My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 212 S2


...Sorry bestie baru sempet lanjutin lagi....


...*****...


Alceena baru melirik ke arah Madhiaz saat perkataan pria itu membuat hatinya mencelos. Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh kembarannya itu, Dariush pasti tidak akan senang kalau tahu dirinya berdiri lama, suaminya itu selalu merawat dan memperhatikannya sebaik mungkin. Kepala Alceena otomatis menjawab dengan gelengan kepala diiringi tangis yang tak kunjung berhenti.


Madhiaz barulah merangkul lengan Alceena saat itu. Dia mengusap lengan saudaranya dengan lembut dan penuh perhatian. “Maka dari itu, jangan keras kepala. Semua orang juga sedih dengan kejadian yang menimpa suamimu. Jika kau terus memilih berdiri seperti ini, nanti tak bisa merawat Dariush ketika dia bangun karena kondisimu sedang hamil dan pasti mudah lelah.” Dia berusaha membujuk dengan caranya sendiri, tidak perlu mengeluarkan sebuah paksaan. “Menanti Dariush selesai diberikan penanganan, tak perlu dengan cara menyusahkan diri. Duduk pun tak akan mengurangi rasa khawatir dan bersalahmu.”


Alceena akhirnya mengangguk. “Aku mau duduk,” pintanya.


Ulasan senyum terulas tampan di wajah Madhiaz, dia menuntun Alceena untuk mengistirahatkan tubuh di kursi tunggu samping Cathleen. Sementara dirinya berdiri di samping sang kembaran untuk siaga kalau terjadi sesuatu hal yang buruk dengan kondisi Alceena yang sedang hamil trimester tiga.


Cathleen langsung memeluk Alceena untuk memberikan semangat dan kekuatan. Kalau ada di posisi itu, dia juga akan sedih seperti kembarannya. Tidak ada yang mau jika orang yang dicintai terluka parah. “Dariush pasti sembuh, dia orang yang kuat. Aku yakin kalau dokter bisa menyelamatkan nyawanya,” tuturnya sangat lirih.


Alceena bukannya berhenti menangis, dia justru kian deras mengucurkan air mata. Dikelilingi orang-orang yang baik dan perhatian dengannya adalah sebuah anugerah dari Tuhan yang tidak pernah dibayangkan bisa melebihi ekspektasi. Mulai dari suami dan saudara. Apa lagi mertua serta seluruh iparnya tidak ada satupun yang menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Dariush. Tapi ia sendiri yang merasa bersalah.


Cathleen mengelus perut Alceena yang sangat buncit itu. “Ingat, di sini ada anak-anakmu dengan Dariush. Kau harus menjaga mereka sebagaimana suamimu menginginkan keturunannya dapat menghirup udara segar. Jika kau terus banyak pikiran dan stres, takutnya bisa terjadi hal buruk dengan kandunganmu. Pasti Dariush sedih kalau tahu hal itu.”


Apa pun yang dikatakan dan membawa nama Dariush, pasti Alceena langsung menurut. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan secara perlahan untuk mencoba menurunkan adrenalin perasaan dan emosi kesedihan yang terlalu tinggi. “Bagaimana caranya supaya aku bisa lebih tenang?”


“Tanam dalam pikiranmu kalau Dariush baik-baik saja dan bisa sembuh. Bayangkan kenangan indah kalian, lalu rasakan kalau hal itu bisa terjadi lagi,” ucap Delavar yang mendengar pertanyaan dari saudari iparnya.


Sembari menarik dan mengeluarkan napas perlahan, Alceena memikirkan sesuai yang diajarkan oleh Delavar. Matanya terpejam supaya mendalami imajinasi yang membutuhkan konsentrasi karena harus menyingkirkan hal-hal buruk di dalam sana.


Waktu pun terus bergulir, akhirnya dokter yang menangani Dariush pun keluar juga setelah mencoba untuk menyelamatkan nyawa salah satu korban kecelakaan dengan kondisi lumayan parah.


...*****...


...Dariush, aku tuh pengen kamu dead aja biar enggak bikin aku ngiri terus dengan kebucinanmu. Tapi bisa gak kalo posisimu ditukar aja sama Alceena? Biar Ceena yang kembali pada Sang Pencipta dan kamu kembali ke pelukanku?...