My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 164


“Dariush ...!”


Mendengar suara teriakan tersebut, Roxy langsung membuka mata. Tanpa menunggu kesadarannya terkumpul terlebih dahulu, dia segera berjalan secepat kilat menuju kamar Nona Alceena.


Roxy tak mengucap kata permisi terlebih dahulu. Baginya, teriakan merupakan pertanda bahaya. Tangannya langsung membuka pintu lebar-lebar. “Nona, apakah Anda baik-baik saja?” Bibir itu mengajukan pertanyaan.


Roxy tak jadi mengayunkan kaki untuk semakin masuk ke dalam. Cukup berdiri di ambang pintu. Karena baru saja melihat Nona Alceena reflek menutupi tubuh menggunakan selimut.


“Aku tak memanggilmu, kenapa kau yang datang?” tanya Alceena dengan wajah galak.


“Karena Anda berteriak, Nona,” jawab Roxy masih dalam mode tenang dan datar.


Alceena mencebikkan bibir sebal. “Kau melihat Dariush?”


“Sudah pulang ke Helsinki, Nona.”


Alceena langsung memasang wajah masam dan tak bersemangat. Dia mengibaskan tangan, mengusir Roxy. “Keluarlah.”


“Saya harus memastikan Anda baik-baik saja, Nona.” Roxy tak segera bergerak. Dia tengah mengamati kondisi kekasih majikannnya.


“Aku baik-baik saja. Jangan menatapku terus. Dibalik selimut ini, aku tak memakai busana apa pun! Kecuali kau mau dihajar oleh Dariush, silahkan saja lihat aku tanpa berkedip!” titah Alceena dengan sangat sinis. “Tapi aku akan mencolok matamu sekarang juga!” imbuhnya mengancam penuh kegalakan.


Alceena menjadi seperti singa buas yang mudah sekali mengamuk saat tak berada di dekat Dariush. Mood wanita itu seketika menjadi jelek.


“Baik, Nona. Maaf mengganggu.” Roxy membungkukkan kepala sekilas, lalu keluar kamar dan menutup pintu hingga rapat.


Sedangkan Alceena, dia mulai membersihkan diri di bawah guyuran air shower karena hari ini akan mengamati proses shooting film layar lebar yang diproduksi oleh perusahaannya yang bergerak di bidang hiburan.


“Dariush! Kau menyebalkan! Pergi tak memberiku salam perpisahan terlebih dahulu!” Alceena berteriak di dalam kamar mandi. Rasa rindu dan kesal sudah bercampur menjadi satu di dalam dirinya. Padahal baru juga beberapa jam tak melihat dan berada di negara yang sama dengan sang kekasih.


Setelah selesai mandi, Alceena segera berganti dan keluar kamar. Kehadirannya sudah disambut oleh Roxy.


“Nona, sarapan terlebih dahulu. Tuan Dariush yang menyiapkan makanan ini untuk Anda,” ucap Roxy yang baru saja selesai menyusun hidangan di atas meja. Dia hanya menyampaikan sesuai perintah majikannya saja. Walaupun sesungguhnya makanan itu dibeli secara online.


Mendengar Dariush yang sengaja menyiapkan sarapan, Alceena tentu saja mengambil posisi untuk duduk di ruang makan. Dia memasukkan sesuap ke dalam mulut, mengunyah, dan merasakan. “Ini bukan masakan Dariush, rasanya tak seperti yang biasa dibuat olehnya,” protes wanita itu yang sangat hafal dengan masakan sang kekasih.


“Tuan Dariush yang membelikan untuk Anda, Nona. Katanya kalau tidak dihabiskan, dia tak akan menyusul ke sini lagi,” bujuk Roxy dengan inisiatifnya sendiri. Itu bukanlah kata-kata yang diperintahkan oleh Dariush. Tapi, melihat betapa jinaknya Nona Alceena ketika mendengar nama majikannya, maka akan dia manfaatkan agar wanita itu mau makan.


Dengan bibir yang cemberut, Alceena pun menghabiskan sarapannya. Dia tak mau sampai Dariush benar-benar tak kembali lagi.


...........


Sepuluh hari berlalu, Alceena masih berada di Switzerland seorang diri karena Dariush sibuk bekerja. Selama itu juga hanya bisa melihat wajah satu sama lain melalui panggilan video yang tak sampai tiga puluh menit.


Jika Alceena setiap hari cemberut karena tak ditemani oleh sang kekasih. Lain hal dengan Dariush yang resah dengan kabar wanitanya yang mendadak mengabaikan pesan dan panggilannya selama seharian penuh.


Keluarga Dominique akan melangsungkan rapat tahunan seluruh petinggi dari perusahaan yang berada di bawah naungan Triple D Corp. Sehingga semua anak Tuan Dominique harus datang di sana dan tak boleh diwakilkan. Karena rapat tersebut akan dipimpin langsung oleh Drake Davis Dominique, pendiri perusahaan raksasa di benua Eropa.


“Alceena mengabaikanku, sepertinya dia marah karena aku sangat sibuk dan tak bisa menemaninya di Switzerland,” jawab Dariush seraya memasukkan ponsel ke dalam saku jas dan kembali fokus pada acara.


“Itu tandanya dia sangat menginginkan kau berada di dekatnya terus. Sepertinya, Alceena bukan lagi terjerat oleh kekuatan cairan bibit premiummu, tapi benar-benar memiliki rasa cinta,” balas Delavar.


Membuat Dariush menaikkan sebelah alis dan menengok pada kembarannya. “Sok tahu!”


“Coba saja kau buktikan ucapanku jika tak percaya.”


“Caranya?”


Delavar pun membisikkan ide gila dan nekat. Tentu sampai membuat Dariush melongo karena antara yakin dan tidak dengan rencananya. “Kita taruhan saja, kalau sampai apa yang ku katakan benar, maka kau harus angkat kaki dari penthousemu itu karena sering kali menggangguku saat ingin bercinta.” Dia mengulurkan tangan untuk meminta persetujuan.


Namun, Dariush tak langsung balas berjabatan. “Kalau salah?”


“Kau bisa tinggal di penthousemu dan mengangguku terus.”


“Ck! Taruhan macam apa itu, aku ingin kau menjadi pelayanku selama satu tahun penuh. Bagaimana?” Dariush menarik sudut bibirnya diiringi alis yang disentakkan ke atas. Pria itu terlihat jelas sedang menantang.


“What? Satu tahun? Tiga bulan saja.” Delavar mencoba mengajukan penawaran.


“No, enam bulan. Deal or no?” Kini, balas Dariush yang mengulurkan tangan.


Delavar berpikir sebentar. Tapi pria itu sangat yakin dengan prediksinya. Akhirnya memilih untuk bersalaman. “Deal.”


...*****...


...Ayang Dariush, percayalah padaku, cinta Alceena hanya semu, sedangkan cintaku nyata! Mending kamu ke Indonesia aja nyusul aku, daripada dicuekin sama si rambut singa yang lagi merajuk. Dijamin seratus persen, aku tak akan merajuk seperti Mbak Ceena...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...


...*****...


...Mampir ke karya temen aku yuk bestie. Judulnya Akhir Sebuah Perselingkuhan oleh author Gadisti...



Blurb:


Pengkhianatan yang di lakukan oleh suami dan sahabatnya sendiri, membuat sikap Mentari berubah menjadi dingin. Cinta berubah menjadi benci, Mentari harus membalaskan rasa sakitnya selama ini.


Di sisi lain, Jhonatan Alfarizzy pria berusia 31 tahun, laki-laki masa lalu Mentari datang kembali dalam kehidupannya. Laki-laki yang begitu mencintainya dan laki-laki yang rela melakukan apa pun untuk mendapatkan Mentari, perempuan yang sudah lima tahun pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.