
Kendaraan Dariush berhenti tepat di depan pintu masuk Stockman Department Store. Pria itu melepaskan sabuk pengaman milik sang wanita dan mengusap puncak kepala Alceena sebelum orang yang duduk di sampingnya itu turun.
“Besok saat kau datang ke lokasi pesta, langsung naik ke arah tangga yang hanya boleh dimasuki oleh penyelenggara saja. Aku akan menunggumu di salah satu kamar yang ada di sana,” titah Dariush. Dia sudah tahu kalau Alceena akan menemani Cathleen datang ke acara, pria itu juga tak melarang. Sebab, seluruh keluarganya juga akan hadir. Lebih tepatnya hanya memantau dari lantai atas yang tak boleh dipijak oleh sembarang orang.
“Iya, Sayang,” balas Alceena seraya mengusap rahang tegas Dariush. “Jangan rindu, ya, nanti malam aku harus menemani Cathleen, dan besok pagi akan membantu dia berdandan,” godanya dengan mengedipkan sebelah mata.
“Kau tak cocok menggodaku seperti itu.” Dariush menarik hidung sang kekasih, lalu melayangkan kecupan di bibir. “Sudah sana turun, jangan lupa belanja yang banyak.”
Mendengar perintah untuk berbelanja, Alceena tentu saja langsung mengulas senyum. “Pakai kartumu, ya?” Dia menaik turunkan alis dan menengadahkan tangan ke hadapan Dariush.
“Waktu itu mau ku beri kartu kredit tapi kau tolak, sekarang minta,” ejek Dariush. Walaupun begitu, dia tetap mengeluarkan dompet dan memberikan apa yang diminta sang kekasih. “Boleh beli apa saja, asalkan sesuai kebutuhan dan pasti dipakai.” Sebelum uangnya dihabiskan oleh Alceena, dia memberikan nasihat terlebih dahulu agar uangnya tak terbuang secara cuma-cuma untuk barang yang tidak terlalu penting.
“Jangan mengomel terus, nanti membuatku pusing,” ucap Alceena seraya mencubit bibir Dariush hingga menjadi seperti mulut bebek.
“Terima kasih kartunya, Sayang, jangan terkejut kalau tagihan tiba-tiba melonjak,” kelakar Alceena sebelum akhirnya dia melambaikan tangan dan turun dari mobil.
Sepasang kekasih itu pun terpisah, Dariush melajukan mobil lagi setelah memastikan Alceena masuk ke dalam Stockman Department Store. Dia akan mengecek persiapan di lokasi acara.
Sedangkan Alceena, wanita itu langsung bertemu dengan Cathleen yang sudah menunggu di lobby. Dia mengulurkan tangan agar kembarannya menggandeng.
Cathleen yang paham dengan keinginan Alceena pun segera melingkarkan tangan di lengan saudaranya tersebut. “Pilihkan aku gaun yang bagus, agar besok menjadi pusat perhatian orang-orang di pesta,” pintanya dengan wajah yang berbinar.
“Let’s go!” Alceena tentu saja sangat bersemangat untuk membuat Cathleen mengeluarkan aura kecantikan yang selama ini terpendam.
Dari pesta itu, Alceena mengharapkan kembarannya mendapatkan seorang kekasih. Setidaknya akan membuatnya lega dan berani berkata jujur pada saudaranya, kalau saat ini sudah menjalin asmara dengan Dariush, dan dia akan mengakui kalau sudah menjilat ludah sendiri serta mengingkari janji.
...........
Pada waktu yang sama, di sebuah apartemen yang tergolong mewah, Geraldine sedang mencoba membujuk Gerald agar mau datang ke pesta lajang. Ini sudah usahanya yang keenam kali. Setiap hari dia terus meneror kembarannya.
“Ayolah, Ge, temani aku ke sana,” mohon Geraldine. Dia mencoba mengganggu fokus kembarannya agar tak ke game yang ada di layar komputer terus.
“Yang ingin datang ‘kan kau, bukan aku,” balas Gerald dengan suara datar dan wajahnya yang mulai tak suka karena diusik. Dia menyingkirkan tangan Geraldine agar menjauh dari keyboardnya.
...*****...
...Si Dariush dah kaya supir taksi aja, kerjaannya nganterin Alceena terus wkwkwk...
...Ini lagi, si Gerald mau dikasih jodoh di pesta lajang malah nolak terus. Bilang aja kalo kamu tuh nungguin aku buat dateng bujukin kan?...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...