My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 75


Alceena mengedikkan bahu. “Mana aku tahu, mungkin kekasihnya bukan pebisnis, jadi tak ingin pusing mengikuti acara yang serius seperti saat ini.”


Cathleen mengangguk paham. “Bisa jadi. Tapi, sepertinya wanita yang aku lihat tadi dan saat pesta semalam, berbeda. Apakah dia spesies playboy?”


“Sshh ....” Alceena menatap Cathleen dengan menempelkan telunjuk kanan ke bibir kembarannya. “Diamlah, aku sedang fokus ke acara. Lebih baik tak membahas Dariush, toh katamu dia sudah memiliki kekasih juga.” Dia beralih mengelus punggung kembarannya dengan lembut. “Terkadang tak mengetahui apa pun jauh lebih baik daripada kau tahu kenyataan tapi menyakitkan,” nasihatnya.


Cathleen menaikkan sebelah alis. Masih mencerna nasihat dari Alceena. “Benar juga apa katamu.” Dia bergumam dan akan berhenti untuk penasaran lagi dengan hubungan Dariush.


Waktu pun terus bergulir. Sampai larut malam, perusahaan Alceena belum juga dipanggil oleh pemandu acara untuk memaparkan projek. Padahal dia sangat butuh untuk mencari investor ataupun sponsor.


“Cath, kau sudah mendaftarkan perusahaanku, ‘kan?” tanya Alceena.


“Sudah, kita dapat urutan besok,” jawab Cathleen.


“Oh ... jika tahu seperti itu, lebih baik aku tidur di kamar daripada menunggu di sini dan duduk terus yg membuat badanku jadi pegal,” gerutu Alceena seraya memegang punggung yang sudah tak bersahabat karena selama lebih dari enam jam hanya berdiam diri di sana.


“Aku sudah mengirim pesan padamu, memangnya kau tak membaca?” Cathleen yang melihat Alceena seperti menahan sakit pun ikut mengusap pinggang kembarannya.


“Tidak, sejak pagi aku tak memegang ponsel.” Alceena beranjak berdiri, sudah tak kuat berdiam di tempat duduk saja. “Aku kembali ke kamar dulu, ya? Ingin merebahkan tubuh, sakit sekali pinggangku,” pamitnya.


“Mau ku antar?” tawar Cathleen.


“Tidak, kau di sini saja, fokus ke acaranya.” Alceena mengelus lengan Cathleen sebelum mengayunkan kaki meninggalkan ballroom.


Alceena berjalan kembali ke kamarnya, sedangkan Cathleen fokus ke depan. Sudah tak memperhatikan Dariush lagi. Sehingga dia tak mengetahui jika anak Tuan Dominique yang kedua juga ikut meninggalkan ballroom saat menyaksikan sang wanita pergi dari ruangan berukuran besar itu.


Alceena pun segera membukakan pintu. Dia belum sempat berganti pakaian karena baru saja masuk. “Ada apa?”


Dariush tak langsung menjawab, justru sedikit mendorong tubuh Alceena untuk masuk ke dalam bersama. Dia segera menutup pintu. “Aku ingin menagih janji, kita sudah sepakat untuk tidur bersama malam ini.”


“Oh ...,” balas Alceena dengan santai. Dia memutar tubuh dan mengayunkan kaki mendekati kopernya, mengambil baju ganti untuk istirahat.


Dariush pun mengikuti Alceena, berdiri di belakang sang wanita yang sedang memilah pakaian. Dan tiba-tiba tangannya langsung memeluk dari belakang seraya mengelus perut yang terisi anaknya. “Apa kau merasakan sakit lagi? Tadi ku lihat jalanmu sedikit tak nyaman.” Dia bertanya dengan suara berbisik.


“Tadi pinggangku yang sakit, mungkin karna terlalu lama duduk,” jelas Alceena tanpa menutupi sedikit pun.


Tangan Dariush sebelah kiri langsung berpindah mengusap pinggang Alceena, sedangkan yang kanan tetap setia di perut. “Apa kau nyaman jika ku usap seperti ini?”


Kepala Alceena mengangguk. “Lebih nyaman lagi jika aku rebahan.” Dia melepaskan tangan Dariush, ingin mengganti pakaian dengan yang lebih santai.


Karena malas ke dalam kamar mandi untuk berganti, Alceena memilih menanggalkan dress di depan Dariush.


...*****...


...Mereka nikahnya masih lama, jadi jangan ditungguin kapan mereka nikah, mendingan nungguin kapan mereka kawin wkwkwk. Orang barat ga butuh nikah dulu buat hidup bersama dan merem melek....


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...