My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 126


“Pergi dari mansion ini,” jawab Alceena dengan mantap. Tekadnya sudah bulat. Di dalam tempat tinggal yang sudah dihuni puluhan tahun itu, kini tak memberikan kenyamanan untuknya.


“Ceena, kau baru saja pulang, mau ke mana lagi?” tanya Papa Danzel mencoba untuk menghentikan putrinya yang hendak mengayunkan kaki menjauh dari ruang keluarga.


Alceena menyempatkan diri untuk berbalik dan berpamitan pada orang tuanya. “Pa, Ma. Mulai sekarang, aku ingin tinggal terpisah. Aku akan hidup mandiri, memenuhi segala kebutuhan dan urusanku sendiri.”


Mama Gwen segera berdiri dan menghampiri Alceena yang belum beranjak terlalu jauh. Dia mengelus lengan dan perut sang anak. “Kau mau tinggal di mana? Kau sedang hamil, siapa yang akan merawatmu?”


Mama Gwen terlihat sangat sedih. Akibat perdebatan pagi ini, membuat salah satu anaknya memutuskan untuk keluar dari mansion. Beberapa bulan lalu sudah Aldrich, sekarang Alceena.


“Ma, aku bukan anak kecil yang tak bisa mengurus diri sendiri. Aku memiliki penghasilan, bisa untuk membeli apartemen, menyewa pembantu untuk bersih-bersih, membeli makanan bergizi, dan membayar dokter jika sedang sakit,” jelas Alceena. Dia memeluk Mamanya dan mengusap punggung wanita yang sudah keriput itu. “Jangan khawatir. Aku hanya tak ingin menjadi sumber perdebatan di dalam keluarga ini.”


Alceena menyudahi pelukannya dan memegang kedua lengan Mama Gwen. Dia mengulas senyum agar meyakinkan orang tuanya bahwa dirinya akan baik-baik saja di luar sana. “Meskipun aku keluar dari mansion ini, tapi aku tetap anakmu.” Dia berhenti sejenak untuk menatap seluruh orang yang ada di sana. “Dan kalian tetap keluargaku.”


“Izin Papamu, Ceena. Apakah dia memperbolehkan kau pergi dari sini atau tidak,” ucap Mama Gwen masih belum ikhlas jika harus terpisah dari salah satu anaknya lagi.


Alceena menatap ke arah Papa Danzel yang sejak tadi memilih tak berkomentar dengan keputusannya. “Pa, aku sudah besar dan ingin mencari jalan hidupku sendiri. Ku mohon izinkan anakmu ini pergi dari sini.”


Papa Danzel langsung menganggukkan kepala. “Jika itu membuatmu bahagia, maka lakukan. Asalkan kau berjanji padaku untuk selalu memberikan kabar, sering bermain ke sini, dan menjaga kesehatan serta keselamatanmu.”


Alceena mengulas senyum lega, Papanya bisa paham apa yang membuatnya tak nyaman berada di mansion. “Terima kasih, Pa. Aku berjanji untuk semua yang Papa sebutkan.”


Mama Gwen melongo ke arah suaminya. “Pa! Kenapa kau izinkan Alceena pergi?”


Papa Danzel menghampiri istrinya dan dia dekap agar tak menghalangi Alceena. “Karena itu adalah pilihan hidupnya.”


Walaupun sedikit berat, tapi Alceena tetap ingin keluar dari sana. Dia tak mau setiap hari mendengar rengekan Selena yang memintanya untuk menarik gugatan ke pengadilan. Dirinya juga wanita yang memiliki hati, meskipun cenderung keras kepala, tapi sewaktu-waktu juga bisa berbelas kasian. Maka, lebih baik Alceena menghindari Selena agar tetap menjadi orang yang teguh dengan pendirian.


Alceena mengusap lengan kedua orang tuanya. Lalu berpindah menatap saudaranya. “Madhiaz, Cath, Selena, dan Aldrich, tolong jaga orang tua kita.”


Setelah meminta hal itu, Alceena langsung melanjutkan melangkahkan kaki, keluar dari bangunan utama mansion Pattinson.


Saat Alceena sudah tak terlihat lagi, Cathleen menatap dengan sorot kesal pada Selena. “Pasti kembaranku memilih pergi gara-gara kau!” tuduhnya dengan wajah yang cemberut.


Madhiaz segera merangkul Cathleen dan mengusap lengan kembarannya agar tak emosi. “Bukan, Cath, kau jangan sering menyalahkan orang lain, mulailah merubah sifat burukmu itu,” nasihatnya pada sang adik.


...*****...


...Ah, kangennya sama bebeb Dar Dar. Next part, aku akan munculin bebeb...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...