangkan Dariush, dia sedang bekerja menyelesaikan urusan kantornya yang banyak sekali. Tiba-tiba sekretarisnya mengetuk pintu dan segera masuk setelah dipersilahkan.


Dariush menghentikan aktivitas yang sedang menatap monitor. Sesaat fokus pada Mike, sekretarisnya. “Katakan!” titahnya agar pria yang berdiri di hadapannya segera mengungkapkan maksud menemuinya.


“Hari ini terakhir untuk mengonfirmasi kedatangan Anda ke acara tahunan pengusaha muda di Eropa. Apakah Anda akan hadir atau tidak?”


Dariush menyangga dagu menggunakan kedua tangannya. “Alceena sudah mengonfirmasi kehadirannya atau belum?”


“Tunggu sebentar, saya cek terlebih dahulu.” Mike nampak memainkan iPad di tangannya. Membuka sebuah aplikasi undangan yang disebar secara online oleh tuan rumah acara. “Nona Alceena baru saja mengonfirmasi bahwa akan hadir, Tuan.” Dia memperlihatkan bukti kepada Dariush agar atasannya percaya.


“Kalau begitu, aku juga akan datang.”


“Baik, saya langsung konfirmasi. Dan untuk acaranya akan berlangsung selama satu minggu seperti biasa.”


Dariush mengangguk paham. Pertemuan itu bukan sembarang berkumpul saja. Tapi juga memperluas relasi serta menjalin kerja sama antar perusahaan.


“Saya permisi, Tuan.” Mike membungkukkan sedikit badannya dan memutar tubuh hendak keluar.


Namun, Dariush mencegah sekretarisnya sebelum meninggalkan ruangannya. “Tunggu, Mike. Aku ada satu perintah lagi yang harus kau kerjakan!”


Mike pun mau tak mau berbalik menatap tuannya lagi. “Tugas apa, Tuan?”


“Tolong kau carikan wanita cantik dan seksi yang ada di Munich untuk berpura-pura menjadi pendampingku di acara itu. Pastikan kau buat perjanjian dengannya agar tak pernah menaruh hati padaku, berikan dia imbalan uang berapapun yang diinginkan asalkan bisa bersandiwara menjadi pasanganku!” titah Dariush. Dia ingin membuat Alceena cemburu agar wanitanya bisa menyadari perasaan yang sesungguhnya, dan tentu saja mengharapkan Alceena bisa memiliki inisiatif untuk menemuinya tanpa diam-diam mengintai lagi.


“Baik.” Mike segera keluar untuk menjalankan perintah tuannya.


...........


Dua hari berlalu, pagi ini Alceena akan terbang ke Munich bersama dengan Cathleen, Madhiaz, Selena, dan Aldrich menggunakan pesawat yang sama.


Seperti biasa, Alceena akan muntah di pagi hari sampai lemas.


“Aku bukan lumpuh, ini hanya efek hamil muda,” tolak Alceena seraya mencubit lemas lengan Madhiaz.


“Kau di mansion saja jika tak kuat, Ceena. Jangan paksakan untuk ikut acara ini.” Cathleen mencoba menasehati karena kasian melihat kembarannya.


Alceena menggelengkan kepala. “Kalian ini kenapa khawatir sekali, aku baik-baik saja. Sudah, ayo kita berangkat ke bandara.” Dia mengajak agar keluarganya segera mengayunkan kaki.


“Wait, Selena dan Aldrich ke mana?” tanya Cathleen yang tak melihat dua saudara tirinya.


Sedangkan orang yang dicari, ternyata berada di dalam toilet yang ada di dekat dapur bersih. Aldrich memijat tengkuk Selena saat saudara tirinya sedang muntah.


“Sudah aku katakan agar kau mengkonsumsi pil untuk mencegah kehamilan. Pasti tak akan terjadi seperti ini!” Aldrich mengomeli Selena habis-habisan.


Selena membersihkan mulut menggunakan air. “Aku sudah minum obat setelah kejadian itu.”


“Teratur? Setiap hari kau konsumsi?”


Kepala Selena terlihat menggeleng. “Hanya setelah malam itu saja, aku kira tak akan sampai hamil.”


Aldrich berdecak kesal. “Setiap hari, Selena!” Dia berucap penuh penekanan. “Percuma saja kau konsumsi hanya sekali. Sekarang jika sudah kejadian seperti ini, bagaimana menjelaskan pada orang tua kita? Mereka pasti kecewa.” Tangan pun mengacak-acak rambut karena frustasi.


Selena hanya bisa menggelengkan kepala. “Untuk saat ini, tolong rahasiakan dulu,” pintanya dengan menatap Aldrich dengan sorot memohon.


...*****...


...Lah, Selena, kamu hamil anak siapa weh? Astaga ... ikutan inseminasi rupanya? Tapi versi merem melek ya? Wkwkwk...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...