
Keesokan harinya, Alceena masih mengabaikan pesan serta panggilan telepon dari Dariush. Bahkan wanita itu sampai sengaja menonaktifkan ponsel agar sang kekasih tak bisa menghubungi lagi.
Wanita berperut buncit itu keluar dari kamar dan duduk di ruang makan untuk sarapan seperti biasa. Tapi yang berbeda adalah, dia tak menanyakan lagi kepada Roxy tentang kapan Dariush akan ke Switzerland. Alceena sudah tahu jawabannya, karena selalu saja Roxy mengatakan Dariush akan menyusul setelah semua urusan selesai.
Tapi ini sudah sebelas hari. Bahkan sabtu dan minggu sebelumnya yang seharusnya libur pun Dariush tetap bekerja. Entahlah, benar-benar membuat mood Alceena semakin jelek.
“Nona.” Roxy tiba-tiba mendekati kekasih majikannya untuk menyampaikan pesan dari anak kedua Tuan Dominique.
“Hm?” Alceena membalas dengan nada yang terdengar malas menanggapi. Dia juga makan dengan tak bersemangat.
“Tuan Dariush bertanya, apakah Anda mematikan ponsel?” tanya Roxy seraya membaca aplikasi whatsapp yang sedang menampilkan isi pesan dari salah satu majikannya.
“Iya.” Alceena membenarkan dengan jawaban singkat dan nada ketus.
Roxy nampak mengetikkan sesuatu di layar, dan beberapa saat menunggu jawaban dari Tuan Dariush. Setelah dibalas, dia kembali berbicara dengan Nona Alceena.
“Nona, Tuan Dariush meminta Anda untuk menghidupkan ponsel dan menjawab panggilannya,” beri tahu Roxy.
“Suruh saja dia menghidupkan sendiri!” Juteknya seorang Alceena mulai keluar.
Kali ini Roxy tak mengetik, namun dia merekam jawaban Nona Alceena secara langsung untuk dikirimkan pada pria yang kini berada di Helsinki. Dan tak lama, layar ponselnya menunjukkan ada sebuah panggilan masuk. Dia langsung mengangkat.
“Ya, Tuan?” sapa Roxy.
“Di mana Alceena?”
“Di hadapan saya, Tuan.”
“Berikan ponselmu padanya, aku ingin bicara!”
“Nona, Tuan Dariush ingin berbicara dengan Anda.” Roxy menyodorkan ponselnya.
“Tidak mau! Kalau dia mau berbicara denganku, katakan untuk secara langsung, bukan sekedar panggilan telepon!” tolak Alceena dengan suara yang sengaja dikeraskan agar Dariush bisa sampai mendengar jawabannya.
Karena ponselnya ditolak, Roxy pun meletakkan kembali ke daun telinganya. “Maaf, Tuan. Nona Alceena ti—”
Belum sempat Roxy menyelesaikan ucapan, Dariush sudah menyela. “Aku sudah mendengar, tolong kau rubah jadi panggilan video saja.”
Roxy hanya bisa menuruti perintah. Dia mengarahkan layar ke arah Nona Alceena. Tapi wanita itu tak peduli sedikit pun.
Sedangkan Dariush langsung berbicara saat melihat jelas mimik wajah Alceena yang cemberut.
“Sayang, tolong jangan merajuk seperti ini. Aku sedang bekerja demi masa depan kita.” Dariush berusaha membujuk kekasihnya dengan sangat lembut.
“Hah! Bekerja, dan bekerja! Sabtu, minggu itu tanggal merah! Dan kau pun tetap bekerja? Luar bisa teladan CEO satu ini,” sindir Alceena dengan memberikan tepuk tangan yang telihat tak senang. Dia lalu menggebrak meja seraya berdiri. Wanita itu tak menghabiskan sarapannya.
Alceena mengayunkan kaki begitu saja, meninggalkan ruang makan. Masuk ke dalam kamar, sengaja membanting pintu sangat keras agar Dariush peka kalau dia ingin pria itu berada di sisinya. “Ini tanggal merah, seharusnya dia libur!” gerutunya sangat kesal karena sang kekasih memilih tetap bekerja saat libur dibandingkan menyusul dan menemaninya. Toh datang ke sini pun menggunakan jet pribadi juga, jadi tak perlu takut kehabisan tiket pesawat.
Alceena duduk di tepi ranjang. Dia menggigiti bibir bawah sembari berpikir untuk menyusun cara agar sang kekasih segera datang. “Nah, sepertinya itu cara bagus,” celetuknya setelah mendapatkan ide yang baru saja terlintas.
...*****...
...Pusing aku sama si singa kalo lagi merajuk, ngomel mulu kerjaannya. Gak capek tu mulut?...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...